oleh Zheng Gusheng

Seorang warga Tionghoa Amerika mengungkapkan bahwa sekolah tempat putrinya menuntut ilmu di daratan Tiongkok sedang mengadakan penyelidikan terhadap status keyakinan atau  agama siswanya. Orangtua siswa itu khawatir bahwa penganiayaan agama berskala besar akan terjadi kembali.

Sebelumnya, beberapa dokumen resmi dari sejumlah tempat di Tiongkok telah mengungkapkan rezim pemerintahan Komunis Tiongkok  memerintahkan pihak sekolah untuk menyelidiki kepercayaan siswa. Mereka juga membujuk siswa untuk melaporkan keyakinan orang tua termasuk teman sekolah.

Grup media The Epoch Times melaporkan pada 8 Februari lalu bahwa Yan Tao, seorang imigran baru yang tinggal di Los Angeles, baru-baru ini menerima pemberitahuan orang tua dari sekolah putrinya melalui akun WeChat. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa putrinya masih bersekolah di daratan Tiongkok.

Menurut pemberitahuan tersebut, pihak berwenang setempat memerintahkan pihak pengurus sekolah untuk membuat statistik tentang status keyakinan atau  agama para siswa mereka. Wali Kelas sekolah menegaskan bahwa jika siswa memiliki keyakinan atau  agama, maka siswa bersangkutan harus segera menghubungi guru secara pribadi.

Sekolah akan, atas permintaan pihak berenang, sekolah diminta untuk membuat statistik tentang keyakinan / agama para siswa. (Disediakan oleh Yan Tao/Epoch Times)

Pesan dalam akun WeChat tersebut berbunyi : 

Wali Kelas : !!! Pemberitahuan Penting. 

Sesuai (permintaan) Kantor Komite Kota. Terkait pemberitahuan dari Staf Dinas Pendidikan Kota, meminta pihak sekolah segera membuat statistik tentang keyakinan / agama para siswa. Jika tidak ada yang berkeyakinan, silahkan memberi jawaban melalui grup ini dengan menulis “Kelas + Tidak berstatus keyakinan”. Jika ada, harap memberitahu saya lewat jalur pribadi. Perintah Mendesak. Terima kasih atas kerjasamanya. Masing-masing pihak agar melakukan hal tersebut diatas. 2021.1.26 Yang berstatus memiliki keyakinan harap segera menghubungi saya lewat jalur pribadi.

Yan Tao mengatakan bahwa pemerintah komunis Tiongkok mempromosikan ateisme, berupaya dengan segala cara untuk menghancurkan keyakinan, agama dan kebebasan beragama. Hal ini seperti mengadu domba yang menciptakan suasana saling berwaspada antara satu dengan lainnya. 

Yan Tao mengungkapkan bahwa kegiatan agama Buddha yang diikuti ibu mertuanya terpaksa dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari penindasan pihak berwenang. Teman istrinya dipecat tanpa alasan karena mengikuti ajaran Falun Gong. Dia dikucilkan oleh sanak saudara, bahkan polisi yang datang ke rumah warga untuk memeriksa status rumah tangga pun bertanya, “Apakah mereka memiliki keyakinan agama? Atau Apakah mereka mengenal praktisi Falun Gong?”

Yan Tao menilai perintah pemerintah komunis Tiongkok yang meminta pihak sekolah untuk menyelidiki keyakinan  atau agama para siswa itu, menunjukkan bahwa komunis Tiongkok ketakutan  terhadap agama dan keyakinan. Yan Tao khawatir akan muncul kembali penganiayaan besar-besaran terhadap keyakinan di daratan Tiongkok.

Pada awal Januari tahun ini, majalah online Italia “Bitter Winter” pernah memaparkan dokumen resmi dari sejumlah instansi pemerintah yang mengharuskan sekolah untuk memperkuat pendidikan ateisme, dan melakukan penyelidikan serta segera melaporkan jika terdapat siswa yang berkeyakinan atau beragama. 

Dokumen resmi tersebut bahkan mendorong siswa untuk melaporkan status keyakinan orang tua dan teman sekelas, serta secara paksa memasuki rumah warga dan menghilangkan tanda-tanda keyakinan agama.

Legislator Partai Progresif Demokratik Taiwan, Lo Chih-cheng berkomentar bahwa pendidikan komunis Tiongkok itu untuk menghancurkan budaya paling tradisional Tiongkok, terutama pada bagian kepercayaan dan  agama, serta menghancurkan nilai-nilai universal yang paling dasar. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular