Zachary Stieber

The Food and Drug Administration -FDA- atau Administrasi Makanan dan Obat AS, sedang menyelidiki dan menilai kasus-kasus yang dilaporkan, sebagaimana dikatakan seorang juru bicara Administrasi Makanan dan Obat kepada The Epoch Times melalui email yang diberitakan Kamis (11/2/2021). 

“Saat ini, kami belum menemukan hubungan sebab akibat, Kami akan memperbarui informasi kepada masyarakat seiring kami mempelajari lebih lanjut mengenai kejadian-kejadian ini,” demikian ujar juru bicara tersebut. 

Kelainan darah telah terdaftar oleh Administrasi Makanan dan Obat tahun lalu sebagai efek samping yang mungkin terjadi akibat mendapatkan vaksin COVID-19, bersama dengan kejadian-kejadian buruk lainnya yang parah seperti sindrom Guillain-Barré dan kematian.

Beberapa laporan kasus trombositopenia pasca-vaksinasi, telah diserahkan ke  Vaccine Adverse Event Reporting System -VAERS- atau Sistem Pelaporan Efek Samping Akibat Vaksin, suatu sistem pelaporan pasif yang dikelola oleh Administrasi Makanan dan Obat dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS. Sekitar 44,7 juta dosis vaksin COVID-19 telah diberikan di Amerika Serikat sejak tanggal 10 Februari.

Dalam satu kasus, seorang pria berusia 56 tahun di Florida, yang disuntik dengan vaksin Pfizer, dilarikan ke rumah sakit beberapa hari kemudian, setelah melihat “bercak-bercak darah kecil.” Ia didiagnosis menderita trombositopenia.

Seorang wanita Pennsylvania berusia 36 tahun mengatakan, ia bangun pada awal bulan Januari, sekitar dua minggu setelah mendapatkan vaksin Pfizer, dengan lepuh-lepuh darah di seluruh mulutnya dan ia mengunjungi unit gawat darurat. Ia dirawat dan didiagnosis menderita idiopathic thrombocytopenic purpura, sebuah versi gangguan trombositopenia.

Contoh paling terkenal melibatkan Dr. Gregory Michael, seorang dokter di Miami yang berusia 56 tahun, yang meninggal 16 hari setelah menerima vaksinasi untuk melawan virus Komunis Tiongkok, yang menyebabkan COVID-19.

Istri Dr. Gregory Michael, Heidi Neckelmann, menulis di Facebook bahwa Dr. Gregory Michael dirawat di unit gawat darurat, tempat para pekerja medis menemukan jumlah trombositnya adalah nol.

Trombositopenia menyebabkan suatu tingkat trombosit yang rendah dan, pada orang dewasa, biasanya membutuhkan terapi  medis.

Dr. Gregory Michael dibawa ke unit perawatan intensif, di mana ia didiagnosis dengan idiopathic thrombocytopenic purpura yang akut, yang disebabkan  oleh reaksi terhadap vaksin tersebut, kata istri sang dokter.

“Tidak ada yang menghubungi saya dari Pfizer atau lembaga kesehatan mana pun. Yang saya tahu mengenai penyelidikan tersebut adalah apa yang diposting di artikel-artikel berita yang berbeda, yang masih dalam penyelidikan,” kata Heidi Neckelmann kepada The Epoch Times dalam pesan Facebook. 

Dr. Jerry Spivak, profesor kedokteran di divisi Hematologi di  Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Maryland, tidak mengevaluasi Dr. Gregory Michael dan tidak pernah mendapat pengetahuan mengenai terapi yang diberikan kepada  Dr. Gregory Michael.

Dr. Jerry Spivak kepada The Epoch Times melalui email menyebutkan,  berdasarkan onset yang cepat, tingkat keparahan, dan perjalanan waktu trombositopenia yang sama pada beberapa pasien lain dalam periode waktu yang sama, terpapar vaksin yang sama, yang tidak biasa untuk trombositopenia kekebalan, saya pikir ada sebuah  argumen yang sangat kuat dapat diperpanjang, sampai terbukti sebaliknya, asosiasi tersebut [dengan vaksin] harus dianggap nyata, bukan kebetulan.” 

“Trombositopenia akibat-vaksin adalah peristiwa langka yang diakui jarang terjadi, tetapi tidak ada seorang pun yang harus meninggal karenanya. Mengabaikan peristiwa ini sebagai kebetulan atau hanya mungkin merupakan ketidakadilan bagi Dr.  Gregory Michael, untuk dilakukan penyelidikan ilmiah, dan membahayakan orang lain yang mungkin mengalami efek samping yang sama. Jadi iya, sampai terbukti sebaliknya, saya anggap ini adalah peristiwa terkait COVID-19,” tambah Dr. Jerry Spivak, yang dirinya  telah divaksinasi. Ia menyarankan orang lain untuk mendapatkan vaksin, karena ia yakin akan manfaat vaksinasi adalah lebih besar daripada risikonya.

Seorang pejabat Pfizer memberitahukan kepada The Epoch Times, bahwa penyelidikan awal kasus-kasus trombositopenia pasca-vaksinasi menunjukkan tidak ada hubungan antara vaksin dengan trombositopenia, tetapi mencatat bahwa Administrasi Makanan dan Obat dan badan kesehatan federal lainnya, bertanggung jawab untuk melakukan penyelidikan tersebut.

“Kami menanggapi laporan-laporan efek samping yang sangat parah. Kami mengetahui kasus-kasus trombositopenia pada penerima vaksin COVID-19 kami seperti yang dilaporkan ke Sistem Pelaporan Efek Samping Akibat Vaksin, dan/atau dilaporkan ke Pfizer. Kami mengumpulkan informasi yang relevan untuk dibagikan dengan Administrasi Makanan dan Obat. Namun, saat ini, kami belum dapat membuat sebuah hubungan sebab akibat dengan  vaksin kami,” kata seorang juru bicara menambahkan melalui email.

Jubir itu melanjutkan : “Sampai saat ini, jutaan orang telah divaksinasi dan kami terus memantau semua efek samping pada individu-individu yang menerima vaksin kami. Efek samping yang serius, termasuk kematian yang tidak terkait dengan vaksin tersebut, sayangnya cenderung terjadi pada tingkat yang sama seperti yang terjadi populasi umum.”

Moderna, satu-satunya perusahaan lain yang telah menerima wewenang darurat untuk vaksin COVID-19 di Amerika Serikat, tidak segera menanggapi permintaan The Epoch Times untuk komentar.

Pihak berwenang menekankan bahwa Sistem Pelaporan Efek Samping Akibat Vaksin adalah sebuah sistem pasif, artinya siapa pun dapat mengirimkan laporan.

Namun, pada tahap proses vaksinasi ini, ini adalah sistem utama yang dihadapi masyarakatmengenai efek samping setelah vaksinasi. Ada rencana untuk menerapkan sistem-sistem yang lebih kuat dalam beberapa bulan mendatang. (Vv)

Share

Video Popular