Epochtimes.com

Artikel Bloomberg pada (26/2/2021) melaporkan tentang persaingan India dengan komunis Tiongkok terkait vaksin. Arikel itu berjudul “India beats China at its own game in Covid-19 vaccine diplomacy battle” atau  “India mengalahkan Tiongkok dalam pertempuran diplomatik melawan vaksin virus Komunis Tiongkok atau covid 19”, analisis konten Pertempuran diplomasi vaksin sedang mengalami pembalikan besar. 

Fokusnya adalah pada sikap positif India dan berusaha untuk mengalahkan Komunis Tiongkok dalam pertempuran ekspor vaksin. Selain itu, artikel tersebut juga menyebutkan bahwa vaksin Komunis Tiongkok memiliki kredibilitas yang rendah dan tidak menepati janji.

Pemerintah Daerah Administratif Khusus Hong Kong dan media pro-Tiongkok terus mencuci otak publik. Mereka hanya menganjurkan bagaimana vaksin Komunis Tiongkok dapat mencapai prestasi diplomatik, tetapi nyatanya mereka tidak mengatakan yang sebenarnya.

Hingga saat ini, New Delhi telah berhasil mengirimkan hampir 6,8 juta dosis vaksin gratis ke dunia. Informasi publik yang dikumpulkan oleh Bloomberg menunjukkan bahwa Komunis Tiongkok telah berjanji untuk memberikan sekitar 3,9 juta dosis, beberapa di antaranya belum terkabulkan. 

India memiliki kemampuan untuk memproduksi vaksin melawan virus Komunis Tiongkok, berharap mendapatkan pengaruh politik yang lebih besar di semua negara berkembang.

Pada awalnya, Beijing tampaknya berada di atas angin. Tahun lalu, Tiongkok seolah-olah menekan penyebaran virus di Tiongkok daratan dan mengambil kesempatan itu untuk mempercepat produksi vaksin. 

Pada saat itu, India benar-benar sibuk berusaha untuk menghentikan penyebaran virus, dengan hampir 100.000 kasus baru setiap hari, dan blokade nasional menjerumuskan ekonomi lokal ke dalam resesi pertamanya dalam 25 tahun.

Namun, dengan perkembangan situasi, peperangan diplomatik Komunis Tiongkok sekali lagi gagal. Perusahaan farmasi Komunis Tiongkok enggan mengungkapkan rincian uji coba vaksin utama mereka, yang sangat penting untuk membangun kredibilitas di komunitas internasional. 

Kembalinya epidemi daratan di berbagai provinsi dan kota telah memperburuk urgensi vaksinasi 1,4 miliar orang, yang mungkin memakan waktu beberapa tahun. 

Pada saat yang sama, India telah mengirimkan jutaan dosis vaksin ke negara tetangga seperti Nepal, Bangladesh dan Sri Lanka agar dapat segera divaksinasi tanpa menunggu vaksin Komunis Tiongkok datang.

Beijing dan New Delhi telah bersaing memperebutkan pengaruh di Asia sejak lama. Sejak wabah virus Komunis Tiongkok, kedua belah pihak telah melancarkan konflik perbatasan paling sengit dalam beberapa dekade, dan ketegangan meningkat dengan cepat. 

India baru-baru ini secara resmi melarang sejumlah aplikasi Komunis Tiongkok termasuk TikTok, dan telah mencari mitra dari negara-negara di luar Tiongkok daratan, dan telah memperkuat hubungan pertahanan dan keamanannya dengan Jepang, Australia, dan Amerika Serikat.

Dalam pertempuran diplomatik vaksin di Asia Tenggara, di Myanmar, misalnya, Beijing berjanji akan memberikan sekitar 300.000 dosis, tetapi sejauh ini belum ada vaksin yang diekspor, sementara New Delhi dengan cepat menyediakan 1,7 juta dosis. 

Namun, Indonesia  membeli vaksin buatan Tiongkok. Jika melihat ke utara dan ke luar Tembok Besar, Mongolia, yang berbatasan dengan Tiongkok, menerima 150.000 dosis vaksin gratis yang diberikan oleh India, dan juga berguna untuk Perdana Menteri Mongolia sendiri.

Kemanjuran buruk vaksin yang diproduksi oleh Komunis Tiongkok sudah diketahui dengan baik, tetapi vaksin India juga dituduh kurang efektif dibandingkan Pfizer dan Moderna. India saat ini mengekspor Covishield, vaksin Oxford-AstraZeneca yang diproduksi secara lokal, dan mengekspor suntikan Covaxin yang diproduksi sendiri untuk pengujian klinis. 

Setelah Covaxin disetujui, permintaan vaksin dari India diperkirakan akan melonjak.

Dalam hal vaksinasi lokal di India, pihak berwenang menyatakan bahwa mereka akan memprioritaskan rakyatnya sendiri, dan kapasitas produksi vaksin India telah melebihi pengaturan negara untuk memvaksinasi rakyat, sehingga sebagian dapat digunakan untuk ekspor. 

Rashidul Mannan, yang baru saja menerima vaksin India di Dhaka, Bangladesh, mengatakan: “Orang-orang waspada terhadap vaksin ini karena mereka berasal dari India, tetapi sekarang ketidakpercayaan semacam ini pada dasarnya telah hilang, dan publik sekarang lebih positif tentang India daripada sebelumnya.”

 Tiongkok masih mengekspor vaksin ke Pakistan, Indonesia, Turki, dan beberapa negara Afrika dan Amerika Selatan, tetapi tren pembalikan besar ini telah dimulai. 

Sementara India secara aktif melawan, penelitian dan pengembangan negara-negara Eropa dan Amerika juga akan bekerja sama untuk menghancurkan barang inferior yang diproduksi oleh Komunis Tiongkok agar tidak membahayakan dunia.  (hui)

Share

Video Popular