Frank Yue

Menjelang Tahun Baru Imlek 2021 , keluarga Tionghoa di daratan Tiongkok mengharapkan reuni akhir tahun yang bahagia dan persiapan untuk perayaan liburan. Namun, rezim Komunis Tiongkok terus-menerus melanjutkan penganiayaannya terhadap jutaan praktisi Falun Gong di Tiongkok, yang bersama-sama bersama keluarganya, masih menderita rasa sakit dan ketakutan yang disebabkan oleh penculikan, gangguan, dan hukuman peradilan yang ilegal.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan spiritual Tiongkok kuno yang dikenal meredakan stres dan menambah energi. Falun Gong terdiri dari latihan meditasi sederhana dan bergerak lambat dan ajaran yang menggabungkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar dalam  kehidupan sehari-hari.

Menurut Minghui.org, sebuah situs web yang mendokumentasikan kampanye penganiayaan rezim Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong, setidaknya 1.216 praktisi Falun Gong diculik atau dilecehkan pada Januari 2021. Penindasan itu didokumentasikan di 155 kota di sejumlah provinsi dan kotamadya di bawah kendali langsung rezim Tiongkok.

Khususnya, beberapa dari praktisi Falun Gong yang terkena dampak adalah orang-orang yang sudah tua. Data menunjukkan bahwa, 94 dari total orang-orang yang sudah tua setidaknya sudah berusia 65 tahun.

Tujuh Kematian Karena Penganiayaan Komunis Tiongkok

Menurut laporan tersebut, ada tujuh praktisi Falun Gong yang meninggal dunia yang harus dipertanggungjawabkan oleh rezim Komunis Tiongkok.

Liao Chuanjiang, seorang pria mantan di Pabrik Mesin Sanjiang, kota Yibin, Provinsi Hubei di tengah Tiongkok, meninggal dunia pada 16 Januari, di usia 46 tahun, menurut sebuah  laporan di Minghui.org pada 1 Februari.

Data yang diungkap Minghui.org

Liao Chuanjiang mulai berlatih Falun Gong pada September 1994, yang meningkatkan kesejahteraan fisik dan mentalnya secara bermakna.

Namun, setelah Partai Komunis Tiongkok memulai penindasan brutal terhadap Falun Gong pada tahun 1999, kesetiaannya pada Falun Gong mengakibatkan ia ditangkap pada 4 Desember 2005, dan dipaksa ditahan selama satu tahun. Ia menjadi sasaran sesi cuci otak, kerja paksa, pemukulan parah, dan tidak boleh tidur, antara lain siksaan yang menggerogoti kesehatannya.

Kasus lainnya adalah Sun Zerong, seorang wanita penduduk Distrik Qiaokou, Wuhan, Provinsi Hubei, yang meninggal pada 21 Januari 2021, di usia 63 tahun. Ia juga menjadi sasaran penculikan berulang kali, cuci otak, dan pelecehan selama bertahun-tahun, menurut sebuah laporan di Minghui.org pada 2 Februari.

Hampir 500 Praktisi Falun Gong Diculik

Menurut sebuah laporan 6 Februari di Minghui.org, polisi Partai Komunis Tiongkok menculik 482 praktisi Falun Gong pada Januari 2021. Provinsi-provinsi yang terkena dampak terparah terkonsentrasi di utara Tiongkok, yaitu Shandong sebanyak 97 praktisi, Heilongjiang sebanyak 60 praktisi, dan Liaoning sebanyak 54 praktisi.

Pada 9 Januari, sembilan praktisi Falun Gong digerebek oleh polisi di kota Haiyang, Provinsi Shandong, oleh kantor keamanan domestik setempat. Mereka termasuk Zhang Jiguo, Zhang Junfeng, Liang Yaomin, dua orang masing-masing bermarga Ji dan Wang, Wang Juan, Sui Weili, dan satu  pasangan — Yu Haiyong dan istrinya Wang Xuemei. Mereka semua dikirim ke pusat-pusat penahanan kecuali Wang Xuemei, yang diberi jaminan. Telepon seluler, komputer, dan buku-buku Falun Dafa  mereka semuanya disita.

Pada 14 Januari, sekitar pukul 09.00 waktu setempat, praktisi Falun Gong Qin Yun, seorang wanita sebagai guru dari Sekolah Hangzhou Hushu — sebuah institusi yang didedikasikan untuk pendidikan khusus — sedang mengajar murid-murid di sebuah ruang kelas saat petugas dari Kantor Polisi Xiangfu tiba-tiba muncul dan menciduknya.

Keluarga Qin Yun diberitahu bahwa ia telah ditempatkan di bawah penahanan kriminal.

Lebih dari 700 Praktisi Falun Gong Dilecehkan

Menurut statistik di Minghui.org, sebanyak 734 praktisi Falun Gong mengalami pelecehan dari berbagai jenis otoritas di Januari.

Pada 13 Januari, Zhou Shaotang, seorang praktisi Falun Gong yang berusia 83 tahun, ditangkap oleh para petugas desa Yang Juanzi, kota Panjin, Provinsi Liaoning, karena mengklarifikasi fakta mengenai Falun Gong di sebuah pasar setempat. Kemudian para petugas membawa Zhou Shaotang ke rumahnya untuk mencari materi-materi Falun Dafa.

Saat para petugas mencoba membawa Zhou Shaotang pergi, para petugas mendapat perlawanan sengit dari keluarga Zhou Shaotang. Setelah tiga atau empat jam, para petugas itu menyerah. Namun, para petugas datang ke rumah Zhou Shaotang untuk  mengganggunya lagi setelah peristiwa itu setiap dua atau tiga hari sekali.

Para praktisi Falun Gong dan guru-guru Sekolah Menengah Pertama di kota Yushu, Provinsi Jilin, juga mengalami pelecehan sejak Oktober 2020 dari Kantor 610 setempat dan biro pendidikan. Guru-guru yang terkena dampak ini termasuk Sun Qinghong dan Wu Xiaoguang.

Kantor 610 adalah sebuah badan kebal hukum yang dibuat dengan tujuan tunggal yaitu untuk menganiaya Falun Gong. Kantor 610 memiliki kekuasaan absolut di setiap tingkat pemerintahan di Partai Komunis Tiongkok. Sedangkan pengaruh Kantor 610, mengalahkan semua organisasi politik dan peradilan lainnya di Tiongkok.

Uang lebih 400 Ribu Yuan Diperas Saat Menggeledah Rumah

Pada awal 2021, polisi Partai Komunis Tiongkok menjarah total 496.100 yuan dari para praktisi Falun Gong, menurut laporan di Minghui.org.

Pada bulan Januari, Zhu Xiyu, seorang wanita praktisi Falun Gong di prefektur Yanbian, Provinsi Jilin, kehilangan 207.131 yuan, karena uang pensiunnya didiskualifikasi oleh biro jaminan sosial setempat.

Uang pensiun merupakan kekayaan hukum pensiunan, yang pencabutannya dianggap inkonstitusional, menurut Minghui.org.

Juga, di bulan Januari, Jia Liying, seorang wanita praktisi Falun Gong, uangnya sebesar 130.000 yuan dijarah oleh polisi yang menggeledah rumahnya di kota Datong, Provinsi Shanxi di utara Tiongkok.

Para Pelaku yang Terkenal Jahat

Bai Yan, Kepala Kantor 610 di kota Jilin, Provinsi Jilin, mengawasi tindakan keras praktisi Falun Gong setempat. Bai Yan aktif dalam mengganggu praktisi Falun Gong dan memaksa atau menipu praktisi Falun Gong untuk ikut serta dalam sesi cuci otak Partai Komunis Tiongkok.

Lu Gang dan Lu Shundong adalah pemimpin administratif di Kantor 610 di desa Gaizhiba, kota Jiangyou, Provinsi Sichuan di barat daya Tiongkok. Sejak dimulainya  tindakan keras oleh Partai Komunis Tiongkok, mereka melanjutkan pelecehan, ancaman, penggeledahan rumah, dan penyitaan yang menargetkan praktisi Falun Gong setempat.

Pada 7 Desember 2020, Uni Eropa mengesahkan Undang-Undang Akuntabilitas Hak Asasi Manusia Magnitsky Global, yang berarti 27 negara anggotanya telah bergandengan tangan untuk memberikan sanksi hak asasi manusia bagi para pelanggar di negara mana pun, termasuk  komunis Tiongkok. (Vv)

 

Share

Video Popular