oleh Changchun

Kasus banding atas kecurangan pemilu yang terjadi di 4 negara bagian berstatus ayunan yang diprakarsai oleh Negara Bagian Texas kini telah membentuk batas partisan yang jelas, dengan munculnya konfrontasi terbuka antara kubu merah dan biru yang mewakili kontestan pemilu Amerika Serikat tahun 2020. Presiden Trump mendesak Mahkamah Agung untuk menyelesaikan kecurangan pemilu demi menyelamatkan Amerika Serikat.

Texas meminta Mahkamah Agung AS untuk memveto hasil pemungutan suara dari 4 negara bagian berstatus ayunan dengan alasan bahwa proses pemilihannya tidak konstitusional. Presiden AS Trump dan 18 negara bagian di seluruh negeri segera menanggapi untuk mendukung gugatan Texas. Selain itu, hingga 11 Desember, sudah ada 106 orang anggota House of Representatives yang menyatakan dukungan mereka terhadap gugatan yang diajukan Texas.

Pernyataan dukungan dari 106 orang anggota House of Representatives dari Partai Republik  yang mendukung gugatan Texas menyebutkan :  Ringkasan ini telah menarik perhatian kami sebagai anggota Parlemen. Ribuan pemilih setuju dengan hal ini. Mereka percaya bahwa pemilihan presiden tahun 2020 melibatkan pelanggaran terhadap konstitusi dan regulasi, sehingga hasilnya patut dicurigai.

Lance Gooden, anggota Dewan Perwakilan dari Texas menulis dalam akun tweet-nya : Setiap orang memiliki pendapat mereka sendiri tentang penipuan pemilu. Saya tidak tertarik dengan apa yang orang pikirkan. Yang saya inginkan adalah fakta.

Pada saat yang sama, jaksa agung Partai Demokrat dari 22 negara bagian juga mengirim surat ke Mahkamah Agung AS yang meminta mereka agar tidak menerima gugatan Texas.

Tang Jingyuan, komentator politik yang tinggal di AS mengatakan : “Di negara bagian yang didominasi Partai Republik, dukungan mereka untuk Texas sangat penting. Kami telah melihat bahwa setidaknya ada enam negara bagian yang menyampaikan sikapnya untuk mendukung. Mereka bahkan menyatakan keinginannya untuk ikut menggugat. Dengan kata lain, mereka semua berharap dapat menjadi bagian dari penggugat. Namun kita sudah melihat dari sisi tergugat, yakni meski ada juga 20 negara bagian yang mendukung tergugat, sebenarnya mereka tidak memiliki makna yang substantif, mereka hanya memiliki arti di sisi opini publik”.

Lan Shu, komentator lainnya berpendapat bahwa jika Konstitusi ditafsirkan sesuai dengan maksud asli yang ditulis oleh bapak pendiri Amerika Serikat, tidak perlu diragukan lagi bahwa gugatan Texas akan menang. Orang-orang ini yang melompat keluar untuk mendukung terdakwa mencoba untuk menggunakan pengaruh politik mereka untuk mempengaruhi kemandirian sistem peradilan Amerika.

“Sekarang negara bagian yang berwarna biru ini, mereka mewakili beberapa kelompok politik di negara bagian biru, tetapi mereka sendiri bukanlah korban, korban sebenarnya adalah semua orang Amerika Serikat yang tinggal di Amerika Serikat yang menghormati Konstitusi AS. Jadi orang-orang di negara bagian biru ini sebenarnya ingin menempatkan kepentingan politik mereka di atas proses peradilan, berharap dapat mempengaruhi Mahkamah Agung, agar Mahkamah Agung mempertimbangkan gugatan Texas sesuai dengan keinginan mereka, bukan mempertimbangkan gugatan Texas menurut keinginan konstitusi”, kata Lan Shu.

Texas mendeklarasikan kemerdekaannya dari Meksiko pada tahun 1836 dan bergabung dengan Konfederasi AS pada tahun 1845, menjadi negara bagian ke-28 di Amerika Serikat dan satu-satunya negara bagian di Amerika Serikat yang telah bergabung dengan Konfederasi AS sebagai negara merdeka. Dan Negara Bagian Texas merupakan satu-satunya negara bagian di AS yang memiliki kekuatan militer sendiri. Kyle Biedermann, anggota Perwakilan Texas memposting pesannya di Facebook : Sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 1 paragraf 2 ‘Konstitusi Texas’ bahwa, semua kekuatan politik melekat pada rakyat, dan semua pemerintahan bebas didirikan untuk keuntungan mereka … Orang Texas memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk mengubah, mereformasi, atau menghapus pemerintah dengan cara apa pun yang mereka anggap baik.

Tang Jingyuan mengatakan : “Alasan mengapa banyak negara bagian dapat tetap berada di bawah pemerintahan federasi ini sebenarnya karena kehebatan daripada Konstitusi AS. Jika saja putusan Mahkamah Agung nantinya tidak dapat secara adil menjaga martabat dan status Konstitusi. Maka konsekuensinya adalah negara bagian mana pun di kemudian hari dapat meniru perilaku negara-negara bagian yang dikuasai Partai Demokrat sekarang untuk melanggar, mengubah, atau bahkan mengabaikan ketentuan dan otoritas konstitusi. Maka itu akan dapat membuat Amerika Serikat berantakan”.

Tang Jingyuan percaya bahwa di masa lalu, rakyat Texas memilih merdeka dari Meksiko karena pemerintah Meksiko inkonstitusional. Jika Mahkamah Agung memutuskan untuk menolak gugatan Texas, maka itu sama saja dengan mengumumkan bahwa Konstitusi AS telah berakhir. Texas sebagai negara bagian dengan ekonomi terbesar kedua di Amerika Serikat, tak seorang pun berani menjamin bahwa ia tidak akan kembali mendeklarasikan kemerdekaannya, alias keluar sebagai negara bagian AS ?

“Di permukaan sekarang yang tampak adalah konfrontasi antara Partai Republik dan Partai Demokrat. Saya pikir ini adalah fenomena yang berada di permukaan. Sebenarnya, inti dari gugatan ini adalah pertempuran antara yang pihak yang membela dan menentang Konstitusi AS. Inilah sebabnya mengapa Presiden Trump mengatakan bahwa jika penipuan pemilu kali ini tidak dapat diberantas, maka Amerika Serikat tidak akan lagi memiliki negara”, kata Tang Jingyuan.

Ketika Texas mengajukan gugatan terhadap pemilihan yang inkonstitusional di 4 negara bagian kepada Mahkamah Agung AS, FBI mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan masalah 500.000 surat suara palsu Biden.

Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan bahwa pihaknya akan segera merilis laporan yang terkait fenomena aneh dalam pememilihan umum AS di 4 negara bagian yang berstatus ayunan. (sin)

 

Share

Video Popular