Erabaru.net. Kisah Monster Bawah Laut. Ini sudah menjadi legenda di kalangan masyarakat. Apakah makhluk tersebut memang pernah ada dalam sejarah? Kita akan membahas lebih jauh tentang apa yang Ada di Dasar Laut.

Kasus yang belum terpecahkan

Kisah hari ini dimulai dengan kasus yang menggantung 17 tahun silam. Pada November 2003, para peneliti di pantai barat daya Australia menangkap seekor hiu putih besar betina sepanjang tiga meter. Mereka memasang perangkat sensor pada sirip punggung hiu putih besar untuk mengumpulkan data tentang suhu laut, kedalaman, dan migrasi hiu putih besar itu. Namun percobaan sederhana ini menjadi aneh empat bulan kemudian. 

Pada hari itu, data sensor tiba-tiba menunjukkan hiu putih besar menukik/menyelam dari 250 meter ke 580 meter, dan data juga menunjukkan suhu lingkungan tiba-tiba meningkat dari 8 derajat Celcius menjadi 26 derajat Celcius, tak lama kemudian para ilmuwan menemukan perangkat penginderaan di atas pantai yang berjarak puluhan kilometer, sedangkan hiu putih besar itu telah lenyap entah kemana.

Setelah kejadian itu, sebuah rumor aneh menyebar di lingkungan masyarakat. Mereka mengatakan, jika ada analisis data yang rasional, maka hanya ada satu kemungkinan bahwa yang terjadi pada hari itu adalah hiu putih besar sepanjang tiga meter yang sedang berenang 250 meter di bawah laut itu tiba-tiba diserang oleh predator misterius. 

Sang predator ini menelan hiu putih besar dalam satu terkaman, lalu menyelam kembali sedalam 580 meter ke dasar laut tempat tinggalnya. Dalam beberapa hari berikutnya, hiu putih besar itu dicerna di perut predator misterius itu dan sensor anti korosi dikeluarkan oleh pemangsa tersebut dan hanyut ke pantai.

Dalam konsep yang kita ketahui, hiu putih besar sepanjang tiga meter adalah predator teratas di lautan, tetapi studi data menunjukkan ia telah ditelan oleh sesuatu. Kemudian pada tahun 2014, seorang sutradara film dokumenter bernama David Riggs yang mendengar cerita ini, yang mana berasal dari peneliti saat syuting film dokumenter tersebut, langsung tertarik. Ia terus bertanya monster seperti apa itu, yang mana mampu menelan hiu putih besar sepanjang tiga meter dalam satu gigitan. 

Para peneliti mengatakan bahwa, hanya ada kemungkinan hiu itu ditelan oleh hiu putih besar lainnya yang lebih besar. Pengetahuan kita tentang lautan masih terlalu dangkal, termasuk pengetahuan kita tentang hiu. Sutradara bertanya lebih lanjut apakah pemangsa itu adalah Megalodon prasejarah yang legendaris itu ? Peneliti hanya tersenyum diam mendengarnya.

Kasus menggantung lainnya

Berikutnya adalah kasus lain yang belum terpecahkan. . . Waktunya kembali ke 6 tahun yang lalu. Pada 10 Mei 2014, robot kapal selam AS Nereus sedang beroperasi di laut dalam. Kapal selam Nereus senilai 8 juta dolar AS ini merupakan kristalisasi teknologi manusia dari Woods Hole Oceanographic Institution Amerika Serikat. 

Sore itu, di Palung Kermadec di timur laut Selandia Baru, Nereus menyelam hingga 9900 meter di bawah laut, ini merupakan palung terdalam kedua di dunia. Robot kapal selam Nereus terus menyelam hingga kedalaman 9.977 meter, dan ketika menjulurkan lengan robotiknya untuk mengumpulkan teripang di dasar laut, kamera video tiba-tiba bergetar hebat kemudian menjadi gelap gulita, dan kehilangan kontak dengan robot kapal selam Nereus.

Pada tahun 2009, Nereus pernah menyelam ke tempat terdalam di dunia, yaitu Kedalaman Challenger di palung  Mariana, dan mencatat rekor penyelaman terdalam sekitar 11.000 meter. 

Saat itu, Nereus berada di bawah 1.000 kali tekanan atmosfer dan mondar-mandir di atas Kedalaman Challenger selama lebih dari 10 jam. Ilmuwan sangat yakin bahwa kedalaman 9900 meter kali ini akan mudah bagi robot kapal selam Nereus dan tidak akan terjadi apa-apa. Jika benar-benar hilang selama 30 menit, Nereus secara otomatis akan muncul ke permukaan, tetapi 30 menit telah berlalu, lalu tiga jam juga telah berlalu, para ilmuwan mulai cemas, jangan-jangan kristalisasi teknologi manusia ini hilang dengan sendirinya?

 Sepuluh jam telah berlalu, kemudian 20 jam juga telah berlalu. Para ilmuwan mulai mencari Nereus dengan cemas, karena mereka memperkirakan robot kapal selam Nereus seharusnya sudah muncul secara otomatis pada saat itu. Namun para ilmuwan melihat beberapa pecahan plastik di laut, dan dengan kecewa mereka menyadari itu adalah pecahan robot Nereus, bukan hilang tetapi meledak.

Kenapa bisa begitu ? Nereus dapat bekerja dengan aman selama lebih dari 10 jam sedalam 11.000 meter di dasar laut, lalu mengapa kali ini meledak pada kedalaman 9.900 meter? Para ilmuwan diam tak berkutik, hanya mengatakan Nereus meledak ke dalam, tetapi sepenggal postingan anonim di dunia maya mengatakan bahwa sebab terjadinya ledakan ke dalam itu karena Nereus digigit oleh sesuatu. Lalu monster seperti apa yang bisa menggigit dan meledakkan Nereus di dasar laut sedalam 9.900 meter? Mungkin makhluk tak dikenal di laut dalam jauh di luar imajinasi kita.

Legenda urban

Waktu kembali ke 21 Januari 2009. . . seorang ayah dan anaknya memfilmkan sepenggal legenda urban di pantai Hawaii. Kamera menunjukkan anak laki-laki yang sedang memancing di perahu nelayan bertanya pada ayahnya apa itu …? Kemudian sang ayah memperbesar lensa kamera, itu adalah bangkai ikan paus besar yang terdampar di pantai. Seluruh tubuh bagian bawah telah hilang, seolah-olah telah digigit oleh sesuatu. Rekaman videonya dengan cepat menyebar luas di Internet, dan menjadi legenda urban. Megalodon prasejarah tidak punah, mereka masih hidup di laut dalam hingga kini, dan hanya mereka yang bisa menggigit hiu sebesar itu.

Discovery Channel Amerika dan The Guardian Inggris, pernah membahas legenda urban ini dengan serius. Jawaban yang didapat media dari para ilmuwan juga sangat sedikit. Mungkin bisa disimpulkan seperti ini : Pertama, Megalodon memang pernah eksis, dan hidup pada sekitar 23 juta tahun silam.

Kedua, fosil gigi Megalodon pernah ditemukan di seluruh dunia, jika fosil-fosil ini dibentuk kembali ke tubuh hiu putih besar, diperkirakan panjang megalodon mungkin 30 meter dan berat lebih dari 100 ton, dan daya gigitnya merupakan yang paling kuat dari hewan zaman kuno hingga modern, yakni 35 ton, setara dengan 10 kali lipat dari Tyrannosaurus Rex.

Ketiga, adanya bukti fosil bahwa megalodon hidup dengan memangsa paus dan hiu besar lainnya. Tampaknya hanya ada satu pertanyaan antara kesimpulan ilmiah dan legenda urban, yaitu, apakah megalodon itu benar-benar masih eksis ? Apakah dia pemangsa hiu putih besar? Lalu siapa pelaku yang menggigit Nereus hingga meledak? Mengenai pertanyaan ini, mari kita simak dua kisah tentang realitas berikut ini. . .

Monster Raksasa Laut Utara

Monster Laut Utara Kraken digambarkan oleh para pelaut Eropa kuno sebagai kepiting raksasa, terkadang sekuat ikan paus, dan terkadang sama menakutkannya dengan Cumi-cumi raksasa. 

Kraken mampu menyedot kapal ke dasar laut dalam satu serangan, dan daya isapnya yang kuat mampu meledakkan seluruh kapal menjadi puing-puing. Para pelaut sering kali terseret ke dasar laut oleh pusaran air dan tentakel sebelum mereka dapat melihat jelas penampakan Kraken.

Tentakel adalah semacam lengan yang berfungsi untuk menangkap mangsa yang terdapat di sekitar moncong hewan invertebrata-tak bertulang belakang).  

Para pelaut yang berhasil lolos dari maut itu mengatakan bahwa jika suatu saat anda menangkap banyak ikan di Laut Utara, dihimbau sebaiknya segera pergi dari sana, karena anda sedang menangkap ikan di atas kepala Kraken, dan itu adalah sarapannya, sebelum ia marah, sebaiknya segera menyelamatkan diri!

 Setelah perkembangan ilmu pengetahuan modern, para ilmuwan menganggap bahwa legenda itu murni karya sastra. Tidak mungkin ada cumi-cumi sebesar itu di lautan. 

Namun, belakangan, para ilmuwan kebetulan menyadari bahwa cumi-cumi raksasa Kraken memang ada dan masih eksis di laut dalam dan jumlahnya sangat sangat banyak, kebetulan yang tak disengaja ini disebut ambergris.

Untuk diketahui ambergris/ambergrease, atau abu-abu ambar adalah zat padat, mudah terbakar dengan warna abu-abu kusam atau kehitaman yang dihasilkan dalam sistem pencernaan paus sperma.

Ambergris adalah salah satu bahan pengharum kualitas tinggi, sejak masa Kaisar Taizong dari Dinasti Tang (Baca : Thang), ambergris adalah bahan pewangi yang dicari oleh istana kerajaan dari seluruh dunia. Orang dahulu percaya bahwa itu adalah esensi alam, dan sering ditemukan di pantai, namun, baru bisa ditemukan pada saat kebetulan. Dalam Peta Mao Kun, yakni Peta Navigasi Cheng Ho, ada sebuah pulau kecil bernama Suqutra di laut Arab.

Selama ratusan tahun, penduduk di sini mengumpulkan ambergris sebagai mata pencaharian. Mereka memberi tahu Cheng Ho, ambergris sebenarnya adalah kotoran paus sperma, mereka mencari ambergris melalui paus sperma. 

Baru pada abad ke-20, para ilmuwan mengonfirmasi catatan Peta Navigasi Cheng Ho, bahwa ambergris adalah metabolit yang diproduksi oleh paus sperma yang menelan moluska seperti cumi-cumi atau kerabatnya, karena moluska seperti cumi-cumi memiliki moncong yang tajam dan keras, sehingga tidak bisa dicerna paus sperma, selain itu moncong cumi-cumi juga dapat melukai saluran pencernaan paus sperma, sehingga paus sperma akan mengeluarkan suatu zat untuk membungkus moncongnya.

Moncong dan sekresi ini, menumpuk di saluran pencernaan paus sperma dan akhirnya dikeluarkan. Kemudian setelah direndam di laut selama puluhan atau ratusan tahun dan terdampar di pantai, lalu menjadi esensi alami yang disebut ambergris.

Pada 1993, para ilmuwan meneliti 17 paus sperma yang tertangkap dan menemukan ada lebih dari 29.000 moncong moluska ini di saluran pencernaan mereka. Penemuan ini membuat para ilmuwan menyadari bahwa alasan sebenarnya mengapa paus sperma menyelam ke laut dalam adalah untuk memangsa moluska besar yang banyak terdapat di laut dalam. 

Lalu, seberapa besar moluska raksasa ini? Dengan menganalisis moncong-moncong itu, para ilmuwan pun tercengang dibuatnya.

Karena lebih dari 100 tahun yang lalu, manusia pernah menemukan tubuh makhluk hidup berupa cumi-cumi raksasa, sekitar 20 meter panjangnya, ini adalah salah satu monster laut terbesar yang pernah ditemukan manusia, yang disebut Architeuthis dux. Ada ribuan cumi-cumi raksasa yang berukuran 20 meter ini di dalam saluran pencernaan paus sperma, dan hal yang membuat tercengang para ilmuwan masih terus terjadi.

Pada tahun 1982, ilmuwan menemukan anggota tentakel raksasa di dalam perut paus sperma. Awalnya, para ilmuwan mengira itu adalah cumi-cumi raksasa, tetapi setelah diamati dengan cermat, mereka menemukan banyak umpan pada pengisap tentakel itu, artinya itu bukan cumi-cumi raksasa. 

Cumi-cumi memiliki kaki yang besar, jika makhluk itu memiliki lengan dengan ketebalan yang sama dengan cumi-cumi raksasa, maka ukuran ukuran makhluk tersebut mungkin memang hampir sama dengan monster raksasa laut utara, yakni Kraken. 

Belakangan, ilmuwan menamai cumi-cumi itu Mesonychoteuthis hamiltoni atau cumi-cumi kolosal, yang memiliki mata sebesar piring makan.

 Kisah realitas kedua

Berikutnya mari kita simak sejenak kisah realitas kedua. . . Sehari sebelum Natal tahun 1938, nelayan Afrika Selatan menangkap seekor ikan aneh di Kepulauan Komoro. Sisik ikan aneh ini seperti baju besi prajurit tempo dulu, ekornya seperti tombak pendek, sangat agresif. Belum ada yang pernah melihat ikan seperti ini. Ikan aneh itu akhirnya berhenti bergerak setelah berontak selama empat jam penuh di geladak kapal. 

Seorang pelaut yang berani mencoba menyentuh moncong ikan itu dengan tangannya, dan ikan itu seketika menggigit hingga terdengar suara gemeretak. Setelah kembali ke pelabuhan, seorang peneliti wanita dari museum setempat, sebut saja Latimer membeli ikan aneh itu dan membuat spesimen sepanjang 1,5 meter. Latimer kemudian menghubungi Profesor Smith dari Universitas Cape Town, Afrika Selatan.

Profesor Smith juga tidak mengenali ikan ini, profesor kemudian meminta membedah ikan itu untuk menentukan klasifikasinya. Tangan Profesor Smith mulai bergetar ketika membedah. Dia menjadi semakin bersemangat, nyaris tidak percaya dengan pandangan matanya. Ini adalah seekor Coelacanth, yakni tatanan ikan yang sekarang langka yang mencakup dua spesies, yang mana masih ada dalam genus Latimeria, adalah nenek moyang dari semua vertebrata darat. 

Coelacanth adalah spesies peralihan antara ikan dan tetrapoda (hewan vertebrata berkaki empat) yang pernah dianggap punah 65 juta tahun yang lalu. Konon katanya Profesor Smith sempat pingsan di ruang eksprimen saking senangnya. Hal pertama yang Profesor Smith lakukan setelah siuman adalah menawarkan hadiah sebesar 100 poundsterling atau sekitar Rp. 18.8 juta kurs sekarang, untuk menangkap lagi ikan jenis ini.

Sampai 14 tahun kemudian pada tahun 1952, ikan coelacanth kedua baru berhasil ditangkap. Kabar ini menyebar hingga terdengar oleh mantan Perdana Menteri Afrika Selatan Daniel Malan, yang memerintahkan untuk mengirimkan kapal perang dan pesawat untuk mengawal, dan Perdana Menteri Daniel secara pribadi menyambutnya di bandara. Saat itu, katanya kalimat pertama Perdana Menteri Malan setelah melihat ikan coelacanth adalah, oh, jadi begini rupa nenek moyang kita.

Dalam dua kisah realitas ini, makhluk prasejarah yang punah, ikan coelacanth ditemukan kembali, dan monster laut dalam yang tidak diketahui yakni Mesonychoteuthis hamiltoni atau cumi-cumi kolosal, yang memiliki mata sebesar piring makan kembali ditemukan.

Jadi, saat kembali ke dua kasus pertama yang belum terpecahkan, banyak penggemar percaya bahwa megalodon prasejarah juga masih hidup. 

Pada kejadian tahun 2003, ternyata yang menggigit hiu putih besar dalam sekali gigitan itu adalah megalodon prasejarah. Selain itu, para penggemar juga meyakini bahwa hiu prasejarah yang menggigit robot kapal selam Nereus juga merupakan sejenis hiu prasejarah yang belum ditemukan. Hiu ini tidak hanya memiliki kekuatan gigitan yang luar biasa tetapi juga mampu menyelam ke laut ekstrim dalam, mungkin mirip dengan hiu laut dalam yang sebenarnya.

Berikut mari kita telusuri lagi jenis hiu lainnya. . .

 Goblin Shark

Ilmuwan mengatakan bahwa hiu ini telah hidup di Bumi selama kurang lebih 130 juta tahun, dari era Cretaceous atau Periode Kapur hingga hari ini, hiu sangat primitif, dengan hidung yang panjang, mulut menganga, dan gigi yang kasar, sekilas terlihat seperti goblin, yakni sejenis makhluk supranatural yang muncul dalam dongeng-dongeng dan kisah-kisah fiksi fantasi. 

Para ilmuwan memperkirakan mereka (Hiu goblin) setidaknya bisa menyelam ke laut dalam di bawah 2.000 meter, karena kulitnya yang berevolusi menjadi bentuk semi transparan, menampakkan warna darah. Hiu Goblin hidup yang ditangkap sejauh ini berwarna merah muda atau pink yang menakutkan. 

Di sisi lain, caranya memangsa juga sangat aneh, terlihat seperti alien yang tiba-tiba keluar dari moncongnya lain untuk mencaplok mangsanya.

Hiu goblin ini sebenarnya menggunakan struktur rahangnya yang unik, untuk secara tiba-tiba memperbesar ruang moncongnya, agar dapat menghasilkan tekanan negatif di laut dalam untuk menyedot mangsanya ke dalam moncongnya, menghisap secara tiba-tiba dan menggigit, menghasilkan tekanan negatif yang sangat kuat dan mungkin merupakan pelaku sebenarnya dari ledakan robot kapal selam Nereus seperti tersebut di atas.

Selain itu, hiu dapat menginduksi sinyal listrik dan medan magnet bumi di lautan melalui struktur yang disebut Ampullae of Lorenzini. Misalnya, hiu putih besar dapat mencium bau setetes darah dari jarak beberapa kilometer jauhnya. Ini karena Ampullae of Lorenzininya sangat sensitif, sementara hidung panjang hiu goblin dirancang khusus untuk Ampullae of Lorenzini. 

Sensitivitasnya sepuluh kali lipat lebih kuat dibandingkan hiu putih besar, jadi sangat sulit bagi manusia untuk menangkap hiu goblin. 

Pada tahun 1898, hiu goblin pertama berhasil ditangkap di Sagami Bay atau Teluk Sagami, Jepang, kemudian sejak itu, hiu goblin tidak terlihat selama hampir 20 tahun. 

Sampai pada tahun 1922, ratusan ekor hiu goblin ditangkap di Jepang dalam waktu lima bulan, disusul kemudian terjadi Gempa Besar Kanto tahun berikutnya, tepatnya pada hari Sabtu, 1 September 1923.

Pada tahun 2010, ratusan hiu goblin kembali ditangkap secara intensif di lepas pantai Jepang dalam beberapa bulan, kemudian terjadi gempa bumi dan tsunami Tōhoku Maret 2011 tahun berikutnya, dan menyebabkan kebocoran nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima. 

Belakangan, ilmuwan mengamati bahwa alasan hiu goblin mengapung di laut dangkal memang terkait dengan aktivitas geologi, namun saat ini masih belum ada bukti lebih lanjut. 

Beberapa orang percaya bahwa hiu goblin adalah elf laut dalam, dan mereka telah hidup bersama induk bumi selama 130 juta tahun. Mereka memiliki kedalaman yang tidak bisa dipahami manusia. Hiu juga spesies purba yang bertahan hidup dari periode Jurassic 200 juta tahun lalu hingga hari ini.

 Mengapa ketakutan manusia terhadap hiu seperti yang tertulis dalam gen? Mungkin ini sebenarnya semacam penghormatan dan keseganan terhadap alam. Pendaratan paus membuat kita merasakan keindahan alam, paus besar akan tenggelam ke dasar laut setelah mati, menjadi umpan balik terakhir bagi alam. Seperti ikan paus, hiu juga akan tenggelam ke dasar laut begitu ia berhenti berenang, kembali ke alam. Tapi para ilmuwan terus menerus mendapatkan pemandangan seperti ini di dasar laut. 

Kawanan hiu ini kehilangan sirip punggungnya dan tenggelam hidup-hidup ke dasar laut sambil menanti ajal dengan tenang. Dan, semua ini hanya karena sirip punggungnya telah menjadi makanan lezat di atas meja makan manusia –  sirip hiu. 

Sumber : Berbagaisumber

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular