Alex Wu

Penghancuran secara paksa terhadap komunitas perumahan di Beijing yang menyebabkan ribuan pemilik rumah menggelar protes dalam beberapa hari terakhir. Pasalnya, pihak berwenang mengancam mereka untuk segera mengosongkan rumah-rumah mereka.  Rumah-rumah itu kebanyakan dihuni oleh para lansia. Seorang warga ditahan karena dugaan perannya dalam memicu aksi protes. Beberapa penduduk setempat kepada The Epoch Times mengatakan bahwa pembongkaran diperintahkan oleh pemerintah pusat

Penghancuran paksa rumah-rumah di  Xiangtang New Village, di distrik Changping, Beijing, dimulai pada 10 Desember 2020, kata penduduk kepada publikasi tersebut. Perumahan di sana terdapat sebanyak 3.800 rumah tangga dan sebanyak 500 rumah tangga sudah diberitahukan oleh pemerintah daerah bahwa rumah mereka akan dibongkar. Sebagian besar pemilik rumah di Xiangtang adalah lansia.

Seorang penduduk mengatakan, pemerintah daerah sudah memberikan label pada properti pribada wargai sebagai “konstruksi ilegal.” Aparat menggunakan ini sebagai alasan untuk membenarkan pembongkaran rumah dan tidak membayar kompensasi kepada pemilik rumah.

Penduduk itu mengatakan : “Pemerintah mengumumkan bahwa setiap orang harus pindah dalam waktu tujuh hari. Pemilik rumah sudah diberitahukan sehari sebelumnya sebelum rumahnya dibongkar.”

Penduduk lainnya menuturkan : “warga panik… mereka tidak tahu siapa yang akan menjadi target berikutnya.”

Seorang pemilik rumah berkata, “Tim pembongkaran sudah memutus aliran air, listrik, dan gas. Sekarang mereka telah memutus kabel internet. ”

Hingga 14 Desember 2020, lima rumah sudah diratakan dengan tanah, sebagaimana dikatakan penduduk kepada media.

Warga juga mengungkapkan bahwa pihak berwenang setempat telah meluncurkan ancaman. Jika pemilik rumah menolak untuk pindah, mereka harus membayar semua biaya pembongkaran dan relokasi Tindakan itu akan berdampak negatif pada nilai kredit sosial mereka.

Penduduk mengutip ancaman dari pihak berwenang yang mengatakan, “Jika Anda adalah penduduk Beijing dan menolak untuk pindah, tunjangan pensiun dan pensiun Anda akan ditangguhkan. Jika Anda memiliki kerabat di luar negeri, visa mereka ke Tiongkok akan ditolak. Jika Anda tidak pindah, kerabat Anda tidak akan pernah bisa kembali ke Tiongkok. “

‘Partai Komunis Tiongkok Lebih Buruk dari Fasis!’

The Epoch Times mendapatkan sebuah video yang telah beredar di media sosial. Pada 13 Desember 2020, yang menandai peringatan 83 tahun Pembantaian Nanjing selama Perang Dunia II, seorang pria tua memprotes di depan tim pembongkaran di jalan-jalan Xiangtang New Village. 

Pria tua itu berkata bahwa kakeknya berperang melawan penjajah Jepang selama perang, dan setelah mengalahkan Jepang, dia berjuang untuk Partai Komunis Tiongkok. Tapi sekarang rumahnya dirobohkan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Salah satu pengamat berkata, “Putra dan cucu para veteran sekarang dianiaya oleh otoritas Partai Komunis Tiongkok. Mengapa mereka ingin melawan mereka [PKT] saat itu ?! Ayah saya yang sudah tua telah menyaksikan bahwa Partai Komunis Tiongkok lebih buruk daripada fasis.”

Video lain dari seorang pria tua yang sama juga viral di media sosial. Pada 14 Desember, pria itu berdiri di atap rumah, mengibarkan bendera nasional Tiongkok, dan memprotes ketidakadilan yang dideritanya. Dia berkata, “Pemerintah ingin menghancurkan rumah saya. Istri saya sudah meninggal dunia, saya tidak punya tempat tujuan, dan saya tidak bisa hidup lagi. ” Rekaman itu juga menunjukkan tim pembongkaran memutuskan  aliran listrik.

Beberapa penduduk memberikan dengan video properti yang dihancurkan aparat. Sebuah rekaman menunjukkan, seorang pria tua di dalam rumahnya yang dingin dan mengkritik otoritas Partai Komunis Tiongkok karena memutus aliran listrik di musim dingin.

Video tersebut mengungkapkan bahwa banyak orang tua dan orang sakit yang dikurung di rumah, menuntut pemerintah daerah segera memulihkan aliran listrik. Pasalnya, semua rumah mengandalkan sistem pemanas listrik.

Warga Ditangkapi, Pensiunan Profesor Gelar Mogok Makan

Seorang warga lanjut usia ditangkap karena diduga menghasut aksi protes. Menurut penduduk setempat, Guo Lingmei, seorang pensiunan sutradara film dan putri penyair terkenal Tiongkok Guo Xiaochuan, dibawa pergi oleh polisi setempat dari rumahnya di  Xiangtang Village pada 5 Desember 2020.

Pemberitahuan penahanan Guo beredar di media sosial. Pemberitahuan tersebut menyatakan bahwa pada 12 Desember 2020, pihak berwenang menuduh Guo “menggunakan kerumunan orang untuk mengganggu ketertiban tempat umum.” Dia saat ini ditahan di Pusat Penahanan Changping. 

Sumber orang dalam mengatakan kepada publikasi bahwa Guo berjanji untuk tidak menyerah membela hak-haknya dan menyelamatkan komunitas.

(Kiri) Pemberitahuan penahanan Guo Lingmei dari polisi. (Kanan) Foto Guo. (Tangkapan layar disediakan oleh The Epoch Times)

Pemilik rumah yang ikut serta dalam aksi protes adalah salah satu orang pertama yang mana aliran air dan listriknya diputus oleh pihak berwenang, kata seorang penduduk. Pihak berwenang juga mengirim banyak petugas keamanan untuk memantau  pengunjuk rasa.

Salah satu pengunjuk rasa yang menjadi sasaran adalah Yang Yusheng, seorang pensiunan profesor di Universitas Ilmu Politik dan Hukum Tiongkok. 

Pada 14 Desember, Yang mengumumkan bahwa dia akan melakukan mogok makan. Berita tersebut diposting di media sosial dan menarik banyak perhatian. 

Ketika murid-muridnya pergi mengunjunginya, mereka dihentikan dan diganggu oleh penjaga keamanan yang disewa oleh pemerintah setempat untuk menegakkan pembongkaran, menurut postingan media sosial mereka.

Selain itu, Yang menelepon kantor pemerintah pusat untuk mengeluhkan tindakan ilegal dari pihak berwenang setempat dan menuntut listrik dan pasokan air segera dipulihkan. Terlepas dari usahanya, pemerintah daerah memutus pasokan air dan listrik serta mengeluarkan meteran listrik pada 13 Desember.

Yang juga menelepon kantor walikota Beijing dan sekretaris komite Partai Komunis Tiongkok Kota Praja Beijing, menuntut mereka menarik pekerja pembongkaran bersenjata atau “antek” dari Desa Xiangtang.

Perintah Pembongkaran Paksa Datang dari Pusat

Menurut warga, aparat setempat sudah berkali-kali mengatakan kepada warga, bahwa mereka tidak mengambil keputusan untuk melakukan pembongkaran dan merupakan perintah langsung dari pemerintah pusat.

Beberapa percaya alasan di balik pembongkaran paksa didasarkan pada prinsip-prinsip Feng shui, kepercayaan Tiongkok kuno dan tradisional yang mempelajari hubungan antara alam dan geografi, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat.

Seorang penduduk membandingkan Desa Xiangtang dengan vila di Pegunungan Qinling di Provinsi Shaanxi.

Warga itu berkata, “Ini bukanlah yang berani diputuskan oleh Cai Qi [walikota Beijing]. Pemerintah pusat pasti sudah memerintahkan pembongkaran. Ini mirip dengan kasus vila di Gunung Qinling karena Xi Jinping mengatakan  seharusnya hanya ada gunung dan sungai — mereka menghancurkan segalanya dan tidak ada ruang untuk negosiasi. “

Pada tahun 2018, pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping memerintahkan pembongkaran vila di Pegunungan Qinling di Provinsi Shaanxi, sebuah daerah yang dikenal sebagai “urat naga.” 

Menurut Feng shui, vila-vila itu terletak di “vena naga” dan menekan kekuatan Xi. Akibatnya, vila-vila tersebut harus dirobohkan.

Pembangkang Cai Xia, mantan profesor di Sekolah Partai Komite Sentral PKT dan putri dari mantan pejabat senior PKT, mengajukan banding bagi penduduk Desa Xiangtang di platform media sosial.

Cai menulis di Twitter: “Dikatakan bahwa beberapa orang bijak yang membantu Kaisar Xi [Xi Jinping] dengan Feng shui di ibu kota Beijing mengatakan  Desa Xiangtang terletak di lokasi yang menekan kekuasaan Xi, jadi rumah-rumah itu harus dibongkar. Warga berjuang mati-matian karena mereka diganggu dan diancam oleh polisi khusus dan penjaga keamanan. Kedua pihak berperang dan konfliknya menjadi serius. Seseorang  menulis surat kepada Perdana Menteri Li Keqiang dan  mendesak kepada pemerintah pusat dan pemerintah [kota] Beijing. Tampaknya situasinya semakin parah. Bukankah PKT menyebut diri mereka ateis materialistis !? ”

Cai menekankan, “Sebagian besar pemilik rumah adalah orang lanjut usia di atas usia 70 tahun. Cuaca di Beijing diperkirakan akan turun ke suhu terendah minggu depan pada -8 derajat Celcius. Penduduk yang berada dalam situasi putus asa dan [PKT] mengirim mereka ke kematian! Sungguh rezim yang kejam! Mereka yang mendukung tirani totaliter PKT telah kehilangan hati nuraninya! ” (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular