oleh Li Yun

Usai pelantikan Biden pada 20 Januari, komunis Tiongkok kian gencar mengirim pesawat tempurnya untuk mengganggu wilayah udara barat daya Taiwan.

Menteri Pertahanan AS yang baru, Lloyd Austin baru menjabat pada 22 Januari. Keesokan harinya, komunis Tiongkok langsung mengirim 8 buah pesawat pembom H-6K, 4 pesawat tempur J-16, dan pesawat anti-kapal selam Y-8 untuk mengganggu Taiwan.

Shen Zhou, komentator Epoch Times menjelaskan bahwa tindakan sengaja komunis Tiongkok itu, jelas bertujuan untuk mengamati reaksi AS di saat pengangkatan Menteri Pertahanan yang baru. Tindakan itu tentu saja tidak hanya bertujuan menguji Menteri Pertahanan AS, tetapi lebih pada menguji reaksi Biden dan timnya. Ini setara dengan gertakan militer, tindakan provokatif dan tentunya cukup berbahaya.

Shen Zhou percaya bahwa para pejabat tinggi komunis Tiongkok telah membuat penilaian yang keliru. Sebab menurut logika normal, komunis Tiongkok sudah berada “di atas angin” dengan lengsernya Trump, dan pemerintahan Biden lebih bisa diharapkan untuk membalikkan kebijakan Trump, sehingga decoupling ekonomi kecil sekali untuk diterapkan oleh pemerintah Biden.

Selama 4 tahun Trump berkuasa, AS telah melancarkan serangan balik strategis yang komprehensif terhadap rezim Komunis Tiongkok. Dari perang dagang hingga serangkaian sanksi dan decoupling ekonomi yang memaksa komunis Tiongkok tidak berkutik. Trump juga menerapkan strategi militer yang agresif mencegah, tak lain untuk menekan ambisi ekspansi militer komunis Tiongkok.

Sebelum lengser, Trump juga menguraikan tiga prinsip untuk mempertahankan rantai pulau pertama. Shen Zhou mengatakan bahwa, Trump telah menerapkan strategi yang efektif untuk menghadapi komunis Tiongkok. Jika Biden tidak dapat melanjutkan atau menunjukkan sikap menghindari perang, niscaya hal itu akan mendorong ambisi dan kesalahan penilaian rezim Beijing.

Shen Zhou percaya bahwa petinggi komunis Tiongkok sedang menguji garis bawah Amerika Serikat. Jika militer AS merespons dengan lambat atau tidak dapat merespons dengan kuat, maka komuni Tiongkok kian berpotensi untuk terus menyerang garis bawah Amerika Serikat, sehingga risiko konflik militer semakin meningkat.

Pada 21 Desember 2020, lebih dari 30 pesawat militer membentuk “Elephant Walk” di Pangkalan Angkatan Udara AS. (video screenshot)

Di balik Xi Jinping “latihan militer siaga perang”

Selain melakukan gertakan berskala besar di Selat Taiwan dan terus menyerang garis bawah Amerika Serikat. Pada 24 Januari, pembicaraan tingkat komando militer komunis Tiongkok – India putaran ke-9 tidak membuahkan hasil. Konflik perbatasan antar mereka kembali terjadi. Sejak 27 Januari, komunis Tiongkok kembali mengumumkan latihan militer di Laut Tiongkok Selatan.

Wang He, komentator Epoch Times menguraikan bahwa yang ada di balik “kebijakan perang marjinal” komunis Tiongkok adalah “latihan militer siaga perang” yang berulang kali didengungkan oleh otoritas Xi Jinping. “Latihan militer siaga perang” adalah salah satu slogan utama Xi, itu setelah ia menjabat kepala negara. Sekarang setelah Biden berkuasa, Xi masih menekankan slogan tersebut, sebenarnya untuk mencegah agar kekuasaannya tidak terganggu karena senjata masih berada dalam genggamannya.

Wang He percaya bahwa Xi Jinping telah menyaksikan sendiri selam 10 tahun pemerintahan Hu Jintao, Hu tidak sekalipun memiliki kesempatan untuk memegang kekuasaan atas militer komunis Tiongkok. Setelah Xi berkuasa, sejumlah petinggi militer binaan Jiang Zemin selama 20 tahun telah digulingkan. Namun, meski Xi Jinping kini sudah memegang kendali atas kekuatan militer, tetapi belum seluruh perwira militer seiya sekata dengan dirinya.

Agar memperoleh dukungan dari militer, otoritas Xi dengan gencar mempromosikan “profesionalisasi perwira”, dan menaikkan gaji militer pada tahun 2021. 

Wang He percaya bahwa otoritas Xi juga menyadari bahwa reformasi militer dan kegiatan membasmi korupsi, telah merugikan kepentingan banyak pemimpin militer. Xi sekarang perlu menggunakan uang untuk merangsang keberpihakan militer.

Apakah menabur uang kepada militer sambil “latihan siaga perang” akan benar-benar mampu mendapat simpati militer dan bisa mengendalikan mereka ? Wang He mengatakan bahwa itu belum tentu terjadi, runtuhnya rezim komunis sudah merupakan kecenderungan yang tak terhalangi. Tiga puluh tahun lalu, militer Uni Soviet jatuh, kemudian Uni Soviet runtuh, Tampaknya rezim Xi Jinping sedang memasuki situasi seperti itu. (sin)

 

Share

Video Popular