oleh Su Jinghao

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo pada Minggu 22 November lalu, menyatakan bahwa sejauh ini terdapat 180 perusahaan telekomunikasi yang telah bergabung dalam kegiatan ‘Jaringan Bersih’ yang dipromosikan oleh Amerika Serikat dengan tujuan untuk membuat jaringan 5G yang aman. Perusahaan itu berasal dari 53 negara di seluruh dunia, termasuk puluhan perusahaan telekomunikasi global terkemuka

Pada 29 April tahun ini,  Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo mengumumkan bahwa sebagai bagian dari National Defense Authorization Act. NDAA atau Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional tahun 2019, Kementerian Luar Negeri akan mewajibkan komunikasi jaringan yang bersih untuk semua lalu lintas jaringan 5G independen yang masuk dan keluar dari Amerika Serikat dan badan diplomatik asing.

Pada 5 Agustus, Pompeo mendeklarasikan bahwa kegiatan Clean Network atau ‘Jaringan Bersih’  termasuk operator, perusahaan telekomunikasi bersih, toko bersih, aplikasi bersih, dan kabel jaringan awan bersih.

Terkait hal itu, pada hari Minggu, 22 November 2020 lalu, Pompeo mengumumkan di Twitter bahwa tiga negara lagi telah bergabung dalam kegiatan ‘Jaringan Bersih’. Ketiga negara tersebut adalah : Brasil, Ekuador, dan Republik Dominika.

180 perusahaan telekomunikasi dari 53 negara di seluruh dunia, termasuk puluhan perusahaan telekomunikasi global terkemuka yang menyumbang 2/3 PDB global telah bergabung dalam tren kegiatan ‘Jaringan Bersih’ dengan maksud untuk memperoleh jaringan 5G yang dapat diandalkan.  “(Di masa depan) masih dapat ditemukan lebih banyak (negara dan perusahaan) yang bergabung,” kata Pompeo.

Dewan Negara sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan industri terkemuka seperti Oracle, Hewlett-Packard, Reliance Jio, NEC, Fujitsu, Cisco, NTT, SoftBank, dan VMware telah bergabung dalam kegiatan ‘Jaringan Bersih’. Mereka juga menolak untuk berbisnis dengan perusahaan seperti Huawei dan perusahaan lain yang memiliki hubungan dengan lembaga pengawas Partai Komunis Tiongkok. Hal ini menimbulkan perhatian dunia.

Setelah Amerika Serikat mempromosikan kegiatan ‘Jaringan Bersih’, Uni Eropa juga meluncurkan EU Toolbox for 5G Security 2020 atau Kotak Alat UE Untuk Keamanan 5G 2020. 

Pada 23 Oktober, Bulgaria, Makedonia Utara, dan Kosovo, ketiga negara Balkan Eropa tersebut menandatangani perjanjian keamanan jaringan nirkabel berkecepatan tinggi dengan Amerika Serikat dan bergabung dalam kegiatan ‘Jaringan Bersih’ Amerika Serikat.

Sejauh ini, sudah ada 27 negara anggota NATO yang telah bergabung dengan program ‘Jaringan Bersih’.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat sebelumnya menyatakan bahwa kegiatan ‘Jaringan Bersih’ sedang menjadi tren dunia. Amerika Serikat mengajak pemerintah dan negara sekutu serta mitra industri di seluruh dunia untuk ikut bergabung guna memastikan bahwa data terlindungi dari pencurian komunis Tiongkok dan intrusi dari firewall mereka.

Dewan Negara menyatakan bahwa firewall komunis Tiongkok memungkinkan data mengalir masuk, tetapi tidak memungkinkan data mengalir keluar dari Tiongkok. Kecuali propaganda Partai Komunis Tiongkok yang dapat mengalir ke luar negeri, bahkan kebenaran tidak diizinkan untuk mengalir keluar.

“Dengan membentuk aliansi kemitraan, kami akan memperkuat perlindungan data dan kebebasan warga negara, “tegas Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Keith Krach pernah mengatakan bahwa meskipun negara dan perusahaan merasa takut dengan pembalasan komunis Tiongkok, tetapi komunis Tiongkok tidak dapat membalas dendam kepada semua orang. Jadi Uni Eropa bergabung dalam kegiatan ‘Jaringan Bersih’, aliansi transatlantik juga bergabung ‘Jaringan Bersih’, NATO pun ikut masuk. 

“Yang paling penting adalah ini sudah menjadi tren sekarang, banyak negara dan perusahaan telah menyadari bahwa masalah intinya bukanlah terletak pada teknologi, tetapi terletak pada kepercayaan,” kata Keith Krach. (sin)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular