oleh Jing Zhongming

Situs web resmi kedutaan Tiongkok di Myanmar pada (16/2) malam,merilis konten wawancara Duta Besar Chen Hai dengan media Myanmar sehari sebelumnya.  Dalam wawancara, Chen Hai kembali menekankan penyangkalannya tentang rumor yang beredar bahwa komunis Tiongkok telah memanipulasi dan mendukung perubahan dalam situasi politik Myanmar. Tetapi, dalam pembicaraannya ia tetap tidak menyebut kata “kudeta” dan menghindari untuk mengutuk militer Myanmar.

Chen Hai juga menyatakan bahwa penerbangan pesawat Tiongkok yang baru-baru ini terungkap, merupakan pesawat yang membawa kargo biasa berupa makanan laut dan barang lainnya yang diekspor Myanmar ke Tiongkok. Ia juga mengatakan bahwa, Tiongkok selalu menjadi pasar ekspor produk pertanian dan akuatik yang penting bagi Myanmar.

Ini adalah kedua kalinya Kedutaan Besar Tiongkok menanggapi insiden pesawat dan telah “memperbaiki” sebagian pernyataan sebelumnya.

Pekan lalu, sebuah artikel yang dimuat pada media Myanmar menyebutkan bahwa, setelah pemerintah junta militer menutup penerbangan internasional, ada 5 pesawat yang membawa kargo dari Kota Kunming, Yunnan, mendarat di Bandara Internasional Yangon. 

Beberapa netizen Myanmar berspekulasi, apakah pesawat-pesawat ini yang mengangkut personel IT Tiongkok yang didatangkan untuk membantu militer Myanmar, memblokir jaringan Internet, atau pesawat yang mengirim senjata dan perlengkapan polisi untuk menindas demonstran.

Dari foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa, para pekerja bandara membongkar beberapa kotak barang dari pesawat yang mendarat di Yangon. Warga menduga barang-barang itu sepertinya adalah peralatan teknis yang digunakan teknisi Tiongkok, tak lain untuk membantu pemerintah militer Myanmar untuk memutuskan jaringan Internet.

Ketika militer Myanmar melancarkan kudeta pada 1 Februari, mereka langsung mengumumkan penutupan penerbangan internasional. Sebelumnya, komunis Tiongkok telah meniadakan semua penerbangan ke Myanmar bagi penumpang dari China Airlines dengan alasan “pencegahan epidemi”.

Setelah berita kedatangan pesawat Tiongkok, secara diam-diam di Myanmar terungkap minggu lalu, Kedutaan Besar Tiongkok untuk Myanmar segera “meluruskan” rumor yang beredar dengan memposting melalui Facebook, pernyataan yang dikeluarkan oleh Kamar Dagang Perusahaan Tiongkok- Myanmar. Pesan itu berisi mengklaim bahwa yang disebut penerbangan pulang-pergi antara Tiongkok dan Myanmar itu, adalah pesawat yang membawa kargo berupa barang impor dan ekspor biasa seperti makanan laut dan lainnya.

Gara-gara pernyataan tersebut, “Chinese seafood” atau “seafood” langsung menjadi bahan candaan di kalangan netizen Myanmar.

Ada netizen bertanya apakah orang yang mengeluarkan pernyataan itu sama sekali tidak memahami kondisi nasional Myanmar ? Garis pantai Myanmar panjangnya 2.832 kilometer, dan sumber daya perikanannya sangat kaya. Makanan laut adalah industri penghasil utama ekspor negara. Tidak mungkin mengimpor makanan laut dari daratan Tiongkok tanpa alasan.

Ada juga netizen dengan nada bercanda menyebutkan, menafsirkan bahasa Inggris “makanan laut” (SEAFOOD) dari istilah makanan laut sebagai singkatan dari Software Engineering Approach For Offshore and Outsourced Development atau metode rekayasa perangkat lunak pengembangan lepas pantai dan outsourcing.

Setelah kudeta militer Myanmar, pemerintah komunis Tiongkok selalu menghindari penyebutan istilah “kudeta” dan menolak untuk mengutuk militer Myanmar. Hal mana menyebabkan ketidakpuasan masyarakat Myanmar. 

Pemerintah militer Myanmar baru-baru ini memutuskan sambungan Internet, yang dicurigai menerima dukungan teknis dari personil teknis yang dikirim dari daratan Tiongkok.

Selama beberapa hari dalam pekan lalu, masyarakat Myanmar berkumpul di depan Kedutaan Besar komunis Tiongkok. Mereka memprotes dukungan pemerintah Beijing kepada junta militer dan campur tangannya dalam urusan nasional Myanmar. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular