NTD

Media ‘Tencent Finance’ mempublikasikan hasil wawancara khusus mereka dengan Yao Yang,  seorang profesor dari Institut Riset Pembangunan Nasional Universitas Peking pada 17 Desember 2020. 

Yao Yang mengatakan bahwa sejak tahun 2020, tingkat pengangguran Tiongkok yang diumumkan Badan Statistik Nasional Tiongkok masih saja berada di sekitar 6%, tetapi angka ini hanya mencakup populasi pengangguran di perkotaan. Angka itu tidak termasuk populasi pengangguran di luar perkotaan, padahal ini yang lebih penting, tetapi justru tidak didata.

Yao Yang mengatakan bahwa pada akhir bulan Juni tahun ini, tim di kampusnya melakukan survei secara online terhadap lebih dari 6.000 orang. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengangguran berada pada angka 15%, ditambah dengan 5% lainnya yang berada dalam status setengah pengangguran. 

Jika dikalkulasi berdasarkan jumlah populasi pekerja nasional Tiongkok yang lebih dari 700 juta orang, sedangkan jumlah tenaga kerja di perkotaan menyumbang 70%, yakni sekitar 500 juta. Maka tingkat pengangguran 20% dalam survei ini menghasilkan angka lebih dari 100 juta orang.

Yao Yang menunjukkan bahwa wabah virus komunis Tiongkok (COVID-19) berdampak sangat besar pada perekonomian Tiongkok. Pada triwulan pertama banyak usaha kecil dan menengah (terutama yang bergerak di industri jasa) yang tadinya hanya mampu menggaet keuntungan kecil, terpaksa menutup usaha karena tidak mampu bertahan. 

Beberapa perusahaan di industri jasa mungkin akan menghilang untuk selamanya. Akibat sulit bagi UKM (Usaha Kecil dan Menengah) untuk pulih, situasi ketenagakerjaan di daratan Tiongkok relatif parah.

Profesor Yao Yang berpendapat bahwa rapuhnya pemulihan ekonomi Tiongkok, terletak pada sulitnya untuk menaikkan tingkat konsumsi masyarakat. Karena, pendapatan adalah penggerak utama konsumsi, jadi tidak ada konsumsi akibat dari tidak berpendapatan, dan menganggur itulah yang membuat masyarakat tidak berpenghasilan.

Pada bulan Agustus 2020, Yao Yang dalam sebuah pidatonya pernah mengatakan bahwa ucapan Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang dalam menjawab pertanyaan wartawan sempat mengejutkan banyak orang. Ia mengatakan : “Tiongkok masih memiliki 600 juta penduduk  dengan pendapatan bulanan rata-rata kurang dari RMB. 1.000,- (setara Rp. 2.150.000)”. Ternyata Tiongkok masih sangat miskin.

Yao Yang mengatakan bahwa bagi penduduk berpenghasilan rendah yang paling terkena dampak dari virus komunis Tiongkok (COVID-19), pemerintah seharusnya memberikan subsidi keuangan.

Yao Yang mengatakan, kumpulan data menunjukkan bahwa pekerja migran di daratan Tiongkok adalah sekitar 270 juta orang, tetapi berapa banyak dari mereka itu sedang menganggur ? Tidak ada yang tahu jumlahnya. Meskipun pemerintah mengetahui bahwa mereka perlindungan pengangguran, alias tidak memiliki jaminan hidup ketika menganggur, jadi mereka ini seharusnya dimasukkan ke dalam bagian penduduk yang perlu bantuan sosial. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular