oleh Hu Yuanzhen

Mendekati berakhirnya tahun ini, sejumlah perusahaan dan pabrik di Provinsi Zhejiang, Hunan, Jiangxi, dan lainnya di Tiongkok,  telah menerima pemberitahuan darurat tentang pembatasan wajib atas penggunaan listrik dan menghentikan produksi pabrik. 

Baru-baru ini, ada laporan masuk dari sejumlah pabrik di Provinsi Zhejiang seperti Kota Yiwu, Jinhua, Ningbo, dan Wenzhou, Tiongkok. Laporan menyebutkan bahwa mereka telah menerima pemberitahuan darurat yang isinya meminta pabrik-pabrik pemrosesan untuk menghentikan operasi hingga 31 Desember. Selain itu, lembaga pemerintah juga telah menerima pemberitahuan yang melarang penggunaan AC (air conditioner) bila suhu udara berada di atas 3 derajat celcius.

Akun publik WeChat ‘Kua Jing Xiniu’ menyatakan bahwa saat ini sebagian besar pabrik milik investor asing di Provinsi Zhejiang telah menerima pemberitahuan tentang penghentian pasokan listrik dan pembatasan produksi. 

Perusahaan pemasok listrik swasta di Qianku County, Wenzhou telah mengeluarkan pemberitahuan yang menyatakan: “Terhadap pabrik yang memiliki konsumsi energi tinggi dengan hasil produksi rendah akan diberlakukan tertib konsumsi listrik mulai 15 Desember hingga 31 Desember.

Jadwal pembatasan listrik pabrik Yiwu . (Screenshot)

Selama periode ini, bagian pengawasan power supply akan memantau produksi dan konsumsi listrik perusahaan selama 24 jam. Jika ternyata pabrik tidak beroperasi pada waktu produksinya, maka akan dilakukan pemadaman listrik wajib untuk menghentikan produksi selama 20 hari.”

Perusahaan swasta semakin sulit bertahan akibat gagalnya kebijakan ekonomi sirkulasi internal

Seorang pekerja migran bernama samaran Zhang Mei, di sebuah pabrik di Kota Yiwu, Zhejiang mengatakan kepada reporter grup media Epoch Times, “Tahun ini terlalu sulit. Pabrik-pabrik di Yiwu ini secara berturut-turut menghentikan kegiatan. Sulit bagi kami yang pekerja migran. Pembatasan menggunakan listrik justru diterapkan pada akhir tahun dimana kegiatan pabrik sedang tinggi-tingginya. Entah apa yang harus saya lakukan.”

Saat menjelang akhir tahun, seluruh industri perdagangan asing di Yiwu mengkhawatirkan tentang arus pengiriman barang, dimana hasil produksi di beberapa pabrik mulai tampak menumpuk karena terganggunya arus transportasi oleh pemadaman listrik.

(Screenshot)

Menurut selebaran tentang “Jadwal Pemadaman Listrik bulan Desember untuk Industri” yang dikeluarkan oleh Kota Jinhua dan Yiwu, bahwa semua pabrik kecuali perusahaan tipe A   tidak terkena pengaruh. Perusahaan tipe A  adalah perusahaan pengembangan kunci provinsi. Sementara itu perusahaan lain terkena batasan penggunaan listrik yang berbeda sesuai dengan klasifikasinya. 

(Screenshot)

Seperti perusahaan tipe B 3 On 1 Off, 3 hari nyala 1 hari padam. Perusahaan tipe C 2 On 2 Off, 2 hari nyala 1 hari padam. Perusahaan tipe D terkena pemadaman total. 

Standar yang diberlakukan bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi semua memberlakukan pembatasan dan pemadaman listrik.

Keterbatasan pasokan listrik juga terjadi di Provinsi Hunan, Mongolia Dalam, Jiangxi dan lainnya

Selain Provinsi Zhejiang, Hunan, Mongolia Dalam, Jiangxi dan wilayah lainnya juga memberlakukan pembatasan dan pemadaman listrik. Pembatasan yang diberlakukan di Provinsi Hunan bahkan meliputi seluruh provinsi, termasuk Kota Changsha, Hengyang, Yiyang, Xiangtan, Yueyang, Zhuzhou, Changde, Zhuzhou, Huaihua, Yongzhou, dan lain-lain.

Di Changsha mengharuskan semua AC tidak dioperasikan saat udara di bawah 20 derajat Celcius, dan peralatan berkonsumsi energi tinggi seperti kompor listrik dan oven listrik tidak digunakan. 

Jalan Houzhai, Kota Yiwu, mengeluarkan rencana pengendalian pembatasan. (Tangkapan layar jaringan)

Kota Yiyang mengharuskan lampu lanskap dimatikan dari pukul 17:00-20:00. Lampu jalan akan dinyalakan setengahnya. Qidong, Hengyang sudah diberlakukan pemadaman bergilir.

Unit penerima pasokan listrik khusus seperti rumah sakit, sekolahan juga terkena pemadaman, dilarang menggunakan AC

Menurut ketentuan mengenai “Dwi Program Kontrol Energi” yang dikeluarkan oleh Yiwu, Zhejiang, bahwa semua perusahaan wajib menghentikan semua peralatan pemanas dan lift, termasuk sekolah, rumah sakit, bank, supermarket, toko dan lainnya. Unit-unit usaha kecil dan perusahaan tipe D wajib sepenuhnya menghentikan kegiatan produksi yang menggunakan listrik.

Pada 16 Desember, Sekolah Menengah Tianjiabing di Kota Zhoushan, Provinsi Zhejiang mengeluarkan pemberitahuan di situs resminya, mengumumkan bahwa AC tidak boleh dinyalakan jika suhu udara di luar ruangan berada di atas 3 °C.

Zhejiang memberlakukan pembatasan listrik, dan melakukan penentuan perilaku yang tidak dapat dipercaya untuk unit yang tidak menerapkannya. (Tangkapan layar jaringan)

Selain itu, kantor administrasi energi di Kota Hangzhou, Jiande mengeluarkan pemberitahuan mengenai akan dilakukan pengontrolan ketat terhadap penggunaan AC pada gedung-gedung baik milik pemerintah, hotel, pusat perbelanjaan, supermarket, dan bank. Bagi  yang melanggar ketentuan akan dikenakan sanksi administratif.

Naik tangga ke lantai 20 atau lebih untuk berkantor lantaran listrik gedung perkantoran padam

Membatasi penggunaan listrik  mempengaruhi kehidupan warga, membuat netizen menyampaikan keluhannya lewat internet. Keluhan itu antara lain netizen mengatakan,  “Untuk berkantor, perlu naik tangga ke lantai 20 atau lebih lantaran listrik gedung perkantoran padam”.

(Screenshot)

Netizen lainnya mengeluh, “Pada malam hari, jalanan gelap gulita karena tidak ada penerangan. Entahlah, apakah tingkat kriminalitas tidak meningkat? Ngeri juga waktu pulang ke rumah.”

Pasokan listrik ke rumah sakit juga dihentikan pada malam hari. Keadaan jadi kacau. Pasien yang tiba-tiba tidak sadarkan diri sangat butuh untuk mendapatkan CT scan, dan perubahan kondisi kesehatan. Perawat pemula terkena efek dari pemadaman listrik sehingga gagal melakukan penyuntikan. Listrik cadangan terlalu penting.

Sanksi terhadap batubara Australia merugikan ekonomi komunis Tiongkok sendiri

Komunis Tiongkok mengklaim bahwa penurunan pasokan listrik negara yang terjadi saat ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang rencana pengembangan listrik dan persyaratan dalam pengurangan kapasitas tenaga batubara yang digariskan dalam Repelita ke-13, serta adanya faktor musim dingin. Tetapi banyak komentator berpendapat bahwa hal itu cenderung merupakan dampak dari pemberlakuan sanksi impor batubara Australia yang dijatuhkan pemerintah komunis Tiongkok.

Tiongkok mengimpor batubara terutama dari Australia, Indonesia, Rusia. Batubara dari Australia karena kualitasnya  tinggi dan harganya murah  menjadi pilihan utama. Banyak pembangkit listrik di sepanjang pantai daratan Tiongkok melakukan retrofit untuk mesin pembakarannya, sehingga lebih memilih untuk menggunakan batu bara Australia.

Menurut laporan media Tiongkok, persediaan batubara di pembangkit listrik di seluruh negeri per bulan Oktober masih cukup banyak. Namun dalam lebih dari sebulan ini, harga batubara naik tajam, dan masalah terbesarnya adalah karena batubara Australia.

Pemerintah Australia membuat komunis Tiongkok marah karena menyerukan penyelidikan independen terhadap asal mula virus komunis Tiongkok atau COVID-19. Setelah itu, komunis Tiongkok memberlakukan serangkaian boikot terhadap komoditas ekspor Australia ke Tiongkok. 

Baru-baru ini, hubungan Tiongkok dengan Australia kembali memburuk. Bulan lalu, pemerintah Tiongkok melarang pabrik baja dan perusahaan listrik Tiongkok membeli batubara Australia. Oleh karena itu sejumlah besar kapal batubara Australia dipersulit untuk berlabuh, membongkar muatan di pelabuhan Qinhuangdao, Pelabuhan Huanghua, Pelabuhan Jingtang dan lainnya.

Menurut laporan Bloomberg baru-baru ini, sebanyak 66 buah kapal yang membawa batubara Australia terdampar di pelabuhan Tiongkok dan mengalami penundaan pembongkaran. Ada 53 kapal curah yang membawa batubara Australia telah menunggu di pelabuhan Tiongkok selama hampir 4 minggu atau lebih. 39 kapal mengangkut sekitar 4,1 juta ton batubara metalurgi, 9 kapal membawa hampir 1,1 juta ton batubara termal, diperkirakan batubara yang diangkut oleh 53 kapal tersebut bernilai sekitar USD. 519 juta. Dan sebanyak 1.000 orang awak kapal hidup terkatung-katung di atas kapal.

Akibat batubara Australia tidak bisa masuk, pembangkit listrik di sepanjang pantai terpaksa untuk sementara waktu beralih ke batubara Indonesia atau batubara Rusia, tetapi terdapat kesenjangan besar antara baik batubara Indonesia atau batubara Rusia dengan batubara Australia dalam hal spesifikasinya.

Menurut berita terbaru dari Bloomberg News, seiring dengan naiknya harga batubara di daratan Tiongkok, pemerintah komunis Tiongkok mulai mengizinkan satu kapal bermuatan 135.000 ton batubara Australia untuk berlabuh dan membongkar muatan di pelabuhan Fangcheng, Tiongkok. Kapal tersebut telah menunggu selama hampir enam bulan di sana.  (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular