oleh Xiao Jing

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau Center for Disease Control and Prevention (CDC) pada Selasa (16/2/2021) menginformasikan bahwa, sampai saat ini sudah ada 934 orang di seluruh AS yang meninggal dunia setelah divaksinasi (COVID-19). Namun, CDC mengklaim bahwa kematian mereka tidak dapat begitu saja diartikan sebagai akibat dari vaksinasi, oleh karena itu pihaknya masih tetap menghimbau masyarakat untuk segera menerima vaksinasi jika persyaratannya terpenuhi.

Laporan tersebut dikutip dari di situs resmi CDC AS pada, “Sistem Pelaporan Kejadian Buruk Vaksin” atau Vaccine Adverse Event Reporting System  (VAERS)  yang dikelola bersama oleh CDC dan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah menerima laporan kematian dari 934 orang yang telah divaksinasi COVID-19 yang terjadi dari 14 Desember 2020 hingga 14 Februari 2021. 

Namun demikian, CDC AS masih tetap berpendapat bahwa kematian ini tidak dapat begitu saja diartikan sebagai akibat dari vaksinasi. Sejauh ini, tidak ada bukti yang jelas bahwa vaksin COVID-19 “memiliki resiko keselamatan”. Oleh karena itu, CDC tetap mengimbau kepada masyarakat untuk segera menerima vaksinasi jika persyaratannya terpenuhi.

Di sisi lain, baik CDC maupun FDA, mengakui bahwa beberapa orang telah mengalami “reaksi syok anafilaksis” setelah vaksinasi. Menurut laporan VAERS, hampir semua reaksi alergi ini terjadi dalam waktu 30 menit setelah vaksinasi.

Belakangan ini, media kerap membeberkan kasus infeksi massal dan kematian akibat menerima vaksinasi virus komunis Tiongkok (COVID-19).

Menurut laporan Agencia EFE (kantor berita resmi Spanyol) pada 3 Februari, di sebuah panti jompo di Lagartera, provinsi Toledo, Spanyol, terdapat 78 orang lansia yang semuanya dinyatakan positif terkena virus komunis Tiongkok, itu setelah menerima suntikan tahap pertama vaksin buatan Pfizer, kejadian yang sama juga menimpa terhada[ 12 dari 33 orang staf pekerjanya. Tak lama kemudian, 7 orang diantara lansia itu meninggal dunia dan 4 orang lainnya dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan.

Di Negara Bagian Virginia, AS, seorang pendeta berusia 58 tahun Drene Keyes setelah menerima vaksinasi Pfizer pada 5 Februari, menderita ketidaknyamanan fisik dan meninggal dunia.

Di New York City, New York, seorang pria berusia 70 tahun tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri hanya 25 menit setelah divaksinasi pada 7 Februari. Para personil keamanan dan paramedis di tempat, segera membawanya ke rumah sakit terdekat, tetapi dia meninggal dunia tak lama setelah tiba di rumah sakit.

Kasus serupa juga muncul di California, AS. Pada 13 Februari, direktur program vaksinasi California Selatan, Michael Morris mengatakan bahwa, seorang wanita berusia 78 tahun yang divaksinasi dengan Pfizer pada siang hari di kantor vaksinasi yang ditunjuk yakni Kaiser Permanente, Universitas Politeknik Negeri, ia tiba-tiba meninggal dunia di area observasi setelah dinyatakan tidak ada kelainan oleh staf medis.

Pada 5 Januari, Tim Zook yang berusia 60 tahun, seorang ahli radiologi sinar-X di South Coast Global Medical Center, California, mengalami reaksi alergi beberapa jam setelah menerima dosis kedua vaksin Pfizer. Dan, meninggal dunia 2 hari kemudian.

Setelah terjadinya kasus-kasus di atas, seluruh pejabat menyatakan bahwa, masih belum jelas apakah penyebab kematian terkait dengan vaksinasi. Pihak berwenang tetap mendorong masyarakat untuk melanjutkan vaksinasi. (sin)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular