Li Yun

Pandemi COVID-19  atau virus Komunis Tiongkok telah berlangsung selama lebih dari satu tahun. Jumlah korban yang meninggal di Wuhan, tempat epidemi pertama kali pecah, masih menjadi misteri. Selama Tahun Baru Imlek, kegiatan peringatan orang-orang yang meninggal akibat virus Komunis Tiongkok atau covid 19 di Wuhan menyebabkan bunga habis di pasaran. Hal ini memicu spekulasi publik. 

Menurut data dari Departemen Urusan Sipil Komunis Tiongkok, pada kuartal pertama tahun lalu saja, lebih dari 150.000 lansia di Hubei tiba-tiba menghilang dari daftar tunjangan. Hal ini dipertanyakan,  sebagai bukti baru bagi Komunis Tiongkok untuk menyembunyikan korban tewas akibat epidemi.

Di Wuhan, Hubei, ada kebiasaan “membakar dupa” kepada kerabat yang meninggal di hari pertama tahun baru. Itu menyebabkan permintaan akan bunga melonjak. Akibatnya harga bunga di Wuhan melambung tinggi dan pasar kehabisan stok. 

Media resmi Hubei menyebut fenomena ini sebagai “konsumsi pembalasan” setelah epidemi, dan “permintaan pasar kuat.” Warga setempat bertanya dengan marah: “Mengapa mereka tidak berani menyebutkan bahwa bunga yang laku itu terkait dengan ritual kebiasaan membakar dupa di Wuhan?”

Seorang netizen lokal berkomentar,  “Di pagi hari, Kakek pergi ke rumah teman lama sekelasnya untuk  membakar dupa. Setelah pulang dia merasa sedih, katanya tahun ini sepanjang jalan dia tidak dapat membeli krisan. Pemasok utama di Wuhan telah kehabisan pasokan. Ini juga secara tidak langsung mencerminkan tragedi tahun lalu Wuhan.” 

Tuan He, warga Wuhan, mengatakan banyak orang meninggal di Wuhan karena wabah ini, ini pasti, tapi data sebenarnya masih dirahasiakan. 

Radio Free Asia mengatakan pada Selasa (16/2/2021) bahwa Liu Jun, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang prihatin dengan insiden tersebut, mengatakan bahwa siapapun yang mencoba mencari informasi yang sebenarnya dapat ditangkap.  

Pada Maret 2020, setidaknya 42.000 guci akan dibagikan di Rumah Duka Wuhan. (Tangkapan layar video)

Tuan Liu juga berkata bahwa data tunjangan hari tua dari Departemen Urusan Sipil dapat digunakan sebagai referensi penting, dan juga secara tidak langsung menegaskan kritik luar negeri terhadap Komunis Tiongkok karena menyembunyikan skala sebenarnya dari epidemi tahun lalu.

BACA JUGA :  Pakar : Gunakan Nama ‘Virus Komunis Tiongkok’ untuk Menuntut Tanggung Jawab Rezim Komunis Tiongkok atas Krisis Global

Tuan Liu percaya bahwa media resmi Hubei sebenarnya bukan tidak tahu bahwa mereka membeli bunga untuk orang mati, tetapi mereka tidak dapat menulis tentang hal itu dalam laporan. Jadi mereka sengaja membuat laporan positif tentang fenomena ini, dan membiarkan media sendiri memecahkan masalah tersebut. 

Menurut apa yang disebut data tunjangan untuk lansia di atas 80 tahun  yang dikeluarkan oleh Departemen Urusan Sipil Provinsi Hubei, sebanyak 150.000 lansia di provinsi itu tiba-tiba menghilang dari daftar tunjangan pada triwulan pertama tahun lalu.

Seorang akademisi yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa seluruh negara dan terutama di Wuhan orang tua semakin bertambah, dan jumlah orang tua meningkat setiap tahun. Namun, data tentang tunjangan lansia dari Departemen Urusan Sipil Hubei telah menurun tajam, yang sebenarnya tidak normal.

Akademisi tersebut mengatakan bahwa ini hanya situasi yang melibatkan orang-orang yang berusia lebih dari 80 tahun, dan informasi statistik yang terperinci ditutup rapat, dan gambaran keseluruhan dari epidemi bahkan kurang diketahui dunia luar.

Pada Maret tahun lalu, seorang sukarelawan di komunitas Wuhan, “pelajar marga Lu”, menceritakan kisah tragis sepasang pasangan Nenek Chen dan Kakek Wang berusia 80 tahun yang diisolasi di rumah selama epidemi.

“Pelajar marga Lu” mengatakan, “Harapan paling rendah dari Kakek Wang sebelum kematian adalah bisa makan sepotong daging babi sebelum kematian. Keesokan harinya  dia mengantarkan daging babi. Sore harinya, Nyonya Chen menelepon dan berkata bahwa Kakek Wang baru saja meninggal. Siang harinya dia makan sepotong daging babi rebus dan berkata, ‘Enak sekali’.” 

Pelajar marga Lu menelepon mobil dari rumah duka dan membawa pergi Kakek Wang. Nenek Chen memperhatikan mobil pemakaman dan tidak menangis. Dia mengeluarkan ponsel pintar lama dan menyimpan beberapa foto di kamera. Dia mengatakan bahwa bulan ini, dia mendengar  tiga orang telah meninggal

Pelajar marga Lu mengaku  tidak tahu harus berkata apa. Di musim semi ini, banyak orang di Wuhan kehilangan orang tua mereka. Di Wuhan di bawah wabah, setiap warga negara adalah korban, dengan derajat yang berbeda. Di antara mereka, para lansia lebih menderita.

Epidemi virus Komunis Tiongkok  pecah di Wuhan pada Desember 2019. Namun, pejabat Komunis Tiongkok berbohong pada tiga kesempatan bahwa epidemi itu dapat dicegah dan dikendalikan, dan tidak ada penularan dari manusia ke manusia yang ditemukan.

Komunis Tiongkok secara ketat mengontrol media, menekan pelapor epidemi Li Wenliang, Ai Fen dan dokter Wuhan lainnya serta informan pribadi, dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan epidemi. Epidemi menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. 

Pada (23 /1/2020), setelah Wuhan dikunci secara tiba-tiba, daerah itu menjadi “neraka di bumi”. Banyak orang terinfeksi dan meninggal. Banyak orang hancur. Orang-orang melompat bunuh diri dan menggantung diri. Banyak orang jatuh di jalanan. Semua Krematorium di Wuhan Beroperasi sepanjang hari, pihak berwenang juga segera memindahkan lebih dari 40 krematorium keliling dari tempat lain untuk memberikan dukungan.

Komunis Tiongkok secara resmi mengklaim bahwa lebih dari 2.500 orang telah meninggal akibat epidemi di Wuhan. Namun, media lokal melaporkan bahwa Rumah Duka Wuchang sendiri membagikan 500 guci setiap hari selama 12 hari berturut-turut. Menurut angka ini, setidaknya ada 7 atau 8 rumah duka di Wuhan, dan setidaknya 42.000 guci abu orang mati dibagikan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh departemen kesehatan masyarakat Komunis Tiongkok pada Desember 2020 lalu menunjukkan bahwa skala epidemi Wuhan pada awal tahun mungkin hampir 10 kali lipat dari data yang tersedia untuk umum. Rasio ini menunjukkan hingga 500.000 orang di Wuhan, dengan populasi sekitar 11 juta, telah terinfeksi virus tersebut.

Para analis umumnya percaya  bahkan dengan peningkatan 10 kali lipat, angka-angka Komunis Tiongkok masih akan melibatkan pelaporan yang kurang serius.

Dr. Wang Weiluo, seorang sarjana yang tinggal di Jerman, menganalisis data “Sistem Pelaporan Internet Langsung untuk Penyakit Menular” Komunis Tiongkok dan menyimpulkan bahwa statistik “Sistem Pelaporan Internet Langsung” saja 25 kali lebih banyak daripada yang diumumkan Komunis Tiongkok!

Namun sejauh ini, Komunis Tiongkok masih menyembunyikan data sebenarnya tentang epidemi tersebut, menolak memberikan informasi nyata kepada badan internasional termasuk WHO dan komunitas internasional, serta memblokir penyelidikan lebih lanjut para tim ahli.  (hui)

Share

Video Popular