oleh Xiao Jing

Media AS mengungkapkan bahwa wakil presiden Dominion, perusahaan penyedia mesin pemilu AS, Eric Coomer adalah anggota anti-fasis yang militan di AS (Antifa). Dalam sebuah pertemuan Antifa pada bulan September tahun ini, Eric Coomer mengklaim bahwa Trump tidak mungkin memenangkan pemilihan 2020

Menurut laporan situs konservatif AS ‘Gateway Pundit’, bahwa bos perusahaan penyedia mesin pemilu AS Dominion, Eric Coomer bergabung dengan perusahaan itu pada tahun 2010 sebagai wakil presiden teknik. Menurut resumenya, dia lulus dari UC Berkeley dengan gelar PhD di bidang fisika nuklir. Belakangan, Eric Coomer dipromosikan menjadi Vice President Dominion Strategy and Security, dan pada tahun lalu ia kembali mendapat promosi jabatan.

Joe Oltmann, salah seorang pendiri FEC (Federal Election Commission) yang pernah melakukan penelitian di Antifa, saat menerima wawancara penulis dan komentator politik AS, Michelle Malkin baru-baru ini mengatakan : “Selama 12 bulan terakhir, Eric Coomer menjabat sebagai direktur sistem voting Dominion. Dan, tahukah Anda, dia juga pemegang saham utama perusahaan ini. Banyak hak patennya juga digunakan oleh perusahaan sistem pemilihan lainnya”.

Pada bulan September tahun ini, Joe Oltmann telah berpartisipasi dalam pertemuan di Antifa. Di sana ia baru mendengar nama Eric dan mengetahui bahwa ia berasal dari perusahaan Dominion.

Joe Oltmann mengatakan bahwa dalam pertemuan itu, seorang yang menyebut dirinya adalah Eric memberitahukan kepada anggota Antifa agar organisasi dapat terus melakukan tekanan. Ketika Joe Oltmann bertanya siapa itu Eric, seseorang menjawab : “Eric, dia adalah orang dari perusahaan Dominion”.

Joe Oltmann melanjutkan dengan mengatakan bahwa dalam pertemuan tersebut, seseorang bertanya kepada Eric : “Jika Trump memenangkan pemilu, apa yang harus kita lakukan ?” Eric menjawab : “Jangan khawatir tentang hasil pemilu. Trump tidak mungkin menang. Saya bisa menjamin hal ini !” Lalu dia tertawa terbahak-bahak.

Namun, pada saat itu Joe Oltmann tidak tahu menahu soal sistem pemungutan suara Dominion. Sampai usai pemilu ia mendengar tentang “Sistem Pemungutan Suara Dominion” dalam berita, ia baru teringat pernyataan yang dibuat oleh Eric yang orangnya perusahaan Dominion pada pertemuan Antifa pada bulan September itu.

Belakangan, Joe Oltmann mulai melakukan penyelidikan tentang siapa Eric Coomer. Ia kemudian menemukan bahwa Eric bukan hanya seorang pendukung Antifa, tetapi juga sangat membenci Trump. Eric Coomer pernah memposting kata-kata di Facebook-nya, seperti mati saja polisi dan mati saja presiden. Tulisan yang diposting itu kemudian ia hapus sendiri dari Facebook.

Pekan lalu, Oltmann memposting info tersebut di Twitter, menuduh Coomer ikut campur tangan dalam pemilihan presiden 2020. Belakangan, akunnya diblokir Twitter dan menerima banyak ancaman pembunuhan.

Padahal, di awal perkembangan sistem Dominion, Eric Coomer tidak pernah mengelak dari kecurigaan bahwa manipulasi sangat dimungkinkan. Pada tahun 2016, ketika dia merekomendasikan perangkat lunak pemungutan suara Dominion kepada pejabat kampanye di negara bagian Illinois, dia secara blak-blakan menyatakan bahwa selama dia diberi izin, maka dia dapat secara langsung mengakses database sistem penghitungan suara untuk mengubah hasil pemungutan suara.

Pernyataan ini dibenarkan oleh kuasa hukum pribadi Presiden Trump, Rudy Giuliani.

Rudy Giuliani dalam sebuah acara di “Sunday Morning Futures”, sebuah program wawancara Fox News Channel hari Minggu 15 November 2020 mengatakan, bahwa menyiapkan pintu belakang dalam sistem Dominion juga merupakan taktik curang yang digunakan oleh lawan mereka.

Mantan walikota New York itu menegaskan, Benar, sistem memang memiliki pintu belakang, dan kami memiliki bukti mengenai keberadaan pintu belakang tersebut. Rudi mengatakan, memiliki saksi yang belum dapat ditampilkan pada saat ini. Mereka sangat paham tentang perangkat keras sistem ini. Rudy juga menekankan : “Kita harus melakukan penyelidikan kasus penipuan ini secara menyeluruh untuk memastikan keamanan nasional”. (sin/asr)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular