Current Affairs Military

Pada sore hari 27 November 2020, mobil Mohsen Fakhrizadeh yang dikenal sebagai “bapak senjata nuklir Iran” melakukan perjalanan dari Teheran ke Absard di timur. Dia ditembak hingga tewas dalam perjalanan. 

Menurut militer Iran, pembunuhnya menggunakan senapan mesin yang dikendalikan satelit dengan kecerdasan buatan (AI) dan pengenalan wajah untuk membunuh Fakhrizadeh.

Ramazan Sharif, juru bicara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), mengatakan pembunuhan itu dilakukan dengan alat elektronik canggih yang dipandu oleh perangkat satelit.

Menurut media pemerintah Iran “Young Journalists Club” dan kantor berita Mehr News Agency, wakil komandan Pasukan Pengawal Revolusi Iran, Ali Fadavi mengatakan bahwa senapan mesin yang dikendalikan satelit telah mengidentifikasi wajah Fakhrizadeh yang diperbesar. 13 tembakan dilepaskan terus menerus ke wajahnya.

Fadavi mengatakan senapan mesin itu dipasang di truk kargo Nissan dan “hanya ditujukan ke wajah Fakhrizadeh.” Di bagian samping, istri Fakhrizadeh tidak terluka. Jaraknya hanya 25 cm dari Fakhrizadeh.

Menurut Fadavi, saat kejadian, pengawal Fakhrizadeh melompati dan memblokir 4 tembakan untuk Fakhrizadeh. Ada 11 penjaga di tim Fakhrizadeh.Tidak ada pembunuh di tempat kejadian. 

“Kami memeriksa dan menemukan bahwa senapan mesin dikendalikan dari jarak jauh oleh satelit,” kata Fadavi.

Mengenai proses pembunuhan Fakhrizadeh, terdapat perbedaan besar pada pemberitaan sebelumnya. Wartawan Iran Mohamad Ahwaze pernah menyampaikan kabar di Twitter bahwa tim pembunuh berjumlah 62 orang. 12 diantaranya bertanggung jawab atas pembunuhan di tempat kejadian. Pejabat Iran mengatakan itu ditembak dengan senapan mesin remote control.

Kolonel Richard Kemp, seorang pensiunan kolonel Inggris, mengatakan bahwa pemenggalan Fakhrizadeh dapat menyelamatkan nyawa yang tak terhitung banyaknya. Ia adalah brigadir jenderal Pengawal Revolusi Iran, tidak hanya seorang komandan militer senior, tetapi juga seorang molekuler teroris internasional. 

Menurut pernyataan terbaru dari pejabat Iran tentang pembunuhan tersebut, dapat memilah poin-poin berikut.

Pertama, tidak ada personel bersenjata yang hadir di tempat kejadian selama seluruh proses pembunuhan, pembunuhan dilakukan melalui kendali jarak jauh.

Kedua, peralatan kecerdasan buatan canggih memiliki fungsi pengenalan wajah yang kuat dan kontrol senjata, secara akurat dapat mengidentifikasi dan menemukan wajah target yang dibunuh di tiga mobil yang bergerak dengan lebih dari selusin orang. Dalam kasus 13 penembakan berturut-turut terhadap Fakhrizadeh, yang lain tidak ada yang terluka, bahkan istri Fakhrizadeh hanya berjarak 25 cm dari Fakhrizadeh tidak terluka. Adapun pengawal yang menerkam Fakhrizadeh untuk memblokir pelurunya, itu soal lain. Kontrol jarak jauh satelit berarti  jenis pembunuhan ini dapat terjadi di mana saja di dunia dan terhadap siapa saja. Setelah pembunuhan berhasil, semua peralatan di tempat kejadian meledak dan hancur, tidak meninggalkan petunjuk.

Seperti kita ketahui bersama, uranium yang diperkaya rendah yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir biasanya memiliki konsentrasi 3% hingga 5%, dan uranium yang diperkaya tinggi dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir. 

Tingkat pengayaan uranium Iran menembus batas atas 3,67% pada Juli 2019 dan tetap di atas 4,5% sejak saat itu. 

Baru-baru ini, Komite Perwalian Konstitusional Iran menyetujui “Rancangan Undang Undang/ RUU Strategi Anti-Sanksi” parlemen yang baru, berjanji untuk melanjutkan pengayaan uranium menjadi 20% jika sanksi berat terhadap Iran tidak dilonggarkan dalam waktu dua bulan.

Masalah nuklir Iran terus melanggar garis bawah dunia internasional. Meskipun tidak ada individu atau organisasi yang mengklaim bertanggung jawab atas operasi ini, pembunuhan itu ditujukan pada program senjata nuklir Iran. Operasi tersebut menggunakan metode teknologi tinggi yang begitu kuat, tidak sulit untuk berspekulasi siapa yang menembak Iran. 

Sorotan terbesar dari operasi ini adalah efek pencegahannya terhadap kekuatan jahat. Pemenggalan bisa terjadi kapanpun dan dimanapun Wajah-wajah familiar yang masih melakukan kejahatan di daratan Tiongkok, masih sering menampakkan wajah, sebaiknya berhati-hati. (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular