China Insider – Epoch Video

Laporan keuangan Q3 dari lima bank terbesar milik negara di Tiongkok, menunjukkan bahwa keuntungan mereka merosot dan kredit macet meningkat. Para analis percaya bahwa sejak Tiongkok berada di tengah-tengah kemerosotan ekonomi, maka  kredit macet bank-bank utama ini tidak dapat dipulihkan, dan peningkatan kredit macet akan cenderung memicu krisis keuangan.

Kelima bank besar merilis laporan keuangan Q3 mereka pada tanggal 30 Oktober. Laba bersih menurun tajam, sementara kredit macet terus meningkat. Laba bersih Bank Komunikasi dalam tiga kuartal pertama turun sebesar 12,36% tahun-ke-tahun, dan rasio kredit bermasalah adalah 1,67%, terjadi  peningkatan sebesar 0,2 poin persentase dari akhir tahun 2019. Laba bersih Bank of China turun sebesar 8,7% tahun ke tahun. Total aset Bank of China mengalami kerugian sebesar usd 14,9 miliar, 60% lebih banyak dari kerugian aset tahun lalu. Total kewajiban meningkat 8,68% dari akhir tahun lalu menjadi usd 3,4 triliun. 

Rasio kredit bermasalah adalah 1,48%, meningkat 0,11 poin persentase dari akhir tahun 2019. 

Laba bersih ICBC dalam tiga kuartal pertama turun sebesar 8,91% tahun-ke-tahun, dan rasio pinjaman non-kinerja ICBC adalah 1,55%; laba bersih Bank Pertanian dalam tiga kuartal pertama turun sebesar 8,7% tahun-ke-tahun, dan rasio kredit bermasalah adalah sebesar 1,52%, meningkat 0,12 persen dari akhir tahun sebelumnya.

Adapun, Laba bersih China Construction Bank untuk tiga kuartal pertama juga turun sebesar 8,66%, dan rasio kredit macet adalah 1,53%, meningkat 0,11 poin persentase dari tahun lalu.

Yu Weixiong, ekonom di UCLA Anderson School of Manajemen menilai: “Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Tiongkok  sangat bergantung pada penerbitan pinjaman tidak terbatas, tetapi keuntungan yang dihasilkan dari pinjaman ini semakin menurunn. Akibatnya, keuntungan bagi lima bank terbesar milik negara  di Tiongkok adalah berkurang. 

Yu Weixiong mengatakan, saat pihak berwenang Tiongkok melaporkan bahwa keuntungan bank-bank ini terus memburuk, itu berarti pihak berwenang tidak ingin memaparkan masalah keuangan sekaligus, dan mereka ingin masyarakat secara bertahap dan secara perlahan menerima situasi tersebut.”

Media pemerintah partai Komunis Tiongkok juga mengungkapkan, bahwa pada paruh pertama tahun ini setidaknya 1.300 cabang bank-bank ditutup dan pemutusan hubungan kerja oleh lima bank milik negara tersebut seluruhnya adalah 26.000 karyawan.

Frank Xie, profesor bisnis di University of South Carolina-Aiken mengungkapkan, “Bank milik pemerintah rezim Komunis Tiongkok adalah industri yang mengambil untung. Selama bertahun-tahun, keuntungan Bank milik pemerintah rezim Komunis Tiongkok sangat, sangat tinggi, lebih tinggi dari rekan mereka di negara lain. Ini karena bank milik pemerintah rezim Komunis Tiongkok bukanlah bank biasa, bank milik pemerintah rezim Komunis Tiongkok adalah bank monopoli milik negara. 

Frank Xie menjelaskan, tetapi kini bank milik pemerintah rezim Komunis Tiongkok juga mengalami kerugian besar, indikasi bahwa sebagian besar pinjamannya mereka tidak dapat dikembalikan, dan terlalu banyak kredit macet akan menyebabkan defisit. 

Bagi Frank Xie, Situasi ini terungkap dari sudut lain seberapa parah resesi ekonomi Tiongkok. Ini adalah sinyal yang sangat kritis, dan hal yang sangat berbahaya. Ini terkait dengan penurunan keseluruhan ekonomi orang Tiongkok.”

Selain itu, di antara 36 bank terdaftar saham-A Tiongkok, 21 bank mengalami penurunan laba bersih dalam tiga kuartal pertama, dan harga saham dari 26 bank jatuh di bawah nilai aset bersihnya. Ada juga 14 bank komersial kota. Di antaranya, 12 bank mengalami penurunan pertumbuhan laba bersih tahun-ke-tahun di tiga kuartal pertama.

Tiongkok memiliki sejumlah besar bank tidak terdaftar, sekitar 100 bank di antaranya merilis laporan keuangan Q3 mereka. Hampir 75% bank melaporkan kerugian, dan 31 bank memiliki penurunan laba bersih melebihi 10% tahun-ke-tahun.

Frank Xie memaparkan, banyak perusahaan Tiongkok yang berorientasi ekspor bangkrut atau ditutup. Berorientasi domestik lainnya, yang disebut ‘perusahaan sirkulasi batin, juga menghadapi masalah keuntungan yang tidak memadai. Pinjaman yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan ini dan industri real estate, semuanya diperoleh dari sistem perbankan tersebut. Ketika perusahaan ini bangkrut, pinjaman bank pasti akan gagal dibayar, dan laba bank pasti akan turun.”

Frank Xie, seorang profesor bisnis di University of South Carolina-Aiken, percaya bahwa meskipun bank-bank milik negara dan perusahaan Tiongkok tersebut menderita kerugian dalam beberapa tahun terakhir, pejabat komunis Tiongkok telah menghasilkan banyak uang untuk dirinya sendiri.

Frank Xie berkata :  “Partai Komunis Tiongkok pasti akan mengusahakan segala cara yang mungkin untuk mencegah bank BUMN dan BUMN dari pailit, karena bank BUMN dan BUMN adalah milik negara. Jadi Bank Sentral Tiongkok  terus mencetak uang untuk membantu bank-bank ini bertahan. Faktanya, saat “Partai Komunis Tiongkok terus mencetak uang, kerugian ditransfer ke warganegara Tiongkok yang biasa. Hanya saja warga menderita kerugian secara tidak langsung, dan adalah tidak mudah bagi warga tersebut untuk melihatnya melalui efek kausal di permukaan.”

Pada tanggal 16 Agustus, Guo Shuqing, Ketua Komisi Pengaturan Perbankan dan Asuransi Tiongkok, mengakui dalam sebuah artikel di majalah Qiushi bahwa nilai buku saat ini dari keuntungan yang diharapkan bank-bank, sebagian besar meningkat karena aset buruk secara bertahap akan muncul dan utang buruk dapat terus meningkat.

Pada awal bulan September, CNBC mengutip laporan yang dikeluarkan oleh Fitch Ratings, yang menyatakan bahwa, pada paruh pertama tahun ini, laba bersih bank-bank  Tiongkok turun 9,4% menjadi sekitar 1 triliun yuan, dibandingkan dengan paruh pertama tahun 2019.

Fitch Ratings memperingatkan bahwa, masih banyak tantangan dan tekanan pada profitabilitas bank-bank Tiongkok dapat bertahan hingga tahun depan. (Vv)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular