oleh Huang Xiaotang

Peristiwa penyensoran dan pemblokiran secara tidak adil yang dilakukan Twitter dalam pemilu Amerika Serikat 2020, mendorong pengguna sosmed yang ingin bebas menyampaikan pendapat beralih ke platform sosmed lainnya, yakni ‘Parler’. 

Perusahaan ‘Parler’ baru-baru ini mengumumkan bahwa investor ‘Parler’ adalah miliarder Amerika Serikat Rebekah Mercer, bukan orang asing sebagaimana rumor yang beredar di internet.

‘Washington Examiner’ baru-baru ini memberitakan bahwa dari siaran pers ‘Parler’ diketahui bahwa ‘Parler’ adalah platform sosmed yang berkembang pesat yang didedikasikan untuk kebebasan berbicara. 

 ‘Parler mengumumkan bahwa investor yang sebelumnya tidak dikenal adalah Rebecca Mercer, seorang wanita warga Amerika Serikat yang dikenal karena dedikasinya pada filantropi dan menjunjung tinggi nilai-nilai Amerika Serikat.

Dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah orang mempertanyakan soal pembiayaan perusahaan ‘Parler’ dan latar belakang kepala eksekutif perusahaan yang bernama John Matze, termasuk rekan kurator Ted x MidAtlantic dan seorang bernama Dave Troy yang memproklamirkan dirinya sebagai “ahli disinformasi”. 

Troy baru-baru ini dalam pesan tweet-nya menyebutkan bahwa dirinya yakin perangkat lunak itu terkait dengan Rusia karena John Matze menikah dengan seorang wanita Rusia.Namun, Dan Bongino, pembawa acara radio pro-konservatif yang memiliki sebagian saham di ‘Parler’ langsung membantahnya dengan mengatakan bahwa itu adalah teori konspirasi yang tidak realistis.

BACA JUGA :  Bos Sosmed Parler Membela Kebebasan Berpendapat : ‘Beropini Tidak Melawan Hukum’

Rebecca Mercer, putri miliarder hedge fund Robert Mercer telah bertahun-tahun aktif berdonasi mendukung institusi dan politisi pihak konservatif, termasuk kampanye Presiden Trump pada tahun 2016, lembaga pemikir ‘Goldwater Institute’, situs web berita ‘Breitbart News’ dan komite aksi politik super dari Senator Kongres Ted Cruz, dan lain-lain.

Rebecca Mercer dalam pernyataannya menyebutkan bahwa John Matze bersama sdirinya aya mendirikan ‘Parler’, sebuah platform medsos netral yang mendukung kebebasan berbicara dan sebuah lingkungan yang melindungi privasi penggunanya.

Rebecca Mercer menyebutkan bahwa bapak pendiri bangsa Benjamin Franklin telah memperingatkan  siapa pun yang ingin menggulingkan kebebasan suatu negara dimulai dengan menekan kebebasan berbicara.

Kelaliman dan tirani yang kian tumbuh pada diri raksasa teknologi perlu ada orang yang memimpin penentangan terhadap perilaku data mining (kerahasiaan) dan untuk melindungi kebebasan berbicara online. 

Menurut Rebecca, ‘Parler’ adalah mercusuar bagi masyarakat sosmed yang menghargai kebebasan berbicara dan melindungi privasi.

Setelah ‘Twitter’ dan ‘Facebook’ menerapkan penyensoran ketat terhadap berita dari kaum konservatif, jumlah pengguna ‘Parler’ mengalami peningkatan pesat selama beberapa bulan terakhir. Kepala eksekutif perusahaan, John Matze mengatakan bahwa jumlah unduhan dan pengguna ‘Parler’ telah melonjak dari 4,5 juta sebelumnya menjadi 10 juta sekarang. 

“Tampaknya masyarakat mulai tidak percaya lagi kepada raksasa teknologi besar,” katanya.  (sin)

Video Rekomendasi : 

Share
Tag: Kategori: GADGET TEKNOLOGI

Video Popular