oleh Li Yun

Apakah krisis pangan sudah terjadi di daratan Tiongkok dengan indikasinya berupa naiknya harga biji-bijian, seperti padi, gandum, jagung yang menjadi makanan pokok selama 3 kuartal pertama tahun ini ? Pada saat yang sama, beberapa provinsi utama penghasil biji-bijian telah mengeluarkan pengumuman secara on-line tentang kenaikan harga beras, hal mana memperdalam kekhawatiran dunia luar terhadap krisis pangan di daratan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia. Program Pangan Dunia (FAO) sebelumnya telah memperingatkan bahwa sebanyak 265 juta orang di dunia berpotensi menghadapi kekurangan pangan pada tahun ini

Pada 30 Oktober 2020, pengguna Twitter memposting sebuah berita yang berisikan pengumuman kenaikan harga beras oleh sejumlah perusahaan di Kota Foshan dan Kota Zhaoqing di Provinsi Guangdong, Tiongkok. 

Diantaranya, Foshan Gaomingsen Guangyuan Rice Industry Co., Ltd. dan Meixin Rice Industry, di Kota Zhaoqing, masing-masing menaikkan harga beras produksi mereka sebesar 0,1 yuan per kati. Sedangkan harga beras produksi Pabrik Pengolahan Sereal ‘Jiale’ di Huodao County, Kota Zhaoqing naik sebanyak 0,2 per kati. Foshan Daojin Fragrant Rice Industry Co., Ltd, mengatakan bahwa harga beras sewaktu-waktu bisa naik, dan akan menerapkan model kuotasi sebagai harga jual.

Alasan kenaikan harga yang diajukan oleh berbagai perusahaan, tidak jauh berbeda yakni karena naiknya harga biji-bijian mentah. Bahkan, pabrik Pengolahan Sereal ‘Jiale’ menyatakan bahwa sulit untuk memperoleh bahan baku biji-bijian mentah itu.

Pada saat yang sama, juga dilaporkan bahwa perusahaan penggilingan biji-bijian dan produksi minyak yang berada di provinsi-provinsi penghasil biji-bijian seperti Hubei, Hunan dan Jiangxi juga mengumumkan kenaikan tajam harga produksi mereka.

Menurut informasi yang diposting netizen lewat Twitter, bahwa ada dua perusahaan di Hubei yang dalam pengumumannya menyebutkan bahwa harga pembelian akan dihitung berdasarkan kuotasi yang ditetapkan pihak berwenang pada hari itu. Sedangkan Industri Beras Yiyang Wuzhou, juga meminta agar harga pembelian gabah ditetapkan dengan satu harga dalam satu kendaraan pengiriman. Hal ini mencerminkan ketidakstabilan harga gabah.

Dalam pemberitahuan kepada pelanggan yang dikeluarkan oleh perusahaan penjualan bahan pokok makanan disebutkan : Sehubungan terjadinya bencana alam dan wabah COVID-19, juga hujan selama 2 bulan berturut-turut dan banjir di sejumlah daerah penghasil biji-bijian utama, sehingga berdampak parah pada panen. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, produksi beras tahun ini telah turun sekitar 30%. Pemberitahuan juga menyebutkan bahwa diperkirakan harga beras bisa naik sampai RMB. 200 – 500 per ton.

Headline keuangan Sina.com juga melaporkan, bahwa harga jagung telah naik sebanyak 30% tahun ini, mendekati rekor harga tertinggi dalam sejarah. Pada 19 Oktober, harga jagung domestik rata-rata adalah RMB. 2.387,- / ton, naik 5,74% dari bulan sebelumnya dan 31,36% dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu.

Laporan itu mengatakan bahwa celah pada kebutuhan atas jagung adalah yang paling besar. Menurut statistik, kekurangan saat ini mencapai 28 juta ton. Ditambah lagi dengan keengganan petani untuk menjual, dan pedagang biji-bijian serta perusahaan pengolahan yang berlomba-lomba mencari untung dan faktor lainnya, menyebabkan harga jagung naik tinggi.

Selain itu, karena keruntuhan besar-besaran pada tanaman jagung di wilayah timur laut yang dipengaruhi oleh topan sebelum panen baru-baru ini, pasar memiliki ekspektasi yang kuat akan penurunan produksi jagung, juga menjadi alasan yang mendorong naiknya harga jagung. Terdorong oleh kenaikan harga Jagung, maka harga pakan juga ikut naik. Tahun ini saja, harga pakan telah mengalami tujuh kali kenaikan.

Beberapa analis mengatakan bahwa harga pangan adalah dasar dari semua harga. Kenaikan harga pangan akan mendorong putaran inflasi yang baru, dan begitu inflasi menjadi tak terkendalikan maka akan mengguncang semua fondasi.

Pimpinan tertinggi Partai Komunis Tiongkok telah berkali-kali menyebut keamanan pangan. Pada 11 Agustus lalu, Xi Jinping menghimbau masyarakat Tiongkok untuk menghentikan pemborosan makanan. Pada saat yang sama, direktur Departemen Cadangan Biji-bijian Tiongkok, Pusat Koordinasi Perdagangan Biji-bijian dan lembaga terkait lainnya, telah sering melakukan pertemuan, termasuk media resmi juga menuntut agar ketahanan pangan mendapat perhatian serius, menyerukan kepada masyarakat agar menghemat makanan dan menjaga kesadaran krisis.

Pada 13 Agustus, Kantor Informasi Dewan Negara Tiongkok mengadakan konferensi pers. Ketika itu seorang wartawan menanyakan soal ketahanan pangan. Data yang diperoleh adalah berupa banjir tahun ini menyebabkan 6.032,6 ribu hektar tanaman rusak, 1140,8 ribu hektar diantaranya sama sekali gagal panen.

Pada akhir bulan September 2020, Sichuan yang merupakan provinsi utama dalam hal produksi dan konsumsi padi mengeluarkan peraturan yang memperkuat ketentuan, agar rakyat dapat menyimpan sendiri bahan pangan. Mendorong pengusaha katering dan kantin untuk menyimpan dalam jumlah tertentu biji-bijian yang dibutuhkan. Berita tersebut sempat membuat rakyat panik, berebut untuk menyetok bahan pangan karena takut akan kelaparan hebat datang kembali !

Media corong Partai Komunis Tiongkok menerbitkan sebuah artikel yang ditulis oleh Zhou Li, mantan wakil menteri International Liaison Department Komite Sentral PKT yang isinya antara lain, mengingatkan agar semua pihak bersiap-siap menghadapi pecahnya krisis pangan global. Pada saat yang sama, PKT meminta para petani di seluruh negeri untuk membantu negara dalam menjaga ketahanan pangan. Hal mana juga menunjukkan bahwa krisis pangan sudah di depan mata.

Program Pangan Dunia (FAO) pada bulan Maret tahun ini telah memperingatkan bahwa diperkirakan sebanyak 265 juta orang di dunia akan menghadapi kekurangan pangan tahun ini. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular