Simon Veazey/Xie Jiaxuan

Berdasarkan penelitian pendahuluan, penyebaran strain baru virus Komunis Tiongkok atau Covid 19 di Inggris telah melebihi 50% dari strain yang ada. Diperkirakan pada pertengahan Januari tahun depan, 9 dari 10 kasus di tenggara Inggris mungkin terinfeksi virus varian.

Sebuah penelitian  berjudul “Estimated transmissibility and severity of novel SARS-CoV-2 Variant of Concern 202012/01 in England” School of Tropical Medicine (LSHTM) menggunakan model matematika untuk memprediksi penyebaran strain baru di kawasan tenggara Inggris.

Penulis laporan penelitian, Dr. Nick Davies, mengatakan, “Kami memperkirakan bahwa tingkat penularan varian ini 50% hingga 74% lebih tinggi dari varian yang ada.”

Meskipun penelitian ini tidak memiliki bukti yang jelas bahwa virus varian) akan menyebabkan tingkat rawat inap atau kematian yang lebih tinggi, penelitian tersebut percaya bahwa tingkat penularan yang lebih tinggi pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah kasus dan mendorong jumlah orang yang rawat inap dan kematian melebihi level tahun 2020.

“Jika tidak ada kebijakan pengendalian yang efektif, diperkirakan (virus varian) akan meningkat pesat, dan beban dalam enam bulan pertama tahun 2021 mungkin lebih besar daripada tahun 2020.” tulis Dr. Nick Davies di Twitter.

Dia menambahkan jika tren saat ini berlanjut selanjutnya, pada pertengahan Januari, kasus varian baru dapat mencapai 90% . 

Penelitian tersebut, yang belum ditinjau tim sejawat, menganalisis data dari London, tenggara dan timur Inggris. Awal pekan ini, banyak ilmuwan percaya bahwa tidak ada bukti bahwa vaksin itu tidak efektif melawan strain baru.

Sementara itu Jonathan Stoye dari Francis Crick Institute mengatakan: “Tanggapan varian baru jauh lebih besar daripada mutasi D614G yang muncul beberapa bulan lalu, dan itu dengan jelas menunjukkan bahwa virus meningkatkan pertumbuhan dengan cepat. ” 

Menurutnya mungkin tanggapan yang meningkat kali ini mencerminkan kecemasan orang-orang yang semakin meningkat tentang penyebaran virus. Nyatanya, cara virus menyebar dari orang ke orang hampir tidak berubah. 

Munculnya varian baru di Inggris telah membuat orang-orang menyerukan kepada pemerintah untuk mengubah strateginya dalam memperkenalkan vaksin, dengan setiap orang hanya menerima satu dari dua dosis. Meskipun hal ini mengurangi sedikit kemampuan untuk melindungi dari virus, secara umum hal ini membantu mengontrol penyebaran virus.

Pemerintah Inggris mengatakan pada Rabu 23 Desember lalu bahwa mereka telah menemukan dua kasus varian virus lain dari Afrika Selatan, dan mengumumkan bahwa penerbangan ke dan dari Afrika Selatan dilarang. Penumpang yang tiba di Inggris dari Afrika Selatan baru-baru ini sekarang harus dikarantina. Selain itu, mulai dari hari libur perayaan, Inggris akan memperluas penguncian lebih lanjut. Diperkirakan sekitar 24 juta orang di tenggara akan dikunci. Kecuali toko-toko penting, semua toko akan ditutup, termasuk pusat kebugaran, penata rambut, dan bar.

Saat ini, pejabat Inggris memiliki informasi terbatas tentang strain varian baru, tetapi para ilmuwan mengatakan bahwa strain baru mungkin mendorong peningkatan tingkat infeksi di Afrika Selatan, atau lebih parah daripada gelombang pertama epidemi. 

Pemerintah Inggris sebelumnya telah menyatakan bahwa penyakit varian ini 70% lebih mudah menular dibandingkan dengan jenis yang lama.

Dr. Andrew Preston dari University of Bath mengatakan bahwa dibandingkan dengan jenis SARS-CoV-2 lainnya, varian di Afrika Selatan dan Inggris mengandung jumlah mutasi yang sangat tinggi. 

“Beberapa mutasi ini mengubah protein S, yang patut diperhatikan. Keduanya mengandung mutasi N501Y, tetapi banyak mutasi lain yang tampaknya tidak meningkatkan penularan, sehingga situasinya rumit,” kata Dr. Andrew Preston. 

Inggris adalah pemimpin dunia dalam mengidentifikasi berbagai galur virus, dan Dr. Andrew Preston berspekulasi bahwa galur lain yang lebih mudah menyebar mungkin telah menyebar di negara lain tanpa terdeteksi.

“Inggris telah menggunakan genomik selama pandemi, sehingga sepenuhnya mampu mengidentifikasi varian baru pada tahap awal kemunculannya,” ujar Dr. Andrew Preston.

Menurutnya di negara lain yang tidak memiliki kemampuan ini, varian ini sangat mungkin sudah beredar, tetapi belum ditemukan. 

“Tampaknya kita memasuki tahap yang sangat berbahaya dari epidemi ini, membuat promosi vaksin menjadi lebih mendesak,” pungkas  Dr. Andrew Preston.  (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular