Venus Upadhayaya

Otoritas India yang menangkap seorang pria Tiongkok pada tanggal 25 Desember 2020. Penangkapan itu dikarenakan ia melakukan operasi setidaknya 11 aplikasi yang menawarkan pinjaman kecil dengan suku bunga yang sangat tinggi untuk orang India yang berusia antara 20 tahun hingga 40 tahun. Para ahli melihat adanya potensi rezim Tiongkok mengumpulkan sejumlah besar data yang dapat digunakan untuk melawan India.

Yi Bai, alias Dennis, ditangkap oleh polisi dunia maya di Hyderabad selama suatu penggerebekan di sebuah pusat panggilan, karena menjalankan aplikasi yang meminjamkan uang secara ilegal, seperti dilaporkan oleh DNA, sebuah outlet media India pada hari Sabtu 26 Desember 2020. Yang ditangkap termasuk lima belas orang yang ditangkap dari tiga kota berbeda di India yakni Hyderabad, Delhi, dan Bengaluru. Sedangkan terdakwa utama adalah seorang Tiongkok dengan status penduduk Singapura, diidentifikasi sebagai Zixia Zhang, yang melarikan diri bersama dengan seorang kaki tangan yang mana adalah orang India.

Selama penggerebekan tersebut, polisi juga menyita  271,503 dolar AS atau 2 crore rupee, seperti dilaporkan The Times of India.

Beberapa aplikasi pinjaman yang mereka kelola termasuk Loan Gram, Cash Train, Cash Bus, AAA Cash, Super Cash, Mint Cash, Happy Cash, Loan Card, Repay One, Money Box, Monkey Box.

Beberapa dari aplikasi-aplikasi ini masih tersedia di Google Play store pada hari Minggu saat The Epoch Times memeriksanya, dan dalam beberapa kasus para pengguna telah mengeluarkan peringatan.

C. Bipindra, redaksi majalah urusan strategis Defence.Capital dan ketua Law and Society Alliance, lembaga wadah pemikir yang berbasis di India, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa hal ini adalah tidak mengejutkan.

“Warganegara Tiongkok selama ini terlibat dalam kegiatan ilegal di India selama beberapa tahun belakangan ini, dan banyak dari mereka telah ditangkap pada tahun-tahun sebelumnya juga karena penipuan online, pencucian uang, penyelundupan emas, mata-mata, dan untuk memiliki dokumen perjalanan palsu,” kata Bipindra.

Bipindra mengatakan, itu adalah bagian dari sebuah rencana permainan Tiongkok yang lebih besar untuk mengguncang India dan lanskap ekonomi India.

“Ada laporan-laporan baru-baru ini mengenai bagaimana Komunis Tiongkok selama ini menyusup ke bisnis global dan berupaya mengendalikan aktivitas ekonomi di negara asing, dalam bentuk investasi dan pengambilalihan yang tidak bersahabat,” ujar Bipindra.

Abhinav Pandya, CEO dari Usanas Foundation, sebuah wadah pemikir geopolitik yang berbasis di India, memberitahukan kepada The Epoch Times bahwa orang India memiliki angka melek teknologi yang buruk dan rentan terhadap skema keuangan semacam itu.

“Mereka dapat dengan mudah ditipu di desa-desa dan kota-kota kecil. Ini dapat menyebabkan sabotase ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan kebencian terhadap sebuah pemerintah yang anti-Tiongkok dalam urusan keamanan nasional,” kata Abhinav Pandya menambahkan kebencian semacam itu secara tidak langsung dapat memengaruhi suara dalam pemilihan umum berikutnya.

Ia mengatakan : “Jika hal ini terjadi di tingkat negara di bagian lain juga, maka ia yakin orang Tiongkok telah mencuri data dalam jumlah besar yang dapat digunakan melawan India.”

Modus Operandi

Untuk operasi peminjaman uang mereka, Zixia Zhang mendirikan sebuah perusahaan di India bernama Digipeergo Tech Pvt Ltd bersama dengan seorang mitra India tahun lalu. Dengan bantuan dari saudari yang berbasis di Singapura, Xikai Holding Pvt Ltd, duet perusahaan baru lainnya bernama Skyline Innovation Technology India Pvt Ltd.

Zixia Zhang mengembangkan aplikasi-aplikasi seluler dan menghostingnya di Google Play dan mendirikan beberapa perusahaan pusat panggilan di seluruh India untuk mengumpulkan pembayaran dari para pelanggan.

Polisi mengatakan para operator terlibat dalam intimidasi sistematis serta mengusik dan mengancam orang-orang yang gagal bayar melalui pusat panggilan mereka. Para operator Tiongkok tersebut menggunakan kaki tangan mereka yang adalah orang India, tak lain untuk mengirim pemberitahuan hukum palsu kepada para pelanggannya untuk memeras para pelanggan tersebut.

Abhinav Pandya mengatakan bahwa episode ini adalah sangat memprihatinkan, karena menunjukkan bagaimana cara orang Tiongkok berupaya menembus kota-kota kecil melalui aplikasi-aplikasi seluler.

“Maksud orang Tiongkok itu adalah untuk mencapai bagian dalam masyarakat India yang paling terpencil. Orang-orang yang terjebak dalam jaringan digital semacam itu pada akhirnya berbagi semua data miliknya — telepon seluler, kartu nomor akun permanen, kartu adhar [KTP wajib berdasarkan biometrik dan data demografis), usia, teman, preferensi, rekening bank, nomor paspor,” kata Abhinav Pandya menambahkan bahwa sebuah data semacam ini dapat digunakan untuk semua jenis sabotase, termasuk politik.

“Dengan basis data yang kuat semacam itu, orang Tiongkok dapat ikut campur dengan pemilihan umum India. India, menjadi demokrasi yang menawarkan semua jenis kebebasan. Sebuah basis data semacam itu dapat digunakan untuk menciptakan sabotase sosial dengan melepaskan kasta dan pergesekan, dalam masyarakat dan kekerasan, unjuk rasa atas masalah sosial dan politik, masalah-masalah petani,” kata Abhinav Pandya, yang juga adalah penulis buku, “Radikalisasi di India.”

Abhinav Pandya mengatakan bahwa, saat orang-orang terseret ke dalam skema penipuan semacam itu, mereka dapat menjadi lebih rentan untuk diperas untuk bertindak sebagai mata-mata di kota-kota kecil atas suruhan orang Tiongkok.

Aset-aset mata-mata semacam itu dapat digunakan untuk berbagai aktivitas melawan India serta untuk penyelundupan dan operasi ilegal lainnya.

Bipindra mengatakan dalam beberapa bulan terakhir, seorang jurnalis India juga ditangkap karena memiliki hubungan dengan seorang warganegara Tiongkok dan mengambil uang dari orang Tiongkok tersebut.

“Wartawan, yang kini sudah keluar dari penjara tetap menjadi tersangka dalam kasus di mana warganegara Tiongkok dituduh membayar suap untuk mendapatkan dokumen-dokumen pemerintah India yang penting yang memiliki konsekuensi keamanan yang serius,” kata Bipindra. 

Episode-episode ini semakin menjadi pusat perhatian di media India baru-baru ini karena kemunduran hubungan bilateral India dengan Tiongkok karena konflik perbatasan yang terus berlanjut, kata Bipindra.

Sumber Pendanaan

Tidak satu pun dari 11 aplikasi yang dikelola Yi Bai memiliki hubungan dengan perusahaan keuangan non-perbankan dan dituduh menawarkan pinjaman menggunakan sumber daya miliknyaa sendiri, kata polisi, menurut The Times of India.

“Kami sedang menyelidiki bagaimana mereka mendapatkan uang yang mereka pinjamkan,” kata V.C. Sajjanar, komisaris polisi Cyberabad yang timnya melakukan beberapa penangkapan.

Bibhu Prasad Routray, seorang analis geopolitik dan Direktur Mantraya, sebuah wadah pemikir yang berbasis di Goa mengatakan kepada The Epoch Times, bahwa bisnis semacam itu umumnya tidak membutuhkan banyak modal untuk memulai.

“Sifat bisnis semacam itu adalah anda tidak membutuhkan banyak dana untuk memulai dan menjalankannya. Operasi semacam itu kebanyakan dijalankan dengan mengedarkan uang yang mereka kumpulkan dari para pelanggan yang mudah tertipu,” kata Bibhu Prasad Routray.

Memantau Warganegara Tiongkok

Bibhu Prasad Routray mengatakan, ada ribuan warganegara Tiongkok di India saat ini dan beberapa dari warganegara Tiongkok tersebut mungkin menjalankan operasi ilegal seperti ini. Namun, akan “tidak produktif” untuk meletakkan semuanya di bawah pemindai.

“Kerangka hukum dan protokol yang ada jika diikuti dengan cermat dapat mengurus aktivitas ilegal. Namun penting untuk menekankan bahwa penggunaan aplikasi-aplikasi berbasis web untuk melakukan kegiatan ilegal akan meningkat di hari-hari mendatang,” katanya.

Bibhu Prasad Routray menjelaskan, oleh karena itu, pemerintah negara bagian perlu berinvestasi lebih banyak untuk meningkatkan kapasitas lembaga penegak hukumnya untuk melacak aktivitas semacam itu. 

Bipindra mengatakan bahwa India mengambil tindakan balasan dengan membatasi investasi orang Tiongkok, ke dalam bisnis dan investasi komersial dan seharusnya juga pantau aktivitas warganegara Tiongkok yang tinggal di India dan “melakukan penapisan sebelum mendapatkan visa.”

“Khususnya warganegara Tiongkok yang memiliki visa bisnis, untuk mencegah kegiatan komersial ilegal yang dilakukan, yang termasuk dalam kategori kejahatan, yang mencakup kegiatan mata-mata, di bawah pengawasan  hukum India.”

Abhinav Pandya mengatakan, India perlu menangani hal ini dengan perhatian dan penanganan sabotase sepenuhnya seperti yang dapat dilakukan oleh orang Tiongkok untuk merugikan kepentingan India.

Disebutkan juga, jika ini terjadi di tingkat negara di bagian lain juga, maka diyakini orang Tiongkok telah mencuri data dalam jumlah besar yang dapat digunakan melawan India,.  

Abhinav Pandya berkata : “Tindakan semacam itu dapat merusak citra India, membuat India tidak menarik bagi para investor asing, dan merusak peringkat India dalam berbisnis, masalah hak asasi manusia, dan lain-lain.” (Vv)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular