NTD 

Seorang mantan perwira Pasukan Khusus Amerika Serikat memperingatkan bahwa strategi revolusi warna yang digunakan untuk menangani para pemimpin asing sekarang digunakan oleh pasukan yang menentang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump  untuk menggulingkannya.

Mantan perwira yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada grup media The Epoch Times bahwa revolusi warna adalah strategi untuk mempengaruhi perubahan rezim.

 “Apa yang saya lihat adalah pemberontakan Marxis yang menggunakan revolusi warna untuk mempengaruhi perubahan rezim,” kata mantan perwira itu. 

Menurutnya, Transition Integrity Project diluncurkan pada 2019  menunjukkan bahwa tahun ini peristiwa pemilihan presiden jelas diatur oleh kaum Marxis di Partai Demokrat dan sekutu Marxis mereka di pemerintahan asing. 

Transition Integrity Project adalah proyek yang bertujuan untuk mengidentifikasi potensi risiko terhadap integritas pemilu dan proses transisi pada 3 November 2020. 

Mantan perwira itu menambahkan, bahwa itu mungkin tidak terjadi seperti yang mereka harapkan, karena setiap kali mereka melakukan tindakan seperti itu, musuh Trump  akan mendapatkan suara. Tapi rencana mereka bukan untuk mengaku kalah. Tujuannya di sini tidak pernah kepresidenan. 

” Tujuan dari kekuatan oposisi adalah untuk mengubah negara secara mendasar. Mereka menyerang keefektifan konstitusi,” katanya. 

Untuk mencapai tujuan mereka, pasukan anti-Trump akan memfokuskan energi  guna mempengaruhi pemilihan.  Beberapa revolusi warna paling terkenal terjadi dalam kekacauan yang disebabkan oleh pemilihan umum yang disengketakan. 

Pada tahun 2004, protes berskala besar di Ukraina menyusul tuduhan penipuan dalam pemilihan presiden mendorong pemungutan suara baru di negara tersebut. Kandidat Viktor Yushchenko, didukung oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat, menang. Pemilu awalnya menunjukkan bahwa Viktor Yanukovych yang pro-Rusia menang. 

Mantan perwira  itu mengatakan bahwa strategi yang digunakan oleh pasukan anti-Trump dapat ditemukan dalam panduan pasukan khusus untuk menggulingkan pemerintah. 

“Apa yang Anda pelajari dari saya dapat dikonfirmasi dalam semua doktrin perang tidak konvensional yang lebih lama. Anda dapat membaca manual kami dan mengekstrak informasi yang saya katakan darinya. Inilah yang terjadi,” kata mantan perwira itu. 

Kemudian, pejabat tersebut berbicara tentang bagaimana Presiden Amerika Serikat, Barack Obama menggunakan masa jabatan delapan tahun untuk menanamkan sekutu politiknya sepanjang waktu melalui berbagai lembaga guna membangun “pemerintahan yang dalam” yang didukung oleh media tradisional arus utama dan preman atau pemerintahan bayangan. 

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tidak dapat membiarkan rakyatnya sendiri masuk ke dalam pemerintahan.

Mantan perwira itu mengatakan, “Jadi, kami telah mencapai titik ini, pasukan bawah tanah adalah orang-orang di dalam pemerintah. Kami melihat bagaimana mereka menentang presiden dan bagaimana mereka mencoba untuk mendakwa dia. “

Lebih jauh mantan perwira menegaskan bahwa media berita adalah pembantu eksternal. 

“Satu-satunya hal yang belum kami temui adalah gerilya nyata. Kami akan salah mengira itu sebagai Antifa atau Black Lives Matter.  Ada kaum revolusioner profesional dalam gerakan ini,”  katanya.  (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular