ERIC BESS

Santo Simeon Stylites (hidup sekitar 390–459 Masehi) mengalami hal yang tak terbayangkan untuk meninggikan dirinya dan lebih dekat dengan Tuhan. Di usia muda, dia mendengar khotbah Beatitudes dan memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk memurnikan hatinya sehingga dia akan menjadi salah satu yang diberkati dekat dengan Tuhan.

Tidak lama kemudian Simeon memasuki biara untuk mempraktikkan disiplin diri dan pelepasan diri yang keras, sebuah ciri khas asketisme (pertarakan, gaya hidup yang bercirikan laku berpantang kenikmatan indra demi mewujudkan maksud-maksud rohani), untuk memurnikan hatinya. Akan tetapi, para biarawan yang lain menganggap tipe pertapaannya terlalu ekstrim dan mengasingkannya dari biara.

Simeon tetap tidak terpengaruh dan terus mempraktikkan penyangkalan diri sendiri di sebuah gubuk kecil. Setelah tiga tahun, dia meninggalkan gubuknya dan tinggal di gurun sebagai  pertapa.  Di  sini, di tempat terbuka, di mana dia merasa bisa berlatih dengan tulus.

Orang-orang mulai mendengar tentang bentuk ekstrim dari asketisme Simeon dan memandangnya sebagai orang suci. Banyak yang mulai berziarah untuk mengikutinya, bertanya tentang Tuhan, mendapatkan nasihat, atau untuk disembuhkan.

Namun, waktu yang dihabiskan Simeon dengan para pengikut ini mengganggu waktu yang dihabiskannya untuk memurnikan hatinya dalam pengabdiannya kepada Tuhan. Lalu Simeon melihat sebuah pilar reruntuhan kuno; Terinspirasi hal itu, lalu dia membangun pilar yang akan mengangkatnya ke atas terpisah dari para pengikutnya, sehingga dia dapat melanjutkan praktiknya dalam kesendirian.

Pilar pertamanya hanya setinggi 4 yard (3,6 meter), tetapi banyak pengikutnya memberikan dukungan pada upaya spiritualnya, dan tidak lama kemudian mereka membantunya membangun pilar yang tingginya mencapai 15-20 yard (13,7 – 18,3 meter) dari tanah. Para pengikut akan menunggunya untuk membagikan kebijaksanaan surgawinya, dan bahkan akan membawakan makanan untuk dia.

Simeon akan menghabiskan sisa hidupnya di atas pilarnya, memurnikan hatinya dengan cara-cara pertapaannya dalam upaya untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dia akan mati dalam doa.

Santo Simeon Stylites di Mesir ‘

Karya lukisan Louis Frédéric Schützen- berger yang berjudul “St.  Simeon  Stylites in Egypt”  menunjukkan  Simeon  berdiri di atas pilarnya dalam pengabdian yang dalam. Dia berdiri tepat di tengah dengan tangan terkatup dan mata tertutup, dan dia mengenakan jubah bertudung dari seorang biarawan Kristen.

Di atas pilar, terdapat beberapa benda. Satu mungkin rosario yang mungkin digunakan Santo Simeon untuk berdoa. Yang lainnya tampaknya adalah sekantong makanan yang dibawakan oleh para pengikutnya dari waktu ke waktu.

Di bawah, di pojok kiri bawah, bisa terlihat pilar-pilar reruntuhan kuno. Louis Frédéric menggunakan sedikit kontras dalam elemen-elemen ini; mereka tidak menarik perhatian kita dan hanya memainkan peran pendukung ke titik fokus Simeon.

Detail “St. Simeon Stylites in Egypt, ”1868, oleh Louis Frédéric Schutzenberger. Cat air dengan pulpen dan tinta, sapuan tinta, dan grafit di atas kertas; 10,25 inci kali 6,875 inci. Museum Seni Walters, Baltimore, Md. (Domain Publik)

Simeon menghadap ke kiri atas komposisi, tempat cahayanya bersinar terang. Tubuh bagian atasnya tidak memiliki elemen latar belakang yang bersaing untuk menarik perhatian kita; hanya dia dan cahaya yang dia hadapi.

Kerajaan Surga ada di dalam

Di sini, penampilan Simeon mengingatkan saya bahwa transendensi, sebagai hubungan yang dimurnikan dengan Tuhan, berasal dari dalam. Bagi saya, bahasa tubuh Simeon mengungkapkan perasaan yang dalam dan tulus. Tangannya tergenggam di depan jantungnya, dan mulutnya terbuka dengan lembut seolah-olah setiap napas diresapi dengan cinta kasih.

Mata Simeon terpejam dan dia tidak bisa melihat cahaya yang dihadapinya, tapi sepertinya dia masih bisa merasakan hangat- nya cahaya itu. Kerutan alisnya menunjukkan intensitas apa yang dia rasakan.

Pilar-pilar reruntuhan kuno — hal-hal yang menginspirasinya untuk membangun pilar untuk dirinya sendiri — berada di kejauhan dan hanya memainkan peran pendukung. Simeon tampaknya secara spiritual jauh melampaui apa yang pertama kali diwakili oleh pilar-pilar reruntuhan kuno untuknya.

Mau tak mau saya berpikir bahwa pilar- pilar kuno di latar belakang ini mewakili tradisi kuno yang lurus. Tradisi semacam itu dapat menjadi langkah awal untuk mengangkat kita di atas hal-hal duniawi, tetapi tradisi tersebut bukanlah pengganti hubungan yang tulus dan murni dengan Tuhan.

Meski makanan dan rosario ada di kakinya, Simeon tampaknya tidak peduli dengan mereka. Seperti pilar-pilar kuno, rosario mungkin awalnya digunakan oleh Simeon sebagai katalisator untuk mengangkat dirinya sendiri secara spiritual, tetapi sekarang rosario bersandar di kakinya. Meskipun dia masih makan, setelah bertahun-tahun berpuasa selama berbulan-bulan, dia tampaknya tidak terlalu peduli dengan makanan.

Apakah hubungan Simeon dengan Tuhan menjadi  begitu  murni   sehingga dia tidak lagi membutuhkan hal-hal yang pernah membantunya? Apakah  dia tidak lagi memiliki rasa lapar, haus, atau kebutuhan akan bantuan materi — apa yang mungkin diwakili oleh pilar kuno, rosario, dan makanan — tetapi menjadi utuh dalam hubungannya dengan Tuhan?

Tampaknya, Simeon awalnya mencoba untuk benar-benar meninggikan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Tuhan, tetapi pada titik tertentu pertumbuhan spiritualnya lebih lanjut menuntut bahwa peningkatannya terjadi di dalam dirinya: bahwa dia tidak hanya menahan rasa sakit, tetapi dia juga menyucikan dirinya sendiri, bahwa dia membersihkan hal-hal duniawi dari hati dan pikirannya untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Mungkin kita juga harus belajar nilai memurnikan diri kita sendiri dari dalam, meninggikan diri kita sendiri di atas dan di luar dunia materi dengan membersihkan roh kita sehingga kita layak dekat dengan Tuhan dan cahaya Tuhan.

Mungkin dengan memurnikan kerajaan surga di dalam diri kita sendiri — seperti mempersiapkan rumah kita untuk tamu yang dihormati — kita sedang ramah terhadap kasih Tuhan. Tamu terbaik apa yang bisa kita sambut di kerajaan kita? (jen)

Seni memiliki kemampuan luar biasa untuk menunjukkan Apa yang tidak bisa dilihat sehingga  kita  Dapat  bertanya,  “Apa  Artinya ini  bagi  Saya dan  semua  orang  yang  melihatnya?”  “Bagaimana hala  itu  memengaruhi Masa Lalu  dan Bagaimana Hal  itu  memengaruhi masa depan?” “Apa yang dipetik dari pengalaman Manusia?” Ini Adalah beberapa pertanyaan  yang Kami Jelajahi dalam  serial Melihatke Dalam: Apa yang Ditawarkan kesenian tradisonak pada hati.

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular