Lingering symptoms plague  atau gejala-gejala yang menetap mengganggu beberapa penderita pasca-COVID, tetapi dapat mengurangi chronic fatigue atau stigma seputar kelelahan kronis

oleh Kevin Cool

Empat minggu setelah perawat anak-anak di kota San Diego, California, seorang bernama Jennifer Minhas menderita COVID-19 pada Maret 2020. Ia mengalami batuk dan demam yang dideritanya telah sembuh, tetapi gejala-gejala baru muncul: nyeri dada, denyut jantung meningkat, dan kelelahan yang amat sangat. Dokter perawatan primernya mengatakan bahwa, ia hanya merasa cemas, dan tidak ada penderita COVID-19 lainnya yang memiliki masalah-masalah tersebut.

“Bukan itu yang perlu saya dengar,” kata Jennifer Minhas. Kadang, ia terlalu lemah untuk mengangkat kepalanya. “Saya adalah semacam zombie selama berbulan-bulan, terseok-seok tidak dapat berbuat banyak.”

Istilah klinis untuk kelelahan mendatar yang dijelaskan Jennifer Minhas adalah “post-exertional malaise” atau kelelahan yang parah setelah melakukan aktivitas fisik, atau mental yang dapat bertahan lebih dari 24 jam setelah aktivitas tersebut dilakukan. 

Ini adalah gejala umum di antara penderita yang tidak belum pulih dari COVID-19. Ini juga konsisten dengan sebuah fitur standar penyakit kronis lainnya: myalgic encephalomyelitis, juga dikenal sebagai sindrom kelelahan kronis.

Penderita sindrom kelelahan kronis juga melaporkan gangguan kognitif— “kabut otak” —dan intoleransi ortostatik [berdiri tegak], yaitu dalam posisi berdiri tegak menyebabkan jantung  berdebar-debar dan pusing seolah-olah akan pingsan. 

Jennifer Minhas telah mengalami gejala-gejala ini, seperti halnya banyak penderita “COVID-19 long haul” lainnya, puluhan ribu penderita pasca-COVID-19 yang belum pulih. 

Penderita COVID-19 long hauler, adalah istilah bagi penderita yang sembuh.  Namun demikian, masih mengeluhkan gejala yang seolah-olah merupakan bagian COVID-19

Persentase penderita COVID-19 yang menjadi penderita COVID-19 long hauler, adalah sulit untuk dipastikan. Itu sebagian karena banyak penderita COVID-19 awal, tidak diuji tepat waktu untuk mendeteksi virus tersebut. Tetapi “COVID long haul” berpotensi sebagai sebuah masalah yang sangat besar. 

Sebuah penelitian terbaru terhadap 1.733 penderita COVID-19 di Wuhan, Tiongkok, ditemukan tiga perempat dari penderita tersebut, yang mana masih menderita gejala-gejala selama enam bulan setelah dipulangkan dari rumah sakit.

Hingga Januari, dokter telah mendokumentasikan lebih dari 21 juta kasus COVID-19 di Amerika Serikat. 

“Kalau berkembang 5 persen saja gejala yg tidak hilang-hilang,” – sekitar 1 juta kasus— “dan jika sebagian besar dengan gejala memiliki sindrom kelelahan kronis, kami akan menggandakan jumlah orang Amerika Serikat yang menderita sindrom kelelahan kronis dalam dua tahun ke depan,” kata Profesor Dr. Anthony Komaroff dari Harvard Medical School menulis baru-baru ini di Harvard Health Letter.

Penyebab sindrom kelelahan kronis adalah tidak diketahui. Akan tetapi beberapa penelitian menemukan, sindrom kelelahan kronis menyertai infeksi-infeksi virus akut — mulai dari flu Spanyol tahun 1918 hingga Ebola. 

“Sebuah persentase tertentu orang-orang yang tidak pulih,” kata Leonard Jason, seorang peneliti di Universitas DePaul.

Para ilmuwan berupaya mencari tahu mekanisme penyakit tersebut, mereka juga mencari tahu mengapa sindrom kelelahan kronis berkembang pada orang tertentu dan bukan pada orang lain. 

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS -CDC-, sindrom kelelahan kronis berbagi karakteristik tertentu dengan penyakit-penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan menyerang jaringan yang sehat di dalam tubuh. Berbagai penelitian sedang dilakukan untuk mengeksplorasi potensi penyebab hal ini dan potensi penyebab hal lainnya.

Dokter-dokter yang berspesialisasi dalam merawat sindrom kelelahan kronis, mulai berporos pada para penderita COVID-19 long haul. 

Dr. Peter Rowe, yang kliniknya di Johns Hopkins adalah salah satu pusat terkemuka di Amerika Serikat untuk myalgic encephalomyelitis, sejauh ini telah menemukan empat kasus COVID-19 long haul di kliniknya. “Semua kasus tersebut memenuhi kriteria sindrom kelelahan kronis,” ujar Dr. Peter Rowe.

Meskipun penelitian bertahun-tahun, tidak ada penanda biologis untuk sindrom kelelahan kronis, jadi uji-uji darah adalah tidak efektif sebagai alat diagnostik. 

Pendekatan Dr. Peter Rowe adalah memisahkan mana gejala yang mungkin memiliki penyebab dan pengobatan yang dapat diidentifikasi, dan mengatasinya. Salah satu contoh: Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang dirawat oleh Dr. Peter Rowe, karena sindrom kelelahan kronis yang sedemikian parah. Di mana ia hampir tidak mungkin untuk duduk tegak beberapa jam sehari yang melelahkannya. Ia hampir tidak mungkin untuk menyelesaikan tugas sekolah. Denyut jantung anak laki-laki itu saat berbaring adalah 63, saat ia berdiri, denyut jantung melejit ke 113. Efek ini dikenal sebagai sindrom takikardia ortostatik postural.

Dr. Peter Rowe Rowe tahu dari wawancara dengan ibu anak laki-laki itu, bahwa anak laki-laki itu memiliki nafsu makan garam yang luar biasa. Sedemikian rupa sehingga anak laki-laki itu, menyimpan sebuah tempat garam memiliki lubang-lubang di atasnya di samping tempat tidurnya. Ia secara teratur memercikkan garam di tangannya dan menjilatnya.

Dr. Peter Rowe berhipotesis bahwa ia berurusan dengan masalah retensi natrium. Untuk mengatasinya, ia meresepkan steroid fludrokortison, yang mempermudah penyerapan natrium di kedua ginjal. 

Tiga minggu kemudian, anak laki-laki itu sembuh secara dramatis, di mana ia membantu tetangga dengan sebuah proyek lansekap, mendorong batu-batu di sekitar sebuah gerobak dorong. “Ia adalah seorang anak yang berbeda,” kata Dr. Peter Rowe.

Perawatan semacam itu tidak akan berlaku dalam sebuah kasus biasa, Dr. Peter Rowe mengatakan, “tetapi perawatan semacam itu menekankan potensi penderita untuk mendapatkan yang perbaikan gejala sindrom kelelahan kronis, yang diderita penderita secara substansial jika kita menangani intoleransi ortostatik.”

Mulai tahun 1980-an, banyak dokter yang merawat sindrom kelelahan kronis, meresepkan sebuah kombinasi terapi perilaku kognitif. Itu berdasarkan sebuah rejimen olahraga pada pernyataan, yang kini tidak dipercaya bahwa penyakit tersebut tidak berasal dari biomedis. 

Pendekatan tersebut terbukti adalah tidak efektif — penderita seringkali terbukti menjadi lebih buruk setelah melampaui batas fisiknya. Pendekatan tersebut juga berkontribusi pada keyakinan dalam lembaga medis, bahwa sindrom kelelahan kronis ada di kepala anda, sebuah narasi yang sebagian besar telah dibantah.

“Sindrom kelelahan kronis tidak pernah menjadi sebuah masalah perilaku, meskipun telah dianggap seperti itu,” kata Dr. Peter Rowe.

Jawaban-jawaban lambat datang, tetapi sikap mengenai penyakit itu mulai berubah. Dukungan untuk para penderita merujuk pada sebuah laporan tahun 2015 oleh Institute of Medicine, yang menyebut sindrom kelelahan kronis adalah “sebuah penyakit sistemik yang serius, kronis, kompleks.” Laporan itu mengakui bahwa banyak dokter tidak terlatih dengan baik, untuk mengidentifikasi dan mengobati sindrom kelelahan kronis. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS -CDC-mengatakan, sebanyak 90 persen dari perkiraan 1 juta penderita sindrom kelelahan kronis di Amerika Serikat, mungkin tidak terdiagnosis atau salah ditegakkan diagnosisnya.

Masalah ini diperburuk oleh keengganan untuk memberikan jaminan perawatan kesehatan kepada para penderita yang penyakitnya tidak mudah didiagnosis, kata Joe Dumit, seorang antropolog medis di Universitas California – Davis. 

Joe Dumit mengatakan, membuat para penderita membuktikan mereka tidak hanya menderita, tetapi menderita sebuah penyakit yang didokumentasikan, menyelamatkan uang. Jadi, Joe Dumit  khawatir akan dampak COVID long haul pada penderita diperlakukan, itu saat jumlah kasus meningkat. Adapun perawatan terbaik dalam banyak kasus, mungkin adalah istirahat atau mengurangi beban kerja, yang diterjemahkan ke dalam beberapa bentuk cakupan kecacatan. 

Tetapi, karena penderita COVID long haul biasanya langsung sakit setelah menderita sebuah infeksi virus yang dapat diuji, mungkin penderita COVID long haul tidak akan percaya, kata Dr. Peter Rowe. Namun, penyakit yang diderita penderita COVID long haul “dimulai sebagai penyakit yang ‘nyata’.”

Para penderita COVID long haul, juga dapat membantu para peneliti lebih memahami permulaan penyakit. Itu dikarenakan mereka sedang dipelajari saat gejala mereka muncul, sementara para penderita sindrom kelelahan kronis sering tidak terlihat sampai mereka sakit selama dua tahun atau lebih, kata Dr. Peter Rowe.

“Tidak diragukan lagi bahwa ini melegitimasi dalam banyak hal pengalaman orang-orang dengan sindrom kelelahan kronis yang merasa mereka tidak percaya,” kata Jason DePaul.

Pada Juli 2020, organisasi nirlaba Solve ME/CFS, meluncurkan sebuah inisiatif yang ditujukan untuk memahami kesamaan antara penderita COVID long haul dengan penderita sindrom kelelahan kronis. Dinamai You+ME dan ditanggung oleh National Institutes of Health, You+ME mencakup sebuah aplikasi yang memungkinkan para pendaftar untuk mencatat gejala yang dialaminya dan efek-efek gejala tersebut dari waktu ke waktu.

Upaya semacam itu, dapat semakin mengurangi kecenderungan dokter untuk mengabaikan keluhan gejala oleh penderita yang tampaknya tidak memiliki penyebab yang jelas, kata Lauren Nichols, 32 tahun, seorang wanita pekerja keras dengan sebuah daftar penderitaan yang panjang — mulai dari yang parah masalah saluran cerna hingga herpes zoster di mata kirinya.

“Saya adalah salah satu orang yang secara keliru percaya bahwa jika anda tidak dapat melihat penyakit tersebut, maka itu adalah psikosomatis,” kata Lauren  Nichols, yang membantu mengelola Body Politic, sebuah kelompok pendukung untuk para penderita COVID-19 long haul, yang mana telah menemukan penyebab umum dengan komunitas sindrom kelelahan kronis.

Kini Lauren  Nichols menjalaninya. “Jika saya memiliki satu pesan untuk para dokter, yaitu ‘Percayalah pada pasien-pasien anda.”

Kevin Cool, seorang penulis California Healthline. Artikel ini diproduksi oleh KHN, yang menerbitkan California Healthline, layanan editorial independen dari California Health Care Foundation

 

Share
Tag: Kategori: NEWS SEHAT

Video Popular