Eva Fu

Partai Komunis Tiongkok melanjutkan serangan skala luas terhadap keyakinan melalui pandemi, dengan membakar dan merusak kitab-kitab Agama sambil memenjarakan orang-orang beriman.

Ketika rezim komunis Tiongkok yang ateis itu secara resmi mengklaim mengakui lima agama: Budha, Taoisme, Islam, Katolik, dan Kristen, rezim komunis Tiongkok memberlakukan aturan-aturan yang tegas mengenai bagaimana organisasi-organisasi keagamaan ini harus beroperasi. Bahkan, seringkali menempatkan kader-kader Partai Komunis Tiongkok untuk mengendalikan entitas. Lebih parah lagi, memaksa jutaan orang beriman untuk mempertahankan keyakinannya secara diam-diam.

Untuk orang-orang yang beriman ini — Buddha Tibet, Kristen, Muslim Uighur, atau praktisi Falun Gong — membaca, mencetak, atau mendistribusikan materi-materi agama dapat menyebabkan hukuman penjara, kerja paksa, dan bentuk pelecehan lainnya. 

Banyak orang-orang yang beriman ini, menjadi sasaran pemantauan secara intens dan tekanan oleh agen-agen negara.  Yang mana, sering membobol rumah mereka tanpa peringatan untuk merebut dan menghancurkan buku-buku mereka.

Dua pekerja terlihat membakar buku di depan perpustakaan daerah Zhenyuan di Kota Qingyang, Provinsi Gansu, pada 22 Oktober 2019. (Zhenyuan County official website)

Pelanggaran-pelanggaran kebebasan beragama ini, menyebabkan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menunjuk rezim Tiongkok sebagai sebuah “negara dengan perhatian khusus” setiap tahun selama lebih dari dua dekade.

Kebijakan-kebijakan represif semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2016, rezim Tiongkok mengeluarkan peraturan yang secara eksplisit melarang sekitar 90 juta anggota Partai Komunis Tiongkok untuk memeluk agama. Mereka juga dilarang terlibat dalam kegiatan-kegiatan “takhayul feodal,” atau mendukung para ekstremis agama atau separatis rasial. 

Untuk diketahui, para ekstremis agama atau separatis rasial, adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan agama minoritas seperti umat Muslim di Uighur di Xinjiang atau para pemeluk Buddha Tibet. Ini adalah pengecualian dalam Konstitusi Tiongkok, yang menjamin hak “kebebasan keyakinan agama” untuk warganya dan untuk terlibat dalam “kegiatan-kegiatan keagamaan yang normal.”

Beberapa hari yang lalu, Beijing dalam sebuah arahan kebijakan teratas yang terdaftar mempromosikan sosialisme dan membersihkan “takhayul”, sebagai salah satu prioritas utamanya untuk memodernisasi pedesaan.

Buku-buku Falun Gong hancur di bawah roller jalan selama penghancuran nasional terhadap publikasi dan materi latihan spiritual tahun 1999. (Minghui.org/CC0 1.0)

Satu publikasi yang dikendalikan negara menyatakan pada tahun 2016, bahwa anggota Partai Komunis Tiongkok adalah orang-orang yang telah memilih untuk mengikuti jalur materialistik yang ditetapkan oleh Partai Komunis Tiongkok. Dengan demikian, “tidak sesuai dengan ideologi-ideologi takhayul bagai api dan air.”

Membakar Buku Agama

Pada  Oktober 2019, sebuah perpustakaan negara di wilayah Zhengyuan di Provinsi Gansu, barat laut Tiongkok, menuai protes karena melakukan pembakaran puluhan buku publikasi atau media ilegal atau muatan yang “melawan” untuk masyarakat umum. 

Netizen membandingkan pemandangan tersebut dengan hari-hari Revolusi Kebudayaan, di mana buku-buku dibakar dan artefak-artefak keagamaan dihancurkan. Dikarenakan, Partai Komunis Tiongkok berupaya membasmi kebudayaan tradisional Tiongkok untuk memperketat kendali ideologisnya atas penduduk Tiongkok.

Tetapi tindakan perpustakaan tersebut bukanlah insiden satu-satunya.

Dua pekerja tampak sedang membakar buku-buku di depan perpustakaan wilayah Zhengyuan, di kota Qingyang, Provinsi Gansu, pada pagi hari  22 Oktober 2019.

Kira-kira dua dekade setelah Revolusi Kebudayaan, pada tahun 1999, Partai Komunis Tiongkok memerintahkan sebuah kampanye secara besar-besaran untuk memberantas Falun Gong, sebuah disiplin meditasi spiritual berdasarkan prinsip moral Sejati, Baik, dan Sabar. 

Dalam sekejap, diperkirakan 70-100 juta praktisi Falun Gong di Tiongkok dicap sebagai musuh negara. Mereka mengalami penahanan, penyiksaan, pelecehan, dan panen organ secara paksa jika mereka menolak untuk melepaskan keyakinannya.

Segera setelah peluncuran penganiayaan tersebut, sebuah kampanye mulai memaksa praktisi Falun Gong untuk menyerahkan buku dan kaset video mereka yang berhubungan dengan Falun Gong. 

Buku dan kaset video  tersebut kemudian dihancurkan oleh mesin pengupas, mesin penggiling jalan, atau dibakar, sering kali ditunjukkan di depan umum yang kemudian digunakan untuk tujuan propaganda.

Jutaan publikasi dihancurkan dengan cara seperti itu, menurut Minghui, sebuah situs web berbasis di Amerika Serikat yang melacak penganiayaan terhadap Falun Gong, yang mencapai perkiraan ini berdasarkan laporan oleh wartawan asing,  media negara, dan saksi mata.

Buku-buku Falun Gong dihancurkan oleh sebuah mesin penggiling jalan pada tahun 1999, di seluruh Tiongkok untuk merusak publikasi dan materi Falun Gong.

Sebuah pemberitahuan bulan Juli 2019, yang diposting di situs web pemerintah Liga Xilingol di wilayah Mongolia Dalam, menawarkan imbalan uang yang bervariasi dari 50 yuan hingga 500 yuan untuk siapa saja yang melaporkan brosur, buku, suvenir, posting media sosial, atau spanduk yang berkaitan dengan Falun Gong dan kelompok lain yang dianggap ilegal oleh Partai Komunis Tiongkok. 

Pemberitahuan tersebut juga menawarkan hingga 300.000 yuan, untuk memberikan petunjuk  “membongkar” Falun Gong dan kelompok lain yang dianggap ilegal itu.

Meskipun Budha dan Kristen, secara resmi menjadi agama yang disetujui,  pemeluk agama Budha dan Kristen belum terlindung dari tekanan negara. 

Di kabupaten Jingdezhen di Provinsi Jiangxi di tenggara Tiongkok, seorang kepala biara Buddha menceritakan bagaimana pemerintah setempat meletakkan semua CD kuil-kuil setempat di jalan, dan menggunakan sebuah eskavator untuk menghancurkannya, menurut laporan bulan Desember oleh Bitter Winter, sebuah majalah mengenai kebebasan beragama dan hak asasi manusia di Tiongkok. 

Akhir Oktober lalu, para pejabat di Provinsi Shanxi di utara Tiongkok menutup Kuil Fengci setempat. Kemudian menyita sekitar 400 kilogram buku agama dan puluhan ribuan CD, menurut artikel yang sama.

Di Provinsi Anhui, timur Tiongkok, setidaknya 250 gereja yang disetujui negara, memiliki salib ditiadakan antara Januari hingga April 2020. Kadang dengan dalih salib tersebut “terlalu tinggi, terlalu besar, terlalu lebar, atau terlalu menarik perhatian,” demikian dilaporkan Bitterwinter. Para pejabat mengklaim, tindakan itu merupakan bagian kampanye yang luas untuk menghilangkan simbol-simbol agama.

Pilar gereja Katolik yang dihancurkan terlihat di Puyang, Provinsi Henan, pada 13 Agustus 2018. Gereja itu dihancurkan untuk pembangunan komersial. (Greg Baker / AFP / Getty Images)

Pilar sebuah gereja Katolik yang dihancurkan terlihat di Puyang, di Provinsi Henan, tengah Tiongkok, pada 13 Agustus 2018. Gereja tersebut dirobohkan untuk membangun sebuah pengembangan komersial.

Wen Weiquan, seorang pria pemeluk agama Kristen di rumahan dari Kabupaten Otonomi Wufeng Tujia, Provinsi Hubei, di tengah Tiongkok, bunuh diri pada Februari 2019. Itu setelah polisi memaksanya untuk menyerahkan Alkitab miliknya dan melemparkan salib di rumahnya ke dalam api unggun.

Bob Fu, seorang pendeta Tionghoa-Amerika dan pendiri  China Aid, organisasi nirlaba Kristen yang berbasis di Amerika Serikat, memberitahukan kepada The Epoch Times melalui sebuah email, pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping dan rezimnya, merekayasa penganiayaan agama terburuk sejak berakhirnya Revolusi Kebudayaan oleh Pemimpin Mao Zedong pada   tahun 1960-an.” 

‘Perang Melawan Keyakinan yang Ganas’

Selama pandemi, kebijakan pembersihan agama secara besar-besaran oleh rezim Tiongkok terus dijalankan. Dikarenakan, umat beriman di Tiongkok terus menderita atas pembalasan pemerintah atas tindakan memegang, memproduksi, atau mengedarkan materi keyakinan mereka.

“Rezim Xi Jinping terus-menerus menggunakan pandemi sebagai alasan untuk tindakan keras lebih lanjut menentang keyakinan atau agama independen apa pun di Tiongkok,” kata Bob Fu. 

Bob Fu menunjuk penutupan layanan ibadah virtual di sebuah gereja rumahan di barat daya Sichuan, dan kasus Pendeta Li Juncai di Provinsi Henan di Provinsi Henan, tengah Tiongkok. Pendeta itu dijatuhi hukuman 5 setengah tahun pada bulan Januari. Dikarenakan, ia berusaha  mencegah sebuah bendera Partai Komunis Tiongkok dan spanduk-spanduk propaganda dipasang di gerejanya.

Seorang wanita membaca Alkitab di gereja Christian Glory di Wuhan, sebuah kota di Provinsi Hebei, pada 23 September 2018. (Nicolas Asfouri / AFP / Getty Images)

Chen Yu, seorang pria pemilik sebuah toko buku Kristen online dari kota Taizhou di  di Provinsi Zhejiang, timur Tiongkok, dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pada Oktober 2020 dan dikenai denda 200.000 yuan. 

Para pelanggannya dari tiga provinsi, melaporkan penggerebekan rumah oleh polisi yang menyita buku-buku agama mereka. Tuduhan kejahatan Chen Yu, adalah menjual buku-buku impor agama yang tidak disetujui negara-negara lain.

Pada September lalu, pengadilan Shanghai menghukum 16 orang, karena mengoperasikan sebuah bisnis “ilegal” yang mencetak lebih dari 200.000 buku bertema agama tanpa izin, termasuk kitab Buddha “Sutra Intan.”

Pada Desember tahun lalu, wanita praktisi Falun Gong bernama Guo Suling, yang berusia 77 tahun saat itu, dijatuhi hukuman percobaan tiga tahun atas tuduhan menggantung tiga spanduk Falun Gong di tempat-tempat umum, penjara ketiga yang ia terima sejak tahun 2007. 

Lentera bertuliskan “Falun Dafa Hao ” digantung di pohon di lokasi yang dirahasiakan di daratan Tiongkok, pada Mei 2015. (Sumber dari Minghui.org)

Sun Qian, seorang praktisi Falun Gong yang memegang   paspor Kanada, dijatuhi hukuman delapan tahun penjara di Tiongkok pada bulan Juni lalu. Polisi menangkap Sun Qian setelah membobol rumahnya di Beijing dan menemukan buku-buku Falun Gong.

Lentera bertuliskan “Falun Dafa adalah Baik Hao” digantung di pohon di suatu tempat yang dirahasiakan di Tiongkok Daratan, pada Mei 2015.

Praktisi Falun Gong yang lain, Sun Zhongqin, dari Provinsi Liaoning, timur laut Tiongkok, dijatuhi hukuman tiga setengah tahun penjara pada bulan November. Itu karena mendistribusikan kalender dan booklet yang berhubungan dengan Falun Gong, menurut Minghui.

Tidak ingin Al-Quran miliknya jatuh ke tangan pihak berwenang, sebagian Muslim Kazakh di wilayah Xinjiang, barat jauh Tiongkok, menyegel Quran miliknya dengan kantong-kantong plastik dan menempatkannya  ke Sungai Ile, dengan harapan Al-Quran tersebut  diangkut ke negara tetangga Kazakhstan dan dilestarikan, seperti dilaporkan Radio Free Asia pada bulan Oktober 2020.

Untuk menghindari sensor internet, dua kelompok Kristen yang disetujui pemerintah Tiongkok mengganti istilah agama dengan singkatan di toko buku online mereka, seperti dengan  mengubah “Kristus” —diucapkan sebagai “Ji Du” dalam bahasa Mandarin — menjadi “JD”, dan “Alkitab” —diucapkan sebagai “Sheng Jing” dalam bahasa Mandarin – menjadi “SJ,”  menurut China Aid.

Bob Fu mengatakan, ini adalah sebuah perang melawan keyakinan dengan ganas, sejarah telah memberitahukan kepada kita bahwa perang ini ditakdirkan gagal.” (vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular