oleh Xu Zhining

Perusahaan farmasi terbesar di dunia ‘Pfizer’ dan perusahaan bioteknologi Jerman ‘BioNTech’ mengumumkan beberapa hari yang lalu bahwa hasil uji klinis awal dari vaksin virus komunis Tiongkok (COVID-19) yang dikembangkan bersama oleh mereka telah menunjukkan keefektifannya melebihi 90%

Uji klinis tahap ke-3 vaksin untuk virus komunis Tiongkok yang dikembangkan bersama oleh Pfizer dan BioNTech masih dalam proses. Beberapa orang menerima vaksinasi, sementara yang lain sebagai pembanding dan menerima plasebo. 

Pfizer tidak merilis data klasifikasi khusus, tetapi agar kelompok vaksin menjadi 90% efektif, hampir semua kelompok pembanding harus tertular. Pfizer memperingatkan bahwa semakin banyak kasus virus komunis Tiongkok yang dihitung, maka tingkat perlindungan vaksin dapat berubah.

Terlepas dari hasil laporan yang cukup menggembirakan, Dr. Ed Lifshitz, Direktur Pelayanan Penyakit Menular Departemen Kesehatan New Jersey mengatakan, bahwa masih terlalu dini untuk berasumsi bahwa vaksin akan membuat terobosan seperti yang diharapkan masyarakat. Karena masih banyak hal yang belum diketahui, seperti Apakah angka riil dan keefektifan 90% mencakup semua kelompok umur ? Apakah pengaruhnya sama untuk kelompok orang lanjut usia, yang lemah, dan berbeda dengan sistem kekebalan yang buruk ? 

Selain itu, walaupun vaksin tersebut memang efektif, belum diketahui berapa lama perlindungan kekebalan dapat bertahan ? Apakah diperlukan vaksinasi secara teratur ? Dr. Ed berharap mendapatkan lebih banyak informasi dalam beberapa bulan mendatang.

Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Negara Bagian, bahwa lebih dari 14.600 orang di New Jersey meninggal dunia karena pneumonia Wuhan. Baru-baru ini, tiba-tiba terjadi lonjakan yang tinggi pada kasus baru warga yang terinfeksi COVID-19 dan pasien yang dirawat rumah sakit di New Jersey.

Pfizer dan BioNTech menggunakan teknologi baru, alih-alih menggunakan virus yang tidak aktif itu sendiri untuk membuat vaksin, tetapi menggunakan vaksin messenger ribonucleic acid (mRNA). 

Vaksin tersebut mengandung kode genetik yang dapat melatih sistem kekebalan tubuh manusia untuk mengenali protein yang menonjol di permukaan virus, sehingga orang yang divaksinasi tidak akan tertular virus setelah divaksinasi.

Dr. Ed Lifshitz menambahkan bahwa efektivitas vaksin untuk virus-virus umum, seperti vaksin influenza adalah 40 – 60%. FDA telah menyatakan bahwa pihaknya bersedia menyetujui vaksin untuk virus komunis Tiongkok yang efektivitasnya bisa mencapai lebih dari 50%. Oleh karena itu, efektivitas yang melebihi 90% sudah jauh di atas standar itu. Dan perlu diingat bahwa tidak ada vaksin yang efektivitasnya bisa mencapai 100%.

Vaksin yang dikembangkan bersama oleh Pfizer dan BioNTech harus disimpan di lingkungan bersuhu minus 70 derajat Celcius, yang jauh lebih rendah dari suhu yang dibutuhkan untuk kebanyakan vaksin lainnya. Artinya vaksin menghadapi tantangan kendala transportasi dan ruang penyimpanan. 

Meskipun apotek dan kantor dokter biasanya dilengkapi dengan lemari es dan freezer untuk menyimpan banyak obat (termasuk vaksin flu), lemari es suhu sangat rendah tidak populer di jual di pasaran. (sin)

Video Rekomendasi :

 

 

Share
Tag: Kategori: SAINS SAINS NEWS

Video Popular