Isabel Van Brugen

Pemilik toko reparasi yang memperoleh sebuah komputer  yang ternyata pernah menjadi milik Hunter Biden menggugat Twitter karena pencemaran nama baik, mengklaim ia secara tidak adil dicap sebagai “peretas” karena kebijakan moderasi konten media sosial Twitter.

John Paul Mac Isaac, yang memiliki sebuah toko reparasi komputer di Delaware, AS, mengatakan bahwa  berminggu-minggu sebelumnya, ia terpaksa menutup toko reparasinya, setelah diancam akan dibunuh dalam peringatan dari cerita laptop tersebut, merilis sebuah video yang menantang narasi tersebut bahwa komputer itu diretas.

Sebuah artikel New York Post yang merinci isi laptop yang konon milik putra mantan Wakil Presiden Joe Biden, Hunter Biden awalnya dilarang oleh Twitter. Twitter mengutip kebijakan materi-materi yang diretas.

CEO Twitter Jack Dorsey memberitahu Kongres pada bulan Oktober 2020 bahwa Twitter tidak tahu apakah materi-materi tersebut berasal dari retasan. Cerita itu “menunjukkan secara langsung materi dan tangkapan layar dari materi dan adalah tidak jelas bagaimana materi-materi itu diperoleh.” Jack Dorsey mengatakan tim Twitter melakukan seubah kesalahan.

Kini John Paul Mac Isaac menggugat Twitter karena pencemaran nama baik di Pengadilan Distrik Amerika Serikat, mengklaim dalam gugatannya bahwa Twitter memutuskan untuk “berkomunikasi dengan dunia bahwa [Mac Isaac] adalah seorang peretas.”

Gugatan tersebut menuduh bahwa dengan mengikuti moderasi Twitter, ia  terancam secara pribadi, bisnisnya menerima ulasan dan ancaman negatif, dan bahwa kini ia “secara luas dianggap sebagai seorang peretas.”

Seorang pria berjalan melewati “The Mac Shop” di Wilmington, Delaware di 21 Oktober 2020. (Angela Weiss / AFP via Getty Images)

Twitter bertindak dengan “niat jahat” dalam mengklaim bahwa Mac Isaac meretas laptop tersebut yang tampaknya milik Hunter Biden, gugatan itu menyatakan.

Gugatan tersebut meminta pencabutan publik dari Twitter dan  ganti rugi 500 juta dolar AS.

Mac Isaac mengatakan dalam videonya, awal pada bulan ini bahwa adalah “benar-benar tidak masuk akal” bahwa ia diberi label sebagai seorang agen Rusia atau di bawah pengaruh Rusia.

“Istilah lain yang telah dilabel kepada saya — yang sayangnya adalah sebuah kalimat kematian di bidang industri saya — adalah ‘peretas.’ Sebagai catatan, saya bukan, atau saya tidak pernah, seorang peretas. Orang-orang tersebut menghasilkan lebih banyak uang daripada saya. Saya dulu dipekerjakan, dan tidak pernah dibayar, untuk melakukan transfer sebuah data dari MacBook Pro ke hard drive eksternal,” kata Mac Isaac .

Ia mengatakan : “Dokumen yang ditandatangani dengan jelas menyatakan proses dan menetapkan ekspektasi. Tidak ada keajaiban atau Hollywood; proses tersebut tidak berbeda dengan menyeret dan menjatuhkan dari sebuah drive USB. Satu-satunya perbedaan adalah saya harus menampilkan beberapa operasi pada MacBook Pro untuk membuat MacBook Pro mem-booting ke titik di mana saya dapat memulihkan data. Untuk menyiratkan bahwa saya adalah seorang peretas dan bahwa informasi itu diretas, memiliki dampak yang tidak dapat diubah pada bisnis dan karakter saya.”

Hunter Biden sedang diselidiki oleh Kantor Kejaksaan Amerika Serikat di Delaware. Jaksa penuntut menolak berkomentar, mengutip kebijakan Kementerian Kehakiman mengenai tidak mengomentari investigasi yang sedang berlangsung.

Twitter tidak segera menanggapi permintaan komentar dari The Epoch Times. (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular