oleh Chen Weiyu

Pemilihan presiden AS belum memutuskan hasil akhir siapa yang menang atau kalah, di mana variabelnya? supremasi hukum dan keyakinan akan menginterogasi semua orang. Do’a terkenal Jenderal Patton mungkin dapat memberi kita inspirasi. George Smith Patton Jr. atau lebih dikenal dengan sebutan Jenderal Patton adalah seorang jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat yang terkenal karena kepemimpinannya sebagai seorang jenderal selama Perang Dunia II

Pemilu AS baru-baru ini seperti sebuah perang abad. Meskipun ini adalah pemilihan presiden AS, rasanya semua orang berada di medan perang. Baru-baru ini, channel versi bahasa Inggris kami juga terputus dan diblokir. Tidaklah mengherankan hal seperti itu bisa terjadi. Hari saya baru menyaksikan sebuah berita yang mengatakan bahwa setengah dari postingan Presiden Trump di Twitter dan Facebook selama pemilu disensor dan diberi label sebagai informasi palsu.

Presiden Trump menerbitkan 22 postingan, 11 di antaranya disensor. Jika postingan ini tidak diberi tag, dipastikan akan segera dikomentari atau diteruskan 827 kali dalam satu menit, tetapi setelah diberi tag, akhirnya turun menjadi hanya 151 kali forward per menit. Bisa dibayangkan presiden dari negara terkuat di dunia itu saja diperlakukan seperti ini, demokrasi dan kebebasannya benar-benar hebat, bahkan presiden pun tidak berdaya terhadap orang-orang ini.

Banyak teman yang merasa seakan tertekan karena pemilihan ini. Ada yang kecewa dengan sistem demokrasi, ada yang kecewa dengan Amerika Serikat, dan ada yang khawatir dengan masa depan umat manusia. Hari ini saya ingin membahas sejenak topik ini dengan pemirsa, yaitu bagaimana sikap/pandangan kita terhadap pemilihan presiden AS kali ini. Apa yang harus kita lakukan di masa depan? Saya ingin membagikan dua kata yang paling saya rasakan dalam beberapa hari terakhir ini, yakni supremasi hukum dan keyakinan.

 Berbagai Bukti Penipuan Mulai Tergali

Kita tahu bahwa pada malam 3 November 2020, dengan kemenangan stabil Presiden Trump, semua penghitungan suara tiba-tiba berhenti. Kemudian keesokan paginya, jumlah suara di negara bagian Wisconsin dan Michigan tiba-tiba melonjak ratusan ribu suara untuk Biden. Dan segera orang-orang pun melihat berbagai bukti penipuan mulai tergali.

Beberapa data dapat dianalisis untuk mengungkap jejak penipuan, dan beberapa video pengawas bahkan menunjukkan anggota staf yang terus memberikan suara mereka di kotak suara. Beberapa surat suara yang dikirim dibongkar oleh staf, diperiksa kemudian dibuang ke tempat sampah. Kita tahu itu jelas penipuan, dan melibatkan banyak orang. Bahkan seluruh media arus utama Amerika ikut membantu Partai Demokrat, sehingga membuat semua orang merasa tidak berdaya.

Meskipun Biden memiliki 264 suara elektoral dari peta pemilihan Google, sementara Presiden Trump hanya mengantongi 214 suara. Saya rasa kalian tidak perlu cemas, kondisinya tidak seburuk itu.

 Sebanyak 264 suara elektoral telah diperoleh Biden, dan cukup mengantongi 6 suara lagi di Nevada, maka dia sudah mendapakan 270 suara kemenangan. Sebelumnya Fox News menelepon negara bagian Arizona untuk mendukung Biden, yang membuat Presiden Trump sangat marah. Fox News selama ini dianggap sebagai salah satu dari sedikit media sayap kanan.

Belum lama ini, saat debat perdana presiden, moderator Walter Wallace Jr membuat orang-orang terkejut. Kali ini, Fox membantu Biden menelepon Arizona terlebih dahulu, yang membawa pengaruh opini publik yang buruk. Kita sekarang tahu bahwa orang-orang dari media Fox News memiliki posisi yang berbeda. Yang membuat keputusan untuk menelepon Arizona adalah direktur Departemen Kebijakan Berita, Arnon Mishkin yang berusia 65 tahun. Dia adalah seorang Amerika Yahudi. Dia pernah mengatakan bahwa kedua orang tuanya adalah korban selamat dari Holocaust.

Arnon Mishkin adalah seorang Demokrat, jadi tidak sulit untuk memahami dari sikap politik masa lalunya bahwa dia akan mendukung Biden. Dia memilih Hillary Clinton pada pemilu 2016, menyumbang dana untuk Obama pada 2008, dan menghubungi negara bagian Ohio untuk mendukung Obama pada 2012. Saat itu, seorang pembawa berita Fox News ke kantornya dan bertengkar dengannya.

Keterangan Foto : Petugas pemilu menghitung surat suara di Philadelphia Convention Center di Philadelphia, Pa., Pada 6 November 2020. (Chris McGrath / Getty Images)

Sebenarnya, tidaklah mengherankan jika dia bertidak seperti itu, lagipula ada reporter konservatif di media sayap kiri, hanya saja tidak berani bersuara, karena begitu mereka berbicara untuk Trump, mereka akan kehilangan pekerjaan atau dijauhi rekan kerja mereka. Meskipun Fox membantu Biden yang membuat orang merasa bahwa Biden sedang dalam kemenangan, tetapi tidak semudah itu setelah kita analisa.

 Di Arizona memiliki 11 suara elektoral, dan sekarang hanya 88% suara yang telah dibuka, masih ada lebih dari 450.000 suara yang tidak dihitung, dan jarak antara Trump dan Biden hanya lebih dari 6.000 suara, yang sepenuhnya bisa membalikkan keadaan. Menurut Sekretaris Negara Bagian Arizona pada tanggal 4 malam ketika itu, masih ada 600.000 surat suara yang dikirim dan suara khusus di negara bagian yang belum diproses. Sekitar setengahnya berasal dari Maricopa County, daerah pemilihan Partai Republik yang mendukung Trump. Trump juga berada di atas Biden dengan 6:4 suara dalam pemilihan pos. Oleh karena itu, masih ada peluang untuk membalikan keadaan.

Terlepas dari media kiri menulis 264 suara untuk Biden dan 214 suara untuk Trump di peta pemilu. Namun kita bisa melihat bahwa di Pennsylvania, North Carolina, dan Georgia, meski penghitungan akhir belum selesai, tapi sebagian besar penghitungan suara sudah selesai. Presiden Trump tidak perlu cemas untuk memenangkan tiga negara bagian tersebut, ada total 51 suara electoral, ditambah dengan 214 suara yang dikantongi saat ini, Presiden Trump memiliki 265 suara electoral dan kunci kemenangannya adalah negara bagian Arizona.

 Itu bukan satu-satunya kesempatan bagi Presiden Trump untuk membalikkan situasi. Presiden Trump mentweet pada pagi itu untuk menghentikan penghitungan suara, karena menemukan ada masalah dengan penghitungan suara, Presiden Trump mengatakan akan mengambil tindakan hukum.

Sekarang dia telah mengajukan tuntutan hukum terhadap beberapa negara bagian utama, menuntut Wisconsin untuk menghitung ulang suara, dan Michigan harus menghentikan penghitungan suara serta meminta Mahkamah Agung untuk campur tangan dalam penghitungan suara. Dia juga mengusulkan suara yang diterimanya dari negara bagian Pennsylvania dan Georgia setelah hari pemilihan tidak sah.

Presiden Donald Trump berbicara pada saat penandatanganan RUU Dana Kompensasi Korban 9/11 di Gedung Putih Rose Garden di Washington pada 29 Juli 2019. (Charlotte Cuthbertson / The Epoch Times)

Penghitungan suara terakhir di Wisconsin adalah 49,6% untuk Biden dan 48,9% untuk Trump. Perbedaan suara antara keduanya hanya sekitar 20.000 suara. Undang-undang menetapkan bahwa jika perbedaan berada dalam kisaran 1%, maka kandidat dapat mengajukan pemeriksaan suara. Jika kekeliruan lebih besar dari 0,25% , pihak yang mengusulkan untuk memeriksa suara harus membayar biaya pemeriksaan tersebut. Pemeriksaan suara harus diselesaikan dalam waktu 13 hari saat pemeriksaan suara dimulai.

Kita tahu bahwa ada masalah besar dengan suara electoral di beberapa tempat. Peluang untuk memeriksa kembali suara berarti peluang Presiden Trump untuk menang meningkat beberapa persen. Trump dipastikan menang jika situasinya berbalik di Wisconsin dan Michigan, ditambah Arizona. Karena itu, masih ada peluang besar untuk Trump.

Baru-baru ini, beredar kabar bahwa Partai Demokrat mencetak ratusan ribu bahkan jutaan surat suara palsu yang dimasukkan ke dalam surat suara asli. Tetapi mereka tidak tahu bahwa surat suara yang asli telah diberi watermark oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri. Mereka tidak dapat memalsukannya. Artinya, selama surat suara dihitung ulang, maka surat suara palsu tersebut akan segera terkuak. Sehingga dengan demikian, Presiden Trump tidak hanya akan memenangkan pemilihan, tetapi orang-orang demokrat juga kemungkinan akan memikul tanggung jawab hukum.

 Demokrasi Bukanlah Jaminan Kesejahteraan

Banyak orang berkomentar bahwa mereka sedih, mengatakan bahwa itu adalah kemunduran demokrasi yang paling paling gelap yang pernah dia saksikan! Pertarungan yang adil, tidak peduli siapa yang menang, adalah cerminan demokrasi. Tapi tak disangka, negara seperti Amerika Serikat, pemilihan presiden begitu ceroboh, mungkin terlalu banyak imajinasi dalam sistem demokrasi. Kami kecewa dengan demokrasi, mercusuar dunia Amerika, dan bahkan tidak punya harapan untuk masa depan umat manusia, demikian komentar netizen

Saya memahami perasaan anda saat ini. Inilah mengapa pemilu AS kali ini mengetuk hati orang-orang di seluruh dunia. Semakin banyak orang menganggap pemilu ini sebagai kontes antara yang baik dan yang jahat serta menyadari bahwa itu adalah persimpangan jalan, kemana tujuan Amerika Serikat ? Kemana tujuan dunia?

Saat ini Presiden Trump masih memiliki peluang untuk memenangkan pemilu, namun tidak menutup kemungkinan Biden akan memenangkan pemilu. Jika ini hasilnya, pernahkah Anda bayangkan? Bagaimana kita  menghadapinya? Izinkan saya menyampaikan pandangan saya. Ketika kita merasakan kegelapan dari negara totaliter, kerinduan akan sistem demokrasi menjadi tidak terelakkan.

Tapi kita telah mengabaikan masalah yang mendasar, tidak peduli sistem seperti apa, itu dirumuskan dan dijalankan oleh manusia. Kita bisa terus memperbaiki kekurangan dalam sistem ini. Sebenarnya, pemisahan kekuatan Amerika Serikat adalah yang paling sempurna. Keseimbangan di antara mereka dapat menghindari segala jenis perluasan kekuasaan. Tetapi seperti mendasain perangkat lunak, ada beberapa celah yang tidak dapat diperbaiki.

Seorang staf sedang melakukan proses penghitungan suara untuk pemilihan presiden di TCF Conference Center, di Detroit, Michigan pada 4 November. (Elaine Cromie/Getty Images)

Masalahnya terletak pada manusia, begitu moral seseorang rusak, maka meski betapa pun baiknya sistem demokrasi, orang yang menjalankan sistem ini dapat memanfaatkan celah tersebut dan memuaskan kepentingannya sendiri. Seperti misalnya manifestasi yang ditunjukkan Partai Demokrat kali ini, kaum Demokrat ini meninggalkan standar dirinya sebagai manusia yang berakhlak demi melindungi kepentingan partainya. Bagaimana mungkin partai yang tidak punya garis bawah dalam melakukan sesuatu bisa bersikap adil dan tidak egois dalam proses menjalankan pemerintahan ?

Oleh karena itu, demokrasi bukanlah tujuan akhir yang kita kejar, jika demokrasi dapat diwujudkan di Tiongkok di masa depan, itu juga tidak akan menjadi jaminan kesejahteraan bagi orang Tiongkok. Perbaikan moral adalah tema yang kekal. Saya pikir ini juga tujuan akhir dari kehidupan manusia. Kehidupan setiap orang merupakan sebuah kultivasi, dan proses kultivasi ini adalah proses di mana kita meningkatkan moral kita. Ini juga merupakan kunci utama untuk memecahkan masalah manusia.

 Perbaikan Moral adalah Tema yang Kekal

Sebenarnya, semua keyakinan agama di dunia juga melakukan hal tersebut, yaitu meningkatkan akhlak manusia. Banyak orang merasa aneh ketika saya berbicara tentang keyakinan, padahal inti dari keakinan adalah meningkatkan akhlak manusia, bukan menyembah berhala.

Mengapa saya selalu mengatakan bahwa saya percaya pada rencana Tuhan? Ini sebenarnya semacam keyakinan. Karena saya percaya ada aturan di dunia ini, misalnya kita bilang ada aturan dalam keluarga, ada hukum dalam sistem negara, dan dunia juga memiliki hukum internasional, lalu apakah alam semesta memiliki aturan ? Saya percaya pasti ada, yaitu hukum langit, seperti yang sering kita katakan bahwa kebaikan dan kejahatan pasti ada balasannya, bukannya tak membalas tapi waktunya belum tiba. Oleh karena itu, menurut saya pemilu kali ini tidak sepesimis seperti yang kita pikirkan, saya yakin hasil akhirnya sudah diatur oleh Tuhan, dan pasti merupakan perwujudan keadilan.

 Pernahkah Anda mendengar cerita tentang Jenderal Patton dalam Perang Dunia II? Jenderal Patton adalah seorang jenderal terkenal dalam Perang Dunia II, dia pernah berkata bahwa dia berperang untuk Tuhan. Pada tahun 1944, Invasi Normandia atau yang bernama sandi Operasi Overlord dimulai. Ini merupakan sebuah operasi pendaratan lautan terbesar di dunia yang dilakukan oleh pasukan Sekutu saat Perang Dunia II.

Invasi ke wilayah Normandia dilaksanakan pada 6 Juni 1944 dengan melibatkan hampir tiga juta prajurit dengan cara menyeberangi selat Inggris dari Inggris ke Perancis yang kala itu diduduki oleh tentara Nazi Jerman.

Divisi Lintas Udara AS ke-101 dikepung oleh pasukan Jerman di Bastogne, Prancis, dan di ujung tanduk. Jenderal Patton memimpin divisi ketiga untuk menyelamatkan. Saat itu, wilayah Bastogne telah diselimuti kabut tebal dan salju, sama sekali tidak bisa melihat kondisi di sekitarnya. Pasukan Sekutu tidak dapat memberikan dukungan tembakan udara.

Melihat situasi darurat, Jenderal Patton meminta bantuan Tuhan. Dia juga meminta pendeta militer untuk membuat kartu doa dan dikirimkan ke 250.000 perwira dan tentara. Di atasnya tertulis “Doa Bartogne” yang terkenal: Bapa surgawi Yang Mahakuasa dan Penyayang, kami dengan rendah hati memohon kepada Engkau untuk memberi cuaca yang cerah pada kami untuk berperang. Mohon Engkau dengarkan seruan pasukan kami dan gunakan kekuatan gaib-Mu untuk membantu kami terus mendapatkan kemenangan, dan menghancurkan penindasan musuh jahat, dan menegakkan keadilan bagi Engkau di dunia.

 Patton menghimbau seluruh perwira dan prajurit untuk berdoa dengan khidmat di saat-saat kritis. Menjelang pemberangkatan divisi ketiga, salju tebal masih menyelimuti. Jenderal Patton berlutut di jalan, berdoa kepada Tuhan. Saat fajar, keajaiban pun terjadi! Salju berhenti, dan 6 hari berikutnya adalah cuaca cerah seperti yang diharapkan.

Jadi divis ketiga dengan lancer ke utara dan menyelamatkan Divisi Lintas Udara ke-101 yang terperangkap. “Doa Patton” menjadi keajaiban yang terkenal di seluruh dunia. Ada rumor yang mengatakan Presiden Trump adalah reinkarnasi Jenderal Patton, dan mereka juga memiliki banyak kemiripan secara fiisk dan kepribadian. Beberapa foto bahkan terlihat mirip. Keduanya berani berbicara dan bertindak secara terbuka, sehingga memicu banyak kontroversi. Apalagi, Jenderal Patton saat itu mengatakan bahwa dirinya memiliki misi khusus yang sangat mirip dengan Presiden Trump, dan Presiden Trump juga mengatakan bahwa dialah orang yang dipilih Tuhan.

 Sebenarnya pesan dalam kisah ini adalah bahwa dalam situasi sulit apa pun, ketika kita merasa putus asa dan tak berdaya, yang terpenting adalah memegang teguh pada keyakinan kita. Yakinlah bahwa segala sesuatu di dunia ini ada di tangan Tuhan. Sekarang mungkin tidak berkembang seperti yang Anda harapkan, tetapi tidak berarti Tuhan tidak mengatur semua ini. Hanya saja kita belum mengerti makna-Nya yang dalam, mungkin pemilihan kali ini untuk menunjukkan kekuatan jahat agar menampakkan wujudnya, hingga akhirnya bisa menyeret mereka ke pengadilan. Tuhan juga pada akhirnya akan menghukum orang-orang jahat ini melalui hukum manusia. Kita hanya perlu percaya bahwa kejahatan itu tidak akan pernah menang melawan kebaikan. Jadi, tetap teguh pada keyakinan ini!

 Meski pun untuk sementara Presiden Trump tidak menang kali ini, jangan juga berkecil hati. Pada 28 Agustus, ada prediksi di Internet tentang pemilihan presiden AS, yang mengatakan bahwa Biden didukung oleh konsorsium (49 negara) dan menggunakan cara yang tidak terhormat, sehingga menghilangkan suara dan peringkat Trump. Satu hari menjelang Biden mengumumkan kemenanganya. Trump mengajukan keberatan dan menggulingkan hasil pemilu. Biden mundur dan mungkin masuk penjara.

Kedengarannya seperti kebetulan dengan apa yang terjadi sekarang. Tidak peduli apakah akan berkembang seperti ini atau tidak, sebaiknya kita siapkan mental bagaimana menghadapi beberapa peristiwa besar yang akan terjadi selanjutnya. Saya percaya pada keadilan dan teguh pada keyakinan. Mari bersama kita lewati hari-hari tersulit dan pantang menyerah! (jon/asr)

Share

Video Popular