Alex Wu

Distrik Gaucheng di kota Shijiazhuang di Provinsi Hebei, Tiongkok adalah salah satu titik wabah atau hotspot kekambuhan virus Komunis Tiongkok atau  COVID-19 terbaru di Tiongkok. Sekitar 800.000 warga di distrik tersebut berada di bawah karantina sejak awal  Januari lalu. 

Lee, seorang pria warga Heydung Oasis Residential Community di distrik itu baru-baru ini memberitahu grup media The Epoch Times. Ia mengungkapkan bahwa setelah dikurung di dalam rumah lebih dari 40 hari, ribuan warga memprotes tindakan karantina pada 7 Februari dan bentrok dengan para pekerja pemerintahan setempat.

Banyak komentar warga tentang bentrokan dan  langkah karantina itu. 

“Banyak warga bergabung dalam keributan itu. Konflik dan bentrokan berlangsung dari sekitar pukul 13.000 hingga pukul 18.00. Hidup seperti ini adalah sungguh tidak tertahankan. Untuk beberapa orang yang berusia lanjut, pria dan wanita, benar-benar menangis saat mengemis pada para pekerja pemerintahan.”

“Kami benar-benar mengemis,” kata seseorang.

“Pada hari kedua karantina, kami diberitahu bahwa kami tidak boleh turun ke lantai bawah sama sekali. Saya mendengar seseorang melanggar aturan ini dan berjalan-jalan di dalam kompleks. Sebuah mobil polisi datang dan orang tersebut menolak untuk kembali ke rumah. Kemudian, polisi membawanya pergi.”

“Pada 27 atau 28 Januari, peraturan tersebut semakin memaksa. Semua pintu masuk ke dalam bangunan disegel dengan helaian kertas. Supermarket-supermarket juga disegel.”

“Harga makanan adalah sangat mahal saat ini. Di samping itu, layanan pengiriman akan menolak bila anda hanya memesan 1/2 kg atau 1 kg sayuran. Anda harus memesan lebih dari 5 kg sayuran supaya diantar oleh layanan pengiriman. Namun, harga-harga adalah sangat mahal, dua kali harga waktu biasa.”

“Ada 15 bangunan di kompleks kami dengan total sekitar 10.000 penghuni. Kami tidak dapat pergi kera dan hampir dua bulan tanpa penghasilan. Kami semua harus menyokong keluarga kami. Ada hipotek rumah dan cicilan mobil adalah sungguh memberatkan.”

“Hari terakhir saya bekerja adalah 5 Januari. Karantina diberlakukan segera setelah saya tiba di rumah pada sore hari 5 Januari. Sejak itu saya berada di rumah terus. Sesungguhnya kami merasa tertekan. Di bawah karantina selama ini, adalah sangat tertekan.”

“Saat ini kami telah 13 kali menjalani uji asam amino. Tidak ada sama sekali kasus yang dipastikan yang terjadi di kompleks kami. Cukup banyak uang yang terbuang untuk melakukan uji asam amino. Setelah menjalani pengujian asam amino beberapa kali, tenggorokan saya ditusuk di titik yang mengalami peradangan.”

“Masalah utama adalah bahwa anda harus hidup dan anda tidak mempunyai uang. Beberapa memiliki keluarga yang harus disokong serta hipotek dan cicilan mobil yang harus dibayar. Orang-orang sudah frustasi. Baru saja saya mendengar bahwa orang-orang di komunitas kami yang sudah kehilangan pekerjaannya karena karantina, menangis di rumah.”

Sebuah posting media sosial oleh seorang penduduk Nangong menggambarkan kesulitannya di bawah lockdown. (Tangkapan layar melalui Weibo)

Sementara kota Nangong yang berdekatan, yang adalah hotspot yang lain, berada di bawah tindakan-tindakan kendali pandemi yang sama.

Wang, seorang warga di Nangong memberitahu The Epoch Times bahwa pada  10 Februari, dua hari menjelang Hari Raya Imlek, seorang pria berusia 60 tahun gantung diri. Keadaan-keadaan yang khusus ini tidak diungkapkan oleh pihak berwenang. Warga setempat berspekulasi bahwa pria tersebut tidak tahan terhadap isolasi lebih lama lagi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya.”

Wang mengatakan,” Saya pikir saya akan menderita depresi. Orang-orang bunuh diri dan menjadi gila. Tidak seorang pun yang memberitahu kami kapan kami dapat bebas dari kerantina. Pemerintah Hebei mengumumkan bahwa karantina massal akan terus berlangsung hingga masa depan yang tak dapat diduga. ” (Vv)

Share

Video Popular