oleh Luo Tingting

Seorang pakar Partai Komunis Tiongkok entah sengaja atau tidak, mengungkapkan bahwa hubungan bilateral antara Amerika Serikat dengan Tiongkok terus memburuk sejak Presiden Amerika Serikat dijabat oleh Donald Trump. Oleh karena itu, Tiongkok  bertaruh dengan menjagokan Joe Biden demi kembali “menjinakkan Amerika Serikat”

Sebuah video pidato Di Dongsheng, wakil direktur merangkap sekretaris jenderal Pusat Kajian Strategis Luar Negeri Tiongkok di ‘Guan Video Studio’ di Shanghai pada 28 November telah beredar di internet baru-baru ini.

Dalam pidatonya Di Dongsheng mengatakan : “Pemerintahan Trump berperang dagang dengan Tiongkok. Mengapa kita tidak mampu mempengaruhi Trump? Di masa lalu antara tahun 1992 hingga 2016, berbagai masalah yang timbul antara Tiongkok dengan Amerika Serikat nyaris seluruhnya dapat diselesaikan. Semua krisis, apakah itu insiden kapal laut ‘Yinhe’, pemboman kedutaan, atau insiden kecelakaan pesawat, semua itu dapat diatasi dalam waktu tidak lama.”

Di Dongsheng  menunjukkan bahwa alasan mengapa Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir tidak kesulitan untuk mengatasi Amerika Serikat adalah karena Wall Street berdiri dan berbicara untuk Tiongkok. 

“Apa alasannya ? Karena ada orang-orang kita di sana, kita punya teman lama yang berada dalam lingkaran inti kekuatan Amerika Serikat!” kata Di Dongsheng.

Seperti yang kita semua ketahui, ada perpaduan kepentingan yang mendalam antara komunis Tiongkok dengan Wall Street. Selama bertahun-tahun, lembaga investasi utama Wall Street, seperti Morgan Stanley, Goldman Sachs, dan JP Morgan Chase telah memainkan peran kunci dalam mendanai pembiayaan luar negeri komunis Tiongkok, seperti menjadi penjamin emisi utama, sponsor, penasihat keuangan, dan sebagainya. Banyak dari putra putri pejabat tingkat tinggi Partai Komunis Tiongkok juga bekerja di lembaga investasi di Wall Street.

Raksasa di Wall Street telah sepenuhnya menjadi agen Beijing di Amerika Serikat yang “mengabdi” Partai Komunis Tiongkok.

Namun, semua itu tiba-tiba berakhir dengan naiknya Presiden Trump. Di Dongsheng mengatakan bahwa setelah tahun 2016, Wall Street tidak mampu mempengaruhi Presiden Trump. 

Sebelum mulainya perang dagang Tiongkok dengan Amerika Serikat, Wall Street mencoba untuk membantu, tetapi ibaratnya “ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai”.

Segera setelah itu, dengan ekspresi menggoda Di Dongsheng mengatakan : “Tapi sekarang kita melihat Joe Biden yang naik panggung”.

Para elit tradisional, elit politik, dan elit pro-kemapanan, mereka memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Wall Street. Semua orang melihat bahwa Trump mengatakan bahwa putra Joe Biden memiliki industri keuangan di dunia. 

Di Dongsheng mengatakan : “Siapa yang membantunya membangun industri keuangan ? Mengertikah kalian ? Di sana ada bisnis.”

Dunia luar percaya bahwa ungkapan Di Dongsheng itu menyiratkan bahwa komunis Tiongkok dan keluarga Biden memiliki kaitan kepentingan. Zhongnanhai mencoba pasang taruhan pada Joe Biden demi keinginan untuk “menjinakan Amerika Serikat”.

Trump : Joe Biden berkolusi dengan komunis Tiongkok dan mengkhianati Amerika Serikat

Menjelang ajang pemilihan presiden Amerika Serikat, skandal perangkat keras keluarga Biden terungkap. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa selama masa jabatannya sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden memanfaatkan putranya Hunter Biden untuk bertransaksi korupsi komersial dengan China Huaxin Energy Corporation guna mendapatkan dana dalam jumlah besar.

Selain itu, pada bulan Desember 2013, Joe Biden yang menjabat sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat bersama Hunter Biden berkunjung ke daratan Tiongkok dan bertemu dengan Pemimpin Tiongkok,  Xi Jinping. 

Setelah kunjungan itu, Hunter menerima dana investasi sebesar USD. 1,5 miliar dari komunis Tiongkok. Hubungan dengan keluarga Biden tersebut tentu merupakan kesempatan yang baik bagi komunis Tiongkok untuk menyusup lebih mendalam ke Amerika Serikat.

Presiden Trump secara terbuka menyatakan dalam banyak kesempatan bahwa Joe Biden adalah seorang politikus yang korup, berkolusi dengan Partai Komunis Tiongkok dan mengkhianati kepentingan Amerika Serikat. Jika Joe Biden terpilih, maka Partai Komunis Tiongkok yang akan mengendalikan Amerika Serikat.

Xi Jinping membantu Joe Biden “menjaga stabilitas” ?

Pada pemilu Amerika Serikat 2020, kubu Biden mencoba mencuri hasil pemilu melalui penipuan. Pada 7 November, Biden mengumumkan kemenangannya meskipun pengumuman ini tidak memiliki efek hukum, hanya karena penyebaran berita media sayap kiri.

Presiden Trump mengutuk keras Biden atas pencurian suara dalam pemilu dan secara aktif mempromosikan pertarungan hukum. Trump berjanji untuk menegakkan Konstitusi Amerika Serikat dan kekuasaan elektoral warga dan mendapatkan kembali kemenangan yang menjadi miliknya.

Setelah 2 pekan menunggu-nunggu tanpa hasil, Xi Jinping akhirnya mengirimkan ucapan “berbau” selamat kepada Joe Biden melalui kalimat yang cukup singkat, pendek dan berhati-hati. 

Xi Jinping hanya berharap Joe Biden dapat mendorong perkembangan hubungan  Tiongkok dengan Amerika Serikat menuju hubungan yang sehat, stabil dan melakukan kerja sama saling menguntungkan. Tetapi dalam kalimatnya Xi Jinping tidak menyinggung soal hubungan pribadinya dengan Biden.

Li Zhengxiu, seorang sarjana Yayasan Riset Kebijakan Nasional Taiwan kepada Radio Free Asia menilai bahwa langkah Xi Jinping itu mencerminkan bahwa dia masih berusaha menghindari kecurigaan, yang mana karena prospek dari hubungan Amerika Serikat dengan komunis Tiongkok belum ada kepastian.

Beberapa analis berpendapat, kondisi ini justru mencerminkan bahwa Xi Jinping sedang mengalami ambivalensi secara psikologis. Ia kehilangan kemampuan untuk meramalkan prospek pemilu dan masa depan hubungan Tiongkok dengan Amerika Serikat. Begitu Trump berhasil “menggulingkan” Biden dan dinyatakan menang secara konstitusi, maka itu akan menjadi mimpi buruk lain bagi Xi Jinping.

Sementara itu menurut komentator politik Tang Jingyuan, dia  percaya bahwa Xi Jinping mengirim ucapan selamat bukan karena dia yakin bahwa Joe Biden telah menang, tetapi karena dia menemukan bahwa Joe Biden bakal sulit bertahan. 

Ucapan selamat sebenarnya adalah peringatan bagi Joe Biden : “Kita semua berada di perahu yang sama, dan kita harus bekerja sama untuk mencapai solusi win-win.”

Komunis Tiongkok diduga terlibat dalam memanipulasi pemilu Amerika Serikat 2020

Saat ini, sudah ada banyak saksi dan bukti kecurangan yang membuktikan bahwa pemilu Amerika Serikat 2020 adalah sebuah pemilu yang penuh dengan kecurangan. Ada bukti bahwa mesin pemungutan suara Dominion mengalihkan jutaan suara Trump ke pihak Joe Biden selama pemilihan umum berlangsung. Dan komunis Tiongkok dituduh sebagai pengendali Dominion yang sebenarnya.

Menurut dokumen pengajuan Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC),  komunis Tiongkok menyuntikkan dana hingga USD. 400 juta ke dalam perusahaan induk Dominion, perusahaan modal ventura bernama Staple Street Capital, melalui UBS Securities.

Semakin banyak bukti menunjuk ke komunis Tiongkok yang mengintervensi dan memanipulasi pemilihan Amerika Serikat tahun ini dengan cara yang berbeda-beda. Dalam pidatonya pada 2 Desember lalu, tim pengacara Trump, Lin Wood mengarahkan “ujung tombak” langsung ke komunis Tiongkok.

“Kami tidak akan mengizinkan kalian (Partai Komunis Tiongkok) merampas negara kami, dan itu tidak akan pernah terjadi di bawah pengawasan kami. Ini adalah Amerika Serikat. Kalian salah sasaran !” kata Lin Wood. 

Sementara Trump berjanji terus berjuang, seperti diungkapkannya pada 2 Desember lalu, saat Trump menyampaikan pidato terpentingnya di Gedung Putih.  Trump mengindikasikan bahwa dirinya yakin akan menjadi pemenang akhir dari pemilu. Para pengamat mengatakan bahwa karena semakin banyak kasus penipuan yang terungkap, tampaknya taruhan komunis Tiongkok pada Biden mungkin hanya berupa sukacita yang tidak riil. (Sin)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular