oleh Ke Xian

Munculnya varian virus Komunis Tiongkok  (COVID-19) di Inggris telah menyebabkan lonjakan jumlah pasien yang terinfeksi. Varian baru dari virus COVID-19 yang sementara diberi kode VUI-202012/01 ini telah menyebar ke negara-negara seperti Australia, Denmark, dan Italia dan lainnya. Banyak negara Eropa, Kanada, India dan lainnya telah mengeluarkan larangan terbang pergi dan pulang ke Inggris.

Mengapa mutasi dari virus tersebut menimbulkan kekhawatiran yang meluas ? Apakah mutasi virus dapat berpengaruh terhadap keefektifan dari vaksin yang baru akan disebarluaskan ?

Penularan dari varian virus ini 70% lebih cepat ? Lokasi mutasi menjadi kunci

Varian virus baru ini (VUI-202012/01) sedang menyebar dari London dan wilayah tenggara Inggris. Strain virus ini ditemukan pada bulan September, dan sekarang 2/3 dari kasus infeksi di London disebabkan olehnya. 

Pada hari Minggu 20 Desember 2020 jumlah kasus yang dikonfirmasi dalam satu hari di Inggris adalah 36.000, mencapai rekor tertinggi selama ini. Merupakan 2 kali lipat dari jumlah kasus yang dikonfirmasi dalam satu hari di awal minggu lalu. “Menyebar di luar kendali”, kata Matt Hancock, Menteri Kesehatan Inggris.

Pada 19 Desember, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menunjukkan bahwa tingkat penularan dari varian virus ini mungkin mencapai 70% lebih tinggi daripada virus COVID-19 sebelum bermutasi. Pada saat yang sama, dia mengumumkan instruksi lockdown yang lebih ketat.

The Epoch Times merujuk pada virus corona, yang menyebabkan penyakit COVID-19, sebagai virus Partai Komunis Tiongkok (PKT), karena sensor berita dan kesalahan manajemen dari Partai Komunis Tiongkok, sehingga memungkinkan virus itu menyebar ke seluruh Tiongkok dan menciptakan pandemi global.

BACA JUGA :  Pakar : Gunakan Nama ‘Virus Komunis Tiongkok’ untuk Menuntut Tanggung Jawab Rezim Komunis Tiongkok atas Krisis Global

Para ilmuwan terus mempelajari apakah varian virus baru tersebut lebih mungkin menyebar dari orang ke orang. Beberapa ilmuwan percaya bahwa masih terlalu dini untuk menilai seberapa besarnya kekuatan infeksi varian virus ini. Masih perlu pengamatan lebih lanjut.

Sebuah artikel yang ditulis bersama oleh 10 orang ahli virologi dari Universitas Edinburgh, Universitas Oxford yang diterbitkan forum ‘Virological’ menyebutkan bahwa 17 mutasi penting telah muncul dari virus mutan baru ini.  Banyak mutasi diantaranya terjadi pada protein spike virus. Protein spike ini yang merupakan bagian penting dari virus untuk menyerang sel manusia.

Di antara semua mutasi, mutasi terpenting adalah N501Y. Mutasi ini memungkinkan virus memasuki sel dengan lebih mudah. Penelitian sebelumnya menunjukkan, bahwa ia memiliki daya penularan lebih tinggi dan lebih beracun bagi tikus.

Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa virus mutan baru ini akan memperburuk penyakit atau meningkatkan angka kematian.

Apakah varian virus ini akan berpengaruh terhadap keefektifan vaksin ?

Pejabat Inggris menunjukkan bahwa vaksin saat ini seharusnya masih mampu mengatasi virus yang baru bermutasi, tetapi untuk memberikan konfirmasi tentang hal ini masih perlu penelitian lebih lanjut.

Hal yang mengkhawatirkan banyak orang adalah bahwa vaksin yang dikembangkan oleh baik Pfizer, Moderna, Oxford dan lainnya sejauh ini semuanya ditujukan untuk melawan protein spike virus sampai batas tertentu, dan mutasi virus kali ini justru terjadi pada protein spike. 

Ravindra Gupta, seorang profesor mikrobiologi klinis di Universitas Cambridge dalam wawancara dengan BBC mengatakan : “Virus mungkin sedang berada pada jalan menghindari vaksin, dan beberapa langkah pertama telah diambilnya. Jika virus itu terus bermutasi, kita harus mulai waspada”.

Sejak COVID-19 mulai mewabah ke dunia dari Kota Wuhan, Tiongkok. Virus ini kira-kira bermutasi 2 kali dalam sebulan. Jika vaksinasi berskala besar dilakukan, Hal ini juga dapat mendorong lebih banyak mutasi pada virus. 

Jika mutasi virus benar-benar dapat membuat vaksin yang ada kehilangan efektivitasnya, negara-negara mungkin mau tidak mau harus terus mengembangkan vaksin baru untuk memeranginya, seperti yang mereka lakukan terhadap virus influenza. (sin)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular