Li Shi

Dua biarawati Vatikan yang ditempatkan di Hong Kong ketika mengunjungi kerabat di Provinsi Hebei, Tiongkok  ditangkap pada Mei 2020. Mereka kemudian ditempatkan di bawah tahanan rumah setelah dibebaskan. Namun demikian mereka masih dilarang meninggalkan Tiongkok daratan. 

Dunia luar telah menafsirkan ini dan percaya bahwa Komunis Tiongkok sedang mencoba untuk memperluas kontrolnya atas keuskupan Hong Kong, termasuk mempengaruhi calon uskup Hong Kong berikutnya.

Reuters melaporkan bahwa kedua biarawati itu termasuk dalam misi informal yang dikirim oleh Vatikan ke Hong Kong. Karena Vatikan belum menjalin hubungan diplomatik formal dengan Tiongkok, misi informal ini sangat dirahasiakan di Hong Kong dan bahkan belum dimasukkan dalam daftar resmi keuskupan.  Kantornya terletak di sebuah vila di Kowloon, Hong Kong, dan merupakan satu-satunya badan urusan luar negeri Vatikan di Tiongkok.

Musim panas lalu, meski mendapat tentangan kuat dari komunitas internasional, Beijing secara paksa mengesahkan apa yang disebut Hukum Keamanan Nasional versi Hong Kong. Laporan tersebut percaya bahwa Beijing menggunakan undang-undang ini untuk menghilangkan oposisi di Hong Kong, termasuk anggota keuskupan Hong Kong yang dengan tegas mendukung gerakan protes demokratis Hong Kong. 

Seluruh gereja Hong Kong dan misi Vatikan di Hong Kong akan menghadapi tekanan yang semakin meningkat. Otoritas Tiongkok tidak puas dengan misi Vatikan di Hong Kong dan berharap untuk menutupnya.

Para pejabat senior keuskupan Hong Kong prihatin bahwa Beijing sedang berusaha untuk memperluas kontrolnya atas keuskupan Hong Kong dan bahkan mempengaruhi pilihan uskup Hong Kong berikutnya. 

Setelah kematian Uskup Hong Kong Yang Mingzhang pada tahun 2019, uskup baru belum diangkat. Menurut “Perjanjian Sementara tentang Pengangkatan Uskup Vatikan dan Tiongkok” yang ditandatangani antara Vatikan dan Beijing, pemerintah Komunis Tiongkok memiliki suara penting dalam penunjukan uskup domestik. Beijing sedang berusaha untuk menerapkan perjanjian itu ke Hong Kong untuk menentukan calon uskup Hong Kong berikutnya.

Pada Oktober 2020, ketika Vatikan dan Komunis Tiongkok memperbarui perjanjian yang sangat kontroversial ini, Joseph Zen mantan uskup Hong Kong, mengkritik keras dan menuduh Paus menuruti kemauan untuk menyenangkan Komunis Tiongkok. Joseph Zen percaya bahwa Tiongkok di bawah Komunis Tiongkok adalah negara otokratis tanpa kebebasan beragama. 

Perjanjian semacam itu hanya akan membuat situasi umat beragama di Tiongkok yang tidak ingin bergabung dengan “Gereja Tiga-Mandiri” Komunis Tiongkok menjadi lebih sulit dan Komunis Tiongkok menginjak-injak keyakinan agama. Itu hanya akan lebih memburuk.

Joseph Zen menekankan bahwa jika Paus membuat konsesi ke Beijing dan menunjuk orang yang pro-Beijing sebagai uskup di keuskupan Hong Kong, maka akan menyebabkan gereja mematuhi perintah Komunis Tiongkok. Hal tersebut akan menyebabkan kekacauan, yang sangat merugikan Hong Kong.  (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular