Setelah capres dari Partai Demokrat Joe Biden mengklaim telah memenangkan pemilu tahun 2020, penanggung jawab ‘Black Lives Matter’ (BLM) menulis surat kepada Joe Biden dan cawapres Kamala Harris yang isinya menyatakan bahwa organisasi tersebut telah menarik 60 juta orang pemilih untuk “mencoblos” Joe Biden. Sekarang organisasi ingin meminta waktu untuk bertemu dengan Joe Biden dan membicarakan soal imbalannya

NTDTV.com

Media sayap kanan AS ‘Daily Wire’ dengan mengutip pernyataan Patrisse Cullors, salah satu pendiri dan direktur eksekutif ‘BLM’ pada 10 November memberitakan bahwa, sekarang anggota organisasi telah dapat menghela nafas lega karena mereka berpendapat bahwa era Trump akan segera berakhir.

Pernyataan tertulis Patrisse Cullors tersebut tertanggal 7 November 2020, hari yang sama ketika banyak media Amerika mengumumkan bahwa Partai Demokrat telah memenangkan pemilihan presiden AS.

Presiden Trump tidak ingin mengalah. Tim kampanye Trump mencurigai telah terjadi penipuan suara di beberapa negara bagian dan mengajukan proses hukum. Jaksa Agung William Barr pada hari Senin 9 November memberi wewenang kepada Kementerian Kehakiman untuk menyelidiki penyimpangan dalam pemilu kali ini.

Dengan mengatasnamakan ‘BLM Global Network Foundation’ Patrisse Cullors menulis : Organisasi tersebut melakukan aktivitas di seluruh Amerika Serikat demi Partai Demokrat dan telah menginvestasikan jumlah dana yang besar dalam pemilihan ini. Pihaknya telah berhasil membujuk lebih dari 60 juta orang pemilih untuk mendukung Joe Biden, Dan sekarang kita mengharapkan imbalannya.

Imbalan yang diminta antara lain, suara kami (BLM) harus didengar. Dan permintaan kita perlu mendapat prioritas.

Kematian George Floyd pada bulan Mei 2020 telah memicu anggota ‘BLM’ dan ‘Antifa’ melakukan kegiatan pengrusakan di berbagai tempat di AS. Dengan kian terungkapnya sejumlah besar kecurangan yang terjadi dalam pilpres ini, anggota ‘BLM’ dan ‘Antifa’ mulai membuat kerusuhan. Mereka bentrok dengan polisi dengan kedok “menghitung setiap suara”.

Analisis eksternal menyebutkan bahwa, melonjaknya angka pro-Trump pada jajak pendapat sebelumnya tidak terlepas dari “bantuan” ‘BLM’. Kerusuhan hebat yang terjadi di Kenosha, Wisconsin dan Portland, Oregon mendorong para pemilih perkotaan untuk berpihak ke kubu Trump.

Faktanya, pemerintahan Trump terus memperkenalkan kebijakan untuk mendukung komunitas kulit hitam. Sebelum epidemi, tingkat pengangguran orang kulit hitam di AS turun ke titik terendah dalam sejarah. Dibandingkan dengan empat tahun lalu, tingkat dukungan terhadap Trump dari orang-orang kulit hitam Amerika dan Hispanik telah naik cukup signifikan. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular