Erabaru.net. FBI mulai menyelidiki Boeing setelah kecelakaan mengerikan 737 Max pada 2018 dan 2019. Perusahaan tersebut kini telah didakwa secara pidana di AS.

737 Max mengalami dua kecelakaan selama dua tahun. Kecelakaan pertama terjadi di Indonesia pada Oktober 2018, dan yang kedua di Ethiopia pada 2019. Akibat dari dua kecelakaan tersebut, 346 orang tewas dan penyelidikan resmi dimulai.

Departemen Kehakiman di Amerika Serikat kini menuduh Boeing melakukan konspirasi untuk menipu bangsa. Akibat dari dakwaan ini adalah denda 2,5 miliar dollar (sekitar Rp 35,3 triliun) yang akan dialokasikan kembali ke banyak pihak, meskipun tidak ada individu dalam Boeing yang menghadapi tindakan hukum.

2,5 miliar dollar akan mencakup 243,6 juta dollar ‘hukuman pidana moneter’ serta 1,77 miliar dollar untuk maskapai penerbangan yang telah membeli 737 Max yang rusak. Selain itu, 500 juta dollar akan ditempatkan dalam dana yang dirancang untuk membantu keluarga yang meninggal dalam kecelakaan itu.

Pengacara AS Erin Nealy Cox mengatakan dalam sebuah pernyataan tentang hasil kasus tersebut:

“Pernyataan menyesatkan, setengah kebenaran, dan kelalaian yang dikomunikasikan oleh karyawan Boeing kepada FAA menghalangi kemampuan pemerintah untuk memastikan keselamatan publik yang terbang.

“Kasus ini mengirimkan pesan yang jelas: Departemen Kehakiman akan meminta pertanggungjawaban pabrikan seperti Boeing karena menipu regulator – terutama di industri di mana taruhannya setinggi ini.”

Bertentangan dengan pemikiran Cox, Peter DeFazio (D-OR) Ketua House Committee on Transportation and Infrastructure mengatakan dalam sebuah pernyataan, melalui The Verge:

“Penyelesaian ini merupakan tamparan di pergelangan tangan dan merupakan penghinaan bagi 346 korban yang meninggal akibat keserakahan perusahaan. Tidak hanya jumlah dollar dari penyelesaian hanya sebagian kecil dari pendapatan tahunan Boeing, penyelesaian itu mengabaikan akuntabilitas nyata dalam hal tuntutan pidana.

“Saya berharap DOJ ( United States Department of Justice/Kementerian Kehakiman Amerika Serikat) dapat menjelaskan alasannya untuk penyelesaian yang lemah ini kepada keluarga, karena dari tempat saya duduk upaya untuk mengubah perilaku perusahaan ini menyedihkan dan tidak akan berbuat banyak untuk mencegah perilaku kriminal di masa mendatang.”

Masalah dengan 737 Max adalah perangkat lunak dalam sistem MCAS, yang dirancang untuk mendorong hidung pesawat ke bawah. Namun, perangkat lunak tersebut hanya mengandalkan satu sensor dan melakukan kesalahan dalam dua kecelakaan fatal tersebut.

Ada juga kritik yang ditujukan pada perusahaan dan dokumentasi edukasinya. Banyak yang mencatat bahwa dokumentasi dapat diselesaikan dengan satu jam di iPad dan tidak menyebutkan sistem yang menyebabkan dua crash tersebut.

Boeing sekarang mulai meluncurkan pesawatnya lagi dan telah mengatasi masalah sistem MCAS di samping kursus pelatihannya. Namun, ada masalah dengan pesawat yang tidak diuji ke standar yang diharapkan disediakan oleh FAA (US Federal Aviation Administration).

Dengan semua pemikiran ini, beberapa orang mungkin kesulitan untuk percaya diri dengan 737 Max saat pengembalian skala yang lebih besar. (yn)

Sumber: Unilad

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular