Kasus COVID-19 yang ditularkan secara lokal terjadi satu demi satu di Tianjin, Tiongkok pada bulan ini. Seorang ahli penyakit menular mengatakan kepada The Epoch Times bahwa situasinya merupakan indikasi penyebaran komunitas di kota

Alex Wu

Pada 19 November 2020, sebuah rumah sakit setempat di-lockdown setelah seorang pasien dinyatakan positif terkena virus Partai Komunis Tiongkok, nama lainnya dari virus Corona yang menyebabkan COVID-19.

Pada malam 19 November 2020, netizen memposting video di media sosial Tiongkok Weibo, menyatakan bahwa seorang pasien di Rumah Sakit TEDA di New Era Binhai di Tianjin telah dites positif. Mereka mengatakan, rumah sakit telah ditutup dan jalan diblokade oleh polisi.

Pada hari yang sama, kantor komunitas Kota Ramah Lingkungan Lanyuan di Tianjin memposting pemberitahuan darurat di aplikasi media sosial Tiongkok populer lainnya, WeChat, meminta penduduk yang telah mengunjungi Rumah Sakit TEDA setelah 12 November 2020, untuk melapor kepada pihak berwenang setempat sesegera mungkin.

Menurut media daratan Tiongkok, staf Rumah Sakit TEDA mengonfirmasi bahwa rumah sakit telah menutup semua kliniknya. Selain itu,  tidak ada yang diizinkan masuk atau meninggalkan tempat tersebut, mulai pukul 8 malam  pada 19 November 2020.

Pada 18 November 2020, otoritas lokal di Tianjin mengonfirmasi kasus asimptomatik atau Kasus konfirmasi tanpa gejala di komunitas Kanhaixuan, menurut pemberitahuan resmi. 

Keterangan Foto : Tangkapan layar video yang menunjukkan penguncian di sekitar rumah sakit TEDA di kota Tianjin, Tiongkok. (Disediakan oleh The Epoch Times)

Seorang wanita berusia 33 tahun, bermarga Kang, dinyatakan positif COVID-19 selama karantina. Dia mungkin tertular virus PKT dari tetangganya, bermarga Wang, yang tinggal di gedung apartemen yang sama. Wang juga didiagnosis bulan lalu sebagai asimptomatik carrier.

Pemberitahuan resmi menyatakan bahwa pada pagi hari tanggal 9 November 2020, Wang, Kang, dan saudara-saudaranya memasuki lift yang sama. Dalam seminggu, saudara laki-laki dan perempuan Kang menjalani tes asam nukleat dan hasilnya negatif. Keduanya saat ini  dikarantina.

Pada pagi hari tanggal 20 November 2020, otoritas Tianjin menaikkan tingkat darurat menjadi “berisiko menengah” di komunitas Kanhaixuan. 

Sejauh ini, wilayah berisiko menengah di Tianjin telah meningkat menjadi tiga, di mana terdapat beberapa gudang perusahaan mesin pendingin -cold storage.  

Pada 19 November, The Epoch Times berbicara dengan pemilik supermarket di luar Kanhaixuan. Pemilik toko, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan bahwa seluruh komunitas diisolasi pada 18 November 2020 setelah dua kasus (mengacu pada Kang dan Wang) ditemukan di sebuah bangunan tempat tinggal. Tidak seorang pun diperbolehkan masuk dan keluar gedung apartemen dan penghuninya harus dikarantina selama 14 hari, terlepas dari hasil tes COVID-19 mereka. Dia mengatakan bahwa semua penduduk di komunitas itu telah melakukan uji asam nukleat.

Dia menambahkan bahwa semua toko di sekitar Kanhaixuan tutup dan bisnisnya juga terpengaruh akibatnya — pelanggan telah berhenti datang dan dia mungkin diperintahkan oleh otoritas setempat untuk menutup tokonya.

Seorang pemilik homestay di Kanhaixuan, yang menolak menyebutkan namanya, mengatakan kepada The Epoch Times pada 18 November 2020  bahwa mereka yang melakukan kontak dekat dengan pasien COVID-19 yang dikonfirmasi dibawa pergi untuk karantina. “Sekarang tidak ada yang bisa keluar atau masuk komunitas ini,” katanya.

Pada 8 November, otoritas Tianjin mengumumkan keadaan darurat dan mengumumkan kota itu telah memasuki “status masa perang” setelah dua kasus COVID-19 dikonfirmasi. 

Laporan media Tiongkok mengklaim bahwa kedua pasien tersebut tertular penyakit dari fasilitas cold storage di kota.

Keterangan Foto : Tangkapan layar pemberitahuan kantor komunitas di WeChat. (Tersedia)

Dr. Sean Lin, mantan ahli mikrobiologi Angkatan Darat AS dan mantan direktur lab cabang penyakit virus di Institut Penelitian Angkatan Darat Walter Reed, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa virus tersebut tampaknya menyebar di komunitas dan pihak berwenang setempat menyembunyikan jumlah dan cakupan infeksi yang sebenarnya, jika tidak mereka tidak akan mengumumkan “status masa perang” untuk pencegahan epidemi.

Lin menambahkan, jika masyarakat tidak mengetahui situasi sebenarnya, maka akan lebih sulit bagi pihak berwenang untuk melakukan tindakan penahanan untuk mengekang penyebaran virus.

The Epoch Times merujuk pada virus corona yang menyebabkan penyakit COVID-19, sebagai virus PKT, karena sensor berita dan kesalahan manajemen dari Partai Komunis Tiongkok, sehingga memungkinkan virus itu menyebar ke seluruh Tiongkok dan menciptakan pandemi global. (asr)

Staf Epoch Times Hong Ning dan Li Qiong berkontribusi pada laporan tersebut

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular