Eva Fu

Kritikus Tiongkok mengecam temuan-temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai sumber pandemi sebagai sebuah “lelucon.” Disebutkan rezim Tiongkok cenderung memanfaatkan temuan-temuan tersebut untuk  mengalihkan tanggung jawab yang menyebabkan krisis global.

Seorang akademisi dan kritikus yang vokal terhadap Partai Komunis Tiongkok yang tinggal di Australia, Yuan Hongbing mengatakan, penyelidikan WHO  di Wuhan mirip dengan “sebuah lelucon yang dipentaskan oleh rezim Tiongkok.”

“Kita dapat memperkirakan bahwa apa yang disebut penyelidikan ini akan menjadi seperti ini,” kata Yuan Hongbing dalam sebuah wawancara.

Saat sebuah tim ahli di  menyelesaikan perjalanannya pada  (9/2/2021), Peter Ben Embarek, seorang ilmuwan Denmark yang memimpin misi WHO  tersebut, menepis teori bahwa virus  Komunis Tiongkok mungkin telah bocor dari sebuah laboratorium virologi sebagai “sangat tidak mungkin.” Kelelawar, kata Peter Ben Embarek, cenderung tetap menjadi sebuah sumber.

Kementerian Luar Negeri AS, telah meragukan sejumlah transparansi yang diberikan kepada  tim WHO. Selain itu, mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mempresentasikan kesimpulannya setelah meninjau keseluruhan laporan WHO.

Gordon Chang, penulis buku berjudul The Coming Collapse of China, menjelaskan komentar-komentar Peter Ben Embarek sebagai komentar yang “sangat politis.”

“Misi ke Wuhan ini sangat dinegosiasikan dengan syarat-syarat yang pada dasarnya dirancang, sehingga mereka tidak akan menemukan apa pun,” kata Gordon Chang kepada  program American Thought Leaders The Epoch Times.

Pekerja menempatkan penghalang di luar pasar grosir Makanan Laut Huanan yang ditutup selama kunjungan anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyelidiki asal-usul virus corona Covid-19, di Wuhan, provinsi Hubei tengah, Tiongkok, pada 31 Januari 2021. ( Hector Retamal / AFP melalui Getty Images)

Gordon Chang menuturkan, mereka berada di sana selama sebulan, dua minggu di antaranya berada di karantina, dan mereka pergi ke  Institut Virologi Wuhan selama tiga setengah jam. Tim tersebut mengunjungi laboratorium tersebut pada (3/2/2021).

“Saya tidak tahu bagaimana para anggota WHO dapat mengatakan bahwa setelah pemeriksaan sepintas lalu,” demikian pernyataan Gordon Chang. 

Pasar basah itu mengalami pembersihan yang menyeluruh pada bulan Maret 2020, yang menghancurkan semua ternak dan barang yang disimpan di dalam pasar tersebut. Zhang Meng (samaran), seorang sukarelawan yang membantu pembersihan itu, mengatakan bahwa mereka melucuti semuanya selama proses tersebut.

“Tidak ada yang tersisa kecuali papan logam, semuanya hilang dalam satu sapuan,” kata Zhang Meng dalam wawancara baru-baru ini. Ia menambahkan bahwa tim Organisasi Kesehatan Dunia  tidak menyaksikan apa pun di sana. 

Gordon Chang juga mengkritik Peter Ben Embarek, karena memberikan kredibilitas pada gagasan bahwa virus tersebut dapat diimpor melalui makanan beku ke pasar basah Wuhan, tempat kluster kasus pertama yang diketahui muncul pada Desember 2019. Penyidik tersebut ​​mengatakan, penularan virus melalui  makanan beku adalah sebuah kemungkinan yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Pihak berwenang Tiongkok telah mengaitkan wabah-wabah COVID-19 setempat dengan makanan beku impor, meskipun pejabat kesehatan WHO dan Amerika Serikat, sama-sama mengatakan tidak ada bukti bahwa orang dapat tertular COVID-19 dari makanan atau kemasan makanan.

Gordon Chang menyatakan, para ahli akan memberitahu anda bahwa ya, Coronavirus dapat bertahan hidup dalam kemasan makanan beku, tetapi tak seorang pun dalam posisi yang bertanggung jawab di luar pemikiran Tiongkok, bahwa kemasan makanan beku cenderung  adalah sumber penularan. 

“Ini adalah membeo narasi Beijing, ini hanya menunjukkan bahwa misi WHO  sama sekali tidak berharga — sebenarnya lebih buruk daripada tidak berharga karena tidak melibatkan orang-orang,” kata Gordon Chang. 

Peter Ben Embarek, dari tim Organisasi Kesehatan Dunia, berjabat tangan dengan mitranya dari Tiongkok Liang Wannian setelah Konferensi Pers Studi Bersama WHO-Tiongkok yang diadakan di akhir misi WHO di Wuhan, Tiongkok, pada 9 Februari 2021. (Foto AP / Ng Han Guan)

Pemerintahan Donald Trump tahun lalu, memulai proses untuk menarik diri dari WHO. Pasalnya, Organisasi Kesehatan Dunia dikritik membeo narasi Beijing mengenai wabah tersebut. Presiden Joe Biden, setelah menjabat, membalikkan keputusan tersebut dan memulihkan hubungan dengan Organisasi Kesehatan Dunia pada tanggal 20 Januari.

Mantan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo pada 9 Februari, juga mempertanyakan temuan Organisasi Kesehatan Dunia tersebut, dengan mengatakan ia tidak percaya “mereka [para ahli] mendapatkan akses yang mereka butuhkan.”

“Saya harus mengatakan alasan kami meninggalkan WHO adalah karena kami menjadi sadar bahwa WHO adalah korup, WHO telah dipolitisasi. WHO bertekuk lutut pada Sekretaris Jenderal Xi Jinping di Tiongkok,” kata Mike Pompeo dalam wawancara Fox. 

Mike Pompeo mengatakan, pengumuman WHO tidak mengubah keyakinannya bahwa “ada sebuah bukti signifikan … bahwa [virus] ini mungkin  datang dari laboratorium itu.”

Beberapa hari sebelum Mike Pompeo meninggalkan jabatannya, Kementerian Luar Negeri AS, merilis lembaran fakta yang menyatakan bahwa, pihaknya memiliki alasan untuk mempercayai beberapa peneliti dari Institut Virologi Wuhan yang mana, memamerkan gejala mirip COVID 19 pada musim gugur 2019, meskipun seorang ahli virologi senior mengatakan sebaliknya.

Matt Pottinger, mantan wakil penasihat keamanan nasional Gedung Putih, belakangan meminta perhatian lebih lembaran fakta untuk lembaran bukti, yang menurutnya “diperiksa dengan sangat hati-hati” oleh para pejabat di seluruh Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, Gedung Putih, dan kepemimpinan intelijen.

Peter Daszak, seorang ilmuwan Amerika Serikat di tim Organisasi Kesehatan Dunia, telah menulis makalah bersama Shi Zhengli dari laboratorium virologi Wuhan. Peter Daszak sebelumnya mengutuk teori lolosnya virus tersebut dari laboratorium, sebagai  sebuah “konspirasi,” tetapi kemudian mengakui bahwa ia melakukan “sebagai pertunjukan dukungan” bagi para ilmuwan Tiongkok untuk melindungi mereka dari “pelecehan online.”

Dalam tweet pada  9 Februari, sebagai tanggapan atas komentar-komentar Kementerian Luar Negeri, Peter Dazsak mengatakan bahwa Joe Biden “harus terlihat tegas terhadap Tiongkok.” 

“Tolong jangan terlalu mengandalkan intel Amerika Serikat: semakin meningkat untuk terlepas di bawah Donald Trump [dan] terus terang salah dalam banyak aspek,” demikian tulisan Peter Dazsak .

Heng He, seorang komentator urusan Tiongkok, mengatakan bahwa keterlibatan Peter Dazsak  dalam penelitian tersebut merupakan konflik kepentingan.

“Mengapa WHO menarik Peter Dazsak  kembali?” Heng He berkata. “Ini pada dasarnya memberi isyarat kepada Partai Komunis Tiongkok bahwa WHO yang akan mengikuti permainan Partai Komunis Tiongkok.”

Kunjungan WHO ke pameran propaganda yang menggembar-gemborkan pencapaian Beijing dalam memerangi virus tersebut juga menjadi catatan. 

“Itu bahkan tidak dihitung sebagai bukti tangan keempat, hanya murni cerita buatan manusia,” demikian tanggapan Heng He. (Vv)

Video Rekomendasi :

Share
Tag: Kategori: BERITA TIONGKOK TIONGKOK

Video Popular