Eva Fu

Kota terpadat di Tiongkok telah meningkatkan langkah-langkah pengendalian virus untuk meyakinkan masyarakat mengenai penyebaran COVID-19 yang terbatas, klaim yang bertentangan berasal dari pengakuan penduduk setempat.

Shanghai, pusat keuangan global yang terletak di pantai timur Tiongkok, melaporkan hanya ada tiga kasus infeksi virus domestik sejak pertengahan bulan Maret, menghubungkan hampir semua gejolak baru-baru ini terhadap kasus-kasus yang “diimpor” dari luar negeri.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan The Epoch Times, penduduk setempat dari kota metropolitan tersebut mengekspresikan skeptisisme terhadap narasi pemerintah, yang menggambarkan tingkat intensif yang semakin waspada mengingatkan hari-hari awal saat virus pertama kali merebak di Tiongkok.

Pemeriksaan suhu tubuh dan pemakaian masker, yang sempat terhenti beberapa saat, telah kembali diberlakukan— bersama dengan aplikasi kode kesehatan, program digital tingkat-tiga  yang menandai kesehatan orang dalam warna hijau, kuning, dan merah, yang dulu pernah diberlakukan di mana-mana di seluruh Tiongkok. 

Waktu gerakan seperti itu, pada saat kapan daerah lain seperti Xinjiang dan Qingdao, tengah bergulat dengan cluster virus yang baru, telah meningkatkan kecemasan masyarakat. 

Di Distrik Perumahan Huamu di daerah kota Pudong, para penduduk mengatakan bahwa ,para pejabat telah meremehkan jumlah kasus virus serta tindakan karantina yang diberlakukan pada beberapa orang di lingkungan itu.

Sebelumnya, diskusi online muncul yang menunjukkan bahwa jumlah sebanyak lima kasus infeksi setempat yang dipastikan, mengakibatkan puluhan tetangga dimasukkan dalam karantina.

Pejabat Pudong, dalam postingan larut malam pada tanggal 26 Oktober, menolak informasi tersebut sebagai “desas-desus,” mengatakan mereka hanya menemukan satu pasien di daerah Pudong, yang menjadi sakit selama karantina dan tidak menginfeksi orang lain. Postingan selanjutnya menyatakan bahwa kontak pasien telah diuji negatif.

Sengketa klaim pihak berwenang, kata seorang penduduk dari lingkungan Huamu bahwa “banyak orang telah dikarantina.”

Warga berkata : “Apa yang dikatakan [pihak berwenang] bahwa sudah tidak ada virus itu adalah salah.” Hal demikian disampaikannya di sebuah wawancara, menambahkan bahwa aturan virus yang lebih ketat telah muncul dalam semalam dalam dirinya di daerah perumahan.

Pemberitahuan darurat di Shanghai tertanggal 24 Oktober untuk mengintensifkan langkah-langkah pengendalian wabah. (Diberikan ke The Epoch Times)

Penduduk lain ingat seorang petugas komite lingkungan mengatakan, itu semua panitia terdekat telah menerima instruksi untuk “memeriksa dengan seksama seperti pada tahap awal wabah.”

“Virusnya masih ada dan mengintai. Siapa yang tahu siapa yang mungkin selanjutnya akan terinfeksi,” kata warga. 

Bagian lain Shanghai juga menunjukkan tanda-tanda pengetatan pengendalian virus. Sekitar seminggu yang lalu, staf keamanan di Rumah Sakit Shanghai Jing’an Shibei menolak dua orang lanjut usia karena tidak memiliki aplikasi kode kesehatan. 

Sementara suhu tubuh mereka normal, keduanya tidak memiliki telepon pintar dan tidak cukup paham teknologi untuk menggunakan kode untuk membuktikan status kesehatannya, ujar seorang saksi mengatakan kepada The Epoch Times.

Di lobi rumah sakit, relawan dan petugas keamanan berteriak melalui pengeras suara agar semua orang “berdiri dalam satu baris dengan jarak satu meter. Para dokter “bersenjata lengkap”, dilengkapi dengan kacamata dan baju hazmat yang tidak terlihat belakangan ini. Warga menambahkan bahwa peralatan yang ditingkatkan mungkin karena wabah yang memburuk.

Bus telah memasang termometer inframerah dan menolak siapa pun yang “tidak memenuhi syarat” untuk naik.

Pemberitahuan darurat yang dibagikan dengan The Epoch Times oleh penduduk setempat menunjukkan, bahwa sebuah  perusahaan pengelola utilitas diberitahu untuk menutup semua pintu masuk ke perumahan lingkungan di bawah pengawasan mereka, kecuali untuk pintu masuk utama. Juga memerintahkan penyaringan peserta yang ditingkatkan.

Foto lain yang diberikan ke outlet ini menunjukkan seorang satpam berdiri di sebelah sopir bus untuk menegakkan peraturan virus, sementara sukarelawan berbaju merah seragam dan topi bergegas di taman umum memeriksa orang-orang suhu.

“Shanghai telah memasuki mode masa perang, pengemudi memiliki penjaga sebagai pendamping dan pengunjung taman memiliki penjaga merah,” kata satu orang dalam sebuah wawancara.

Pihak berwenang komunis Tiongkok cenderung menindas pemberitaan negatif tersebut yang dapat mempengaruhi citra nasionalnya, terutama selama waktu sekitar  acara dan peringatan penting.

Shanghai dijadwalkan menjadi tuan rumah Pameran Impor Internasional Tiongkok tahunan pada tanggal 5 November, sebuah kesempatan yang menarik 917.200 pengunjung secara internasional pada tahun 2019, menurut media Tiongkok. Pihak berwenang telah berjanji untuk membuatnya sukses meskipun terkena virus dan baru-baru ini mengundang pejabat dunia untuk hadir.

Pada acara tahun 2020 menampilkan wawancara Vitaly Mankevich, presiden Persatuan Industrialis dan Pengusaha Rusia-Asia, yang mengklaim kepada media pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa expo tersebut adalah kesaksian bahwa  tindakan pengendalian wabah pemerintah “Tiongkok  adalah sangat efektif.” (Vv)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular