oleh Chen Han

Terkait erjanjian perdagangan bebas yang tertuang dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) atau Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional  disepakati, komunis Tiongkok telah menjatuhkan sanksi terhadap Australia, salah satu negara partisipan dalam perjanjian tersebut. Mengapa komunis Tiongkok bersikeras memberikan sanksi terhadap Australia? 

Komunis Tiongkok  menjatuhkan sanksi terhadap Australia, salah satu negara partisipan dalam perjanjian  Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) atau Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional  yang belum lama disepakati.

Kementerian Perdagangan Tiongkok pada 27 November mengumumkan bahwa ekspor anggur Australia ke Tiongkok diduga telah melakukan praktik dumping, sehingga mengharuskan perusahaan eksportir Australia untuk membayar sejumlah besar uang jaminan mulai 28 November.

Kementerian Perdagangan Tiongkok mewajibkan produsen anggur Australia untuk memberikan uang jaminan yang serupa dengan tarif impor tambahan yang diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Tingkat deposito uang jaminan yang diberlakukan itu berkisar antara 107,1% hingga 212,1%.

Menurut data resmi, setiap tahun Australia mengekspor anggur senilai AUD. 1 miliar ke daratan Tiongkok, menyumbang hampir 40% dari total ekspor anggur Australia.

Pasar Tiongkok menyumbang sekitar sepertiga dari ekspor Australia yang nilainya sekitar USD. 100 miliar. Sedangkan total nilai komoditas yang terkena sanksi komunis Tiongkok itu telah mencapai nilai USD. 6 miliar.

Komentator bernama Tian Yuan mengatakan bahwa dalam 40 tahun terakhir, ketergantungan ekonomi Australia kepada komunis Tiongkok telah meningkat dari tahun ke tahun. Tetapi sebaliknya, penetrasi komunis Tiongkok terhadap politik Australia juga semakin mendalam.

Menurut Tian Yuan, setelah pemerintahan Scott Morrison yang berkuasa melihat bahaya tersebut, ia langsung memperkuat aliansinya dengan Amerika Serikat, dan mengadopsi banyak langkah untuk mencegah komunis Tiongkok terus melanjutkan penetrasi merahnya. 

Dengan kata lain, Australia memilih Amerika Serikat di antara pilihan Amerika Serikat atau komunis Tiongkok. Karena itu komunis Tiongkok mengubah perangainya.

“Di masa lalu, mereka mengklaim bersahabat dekat dengan Australia yang layaknya seperti hubungan saudara sekandung. Sekarang menampakkan muka ingin menerkam mangsanya dengan menjatuhkan sanksi kepada Australia, dan menunjukkan sikap bahwa jika Anda tidak mau menuruti kehendak saya, maka saya akan membalasnya dengan lebih kejam ….. Inilah perangai asli komunis Tiongkok,” kata Tian Yuan.

Seorang kolumnis yang tinggal di Amerika Serikat, dengan akun  @gobieast, mengungkapkan bahwa pada pertemuan RCEP baru-baru ini, komunis Tiongkok masih berteriak lantang soal perdagangan bebas dan adil, kemudian menandatangani kesepakatan perdagangan dengan 14 negara. 

Di luar dugaan, beberapa hari kemudian, sanksi terhadap negara partisipan kesepakatan itu mulai diberlakukan dengan tanpa rasa malu.

“Komunis Tiongkok selalu menggunakan perdagangan dan pasar sebagai alat ancaman, serangan, dan senjata untuk mencapai berbagai tujuan jahatnya dalam pertukaran internasional. Serangan ala serigala yang dipraktikkan komunis Tiongkok terhadap perdagangan dengan Australia sepenuhnya mengungkap sikap tersebut. Ini adalah rezim gangster yang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya,” katanya. 

@gobieast berpendapat bahwa gembark-gembor komunis Tiongkok yang akan terus mempertahankan multilateralisme, perdagangan bebas dan adil hanyalah dalih untuk mencapai tujuan strategisnya. Komunis Tiongkok tidak pernah bermaksud untuk benar-benar menerapkan apa yang pernah diucapkannya.

Baru-baru ini, komunis Tiongkok memberi Australia sebuah daftar yang memuat 14 item ketidakpuasan, termasuk Australia menentang komunis Tiongkok dalam masalah Taiwan dan Hongkong, pembatasan investasi Tiongkok di Australia, partisipasi Huawei dalam pembangunan jaringan 5G, dan mengkritik komunis Tiongkok soal penyembunyian fakta situasi epidemi virus Komunis Tiongkok atau covid 19.

Voice of America yang dalam beberapa tahun terakhir tampak relatif pro-komunis Tiongkok pun berpendapat bahwa titik balik dalam hubungan antara kedua negara tersebut terjadi pada awal pandemi virus komunis Tiongkok  tahun ini.

Terutama Perdana Menteri Australia Scott Morrison meminta komunitas internasional untuk melakukan penyelidikan independen terhadap sumber virus COVID-19 yang merebak di daratan Tiongkok. Hal mana kian membuat sakit hati Beijing. 

Setelah itu, balas dendam komunis Tiongkok secara bertahap diterapkan dari isu komoditas jelai, daging sapi, batu bara, dan makanan laut meluas sampai kayu, gula, anggur, kapas dan lainnya. Terkecuali bijih besi dan gas alam yang sangat dibutuhkan oleh komunis Tiongkok.

@gobieast menyatakan, “Demi memperoleh pasar dan keuntungan ekonomi, ‘meneguk racun’ demi  memuaskan dahaga dalam dunia perdagangan sebenarnya adalah tragedi bagi komunitas internasional. Masyarakat internasional harus mengambil kejadian Australia diserang oleh pemerintah komunis Tiongkok ini sebagai contoh. Berurusan dengan komunis Tiongkok seperti berurusan dengan iblis, yang harganya harus dibayar dengan hati nurani tertusuk dan menerima penghinaan.”

@gobieast menunjukkan bahwa komunis Tiongkok menyebarkan virus Komunis Tiongkok ke seluruh dunia, tetapi telah menjadikan persediaan medis sebagai senjata, dan dunia juga belum berhasil mempelajarinya secara saksama. Ia percaya bahwa komunitas internasional seharusnya bersatu untuk menolak perdagangan apapun dengan komunis Tiongkok, menahan diri dari berurusan dengan iblis, dan tidak terpikat oleh kata-kata manis iblis, serta secara bersama-sama melawan komunis Tiongkok yang jahat.

Sementara menurut Tian Yuan, komunis Tiongkok bahkan menantang tatanan tradisional baik di Laut Tiongkok Selatan, Asia dan dunia. Dalam keadaan seperti itu, konflik antara komunis Tiongkok dan Amerika Serikat tidak dapat dihindari, dan pemihakan Australia ke Amerika Serikat juga tidak dapat dihindari.

“Hanya ada satu pilihan, yaitu Australia akan terus berdiri di pihak Amerika Serikat. Karena tidak dapat menyerahkan pertahanannya, kemakmuran dan perkembangan kawasan, serta stabilitas kawasan ini kepada komunis Tiongkok. Jika demikian, Australia akan menjadi negara boneka komunis Tiongkok. Hanya Amerika Serikat yang dapat menjaga tidak hanya masalah perkembangan ekonomi Australia yang stabil, tetapi juga stabilitas politik, diplomatik dan militer di kawasan tersebut,” kata Tian Yuan.

Tian Yuan percaya bahwa komunis Tiongkok yang melakukan pendekatan ala “serigala perang” dalam hubungan ekonomi dan diplomatik hanya dapat membuat Australia lebih merangkul Amerika Serikat.

Sementara itu bagi mantan Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull dalam sebuah wawancara media pada 27 November mengatakan bahwa upaya komunis Tiongkok untuk memaksa Australia mengubah kebijakannya tidak akan tercapai, dan itu hanya akan merusak citra Beijing di dunia internasional. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular