oleh Chen Han, Li Yun dan Shu Can

Penyembunyian fakta tentang epidemi virus komunis Tiongkok -COVID-19- atau pneumonia Wuhan) telah menyebabkan virus tersebut mewabah ke seluruh dunia. Laporan pihak berwenang Shandong, Tiongkok menyebutkan bahwa, akibat mantan Wakil Direktur Administrasi Penjara Wang Wenjie beserta kelima orang lainnya mengabaikan tugas selama bulan Februari COVID-19 mengganas. Sehingga menyebabkan 207 orang tertular dan virus menyebar luas. Tetapi beberapa orang dalam mengatakan bahwa ini hanyalah bagian informasi internal dari blokade ketat yang diterapkan oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap berita sejak awal COVID-19 mewabah

Belum lama ini, Mantan sekretaris partai merangkap kepala Penjara ‘Rencheng’ Liu Baoshan dan Wang Wenjie, wakil kepala Penjara ‘Rencheng’ Deng Tihe dan lainnya mengabaikan tugas mereka. Sehingga mereka terpaksa berurusan dengan pengadilan.

Menurut kasus, ditemukan banyak kelalaian yang dibuat Wang Wenjie dalam melaksanakan tugasnya di rumah sakit penjara. Ia tidak memeriksa lebih teliti terhadap kasus demam yang terjadi dalam penjara, penanganan yang tidak tepat menimbulkan penyebaran epidemi di Penjara ‘Rencheng’. Atas kesalahannya itu ia dituntut pertanggungjawabannya di pengadilan.

Liu Baoshan dan Deng Tihe, pengemudi Penjara ‘Rencheng’ Dai Guanghui, dan mantan instruktur Chen Minhua, juga diseret ke pengadilan atas kejahatan kelalaian dalam bertugas dan disalahkan karena menghalangi pencegahan, pengobatan penyakit menular. Kelima orang terdakwa tersebut semuanya mengaku bersalah dan bertobat. Dan, keputusan hukuman akan ditetapkan pada sidang berikutnya.

Menurut laporan, setidaknya 207 orang sipir dan narapidana di Penjara ‘Rencheng’ terinfeksi virus komunis Tiongkok pada bulan Februari, dan bahkan ada sipir yang tetap bekerja meski sudah tertular. Setelah itu, 11 orang petugas penjara diperiksa. Keenam orang diantaranya juga telah diajukan ke pengadilan.

Mantan Polisi Kota Dalian Liu Xiaobin mengatakan bahwa kesebelas orang ini dituduh mengabaikan tugas, sehingga membuat virus menyebar lebih luas. Tetapi pada awal epidemi, pihak berwenanglah yang memblokir berita terkait epidemi, secara keliru mengklaim bahwa epidemi dapat dicegah dan dikendalikan. Bahkan, pihak berwenang menangkap dokter maupun netizen yang mengungkapkan epidemi tersebut. Sekarang kesebelas orang ini yang kena getahnya.

“Saya percaya bahwa di Jinan, Shandong atau seluruh penjara di Shandong, sebelum 23 Januari, termasuk di bulan Desember tahun lalu dan Januari tahun ini, juga berada dalam keadaan seperti itu (virus dapat dicegah dan dikendalikan). Karena itulah mungkin mereka tidak melaporkannya pada saat itu. Apalagi ada perintah bahwa semua kasus seperti itu tidak boleh dilaporkan”, kata Liu Xiaobin.

Epidemi virus komunis Tiongkok mulai menyebar dari Kota Wuhan pada akhir tahun 2019. Baru pada 20 Januari tahun ini, pemerintah komunis Tiongkok mengenali penularan dari manusia ke manusia. 

Liu Xiaobin mengatakan bahwa setelah menginstruksikan pemblokiran total Kota Wuhan pada 23 Januari, pihak berwenang memiliki peraturan baru yang mengharuskan warga yang dikonfirmasi terinfeksi virus COVID-19 wajib dilaporkan secara jujur kepada pihak berwenang. Kesebelasan orang pejabat penjara ini dituduh bersalah karena tidak melaporkannya tepat waktu.

Dijelaskan oleh Liu Xiaobin, mengapa mereka tidak melaporkan dengan jujur ​​sesuai dengan persyaratan yang ada ? Ia pikir mungkin ada banyak faktor, karena ada pertimbangan lain di pihak pengelola penjara. Misalkan, memperhitungkan soal kerugiannya jika melapor, karena pada dasarnya para napi dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang dijual. Produksi terpaksa harus dihentikan bila mereka melapor. Bukankah ini dapat berpengaruh terhadap kepentingan grup mereka ?

Liu Xiaobin berkata, tentu saja pihak pengelola penjara juga memiliki pertimbangan lain. Takut melapor dapat terkena demosi jabatan, kehilangan kesempatan memperoleh bonus dan sebagainya.

Menurut berita yang dikeluarkan oleh pejabat Kementerian Kehakiman Tiongkok pada 20 Februari, bahwa hingga hari itu, setidaknya 500 orang di 5 penjara yang tersebar di Hubei, Zhejiang, dan Shandong telah terinfeksi virus komunis Tiongkok. Akan tetapi, sumber yang mana orang dalam mengungkapkan, bahwa jumlah orang terinfeksi dalam lingkungan penjara yang diumumkan oleh pihak berwenang sangat kecil. Padahal situasi epidemi sudah sangat serius, tetapi pihak berwenang sengaja menutup-nutupinya. (sin)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular