China Insider – The Epoch Times

Secara tidak terduga, Tiongkok mengumumkan pihaknya menangguhkan impor nanas dari Taiwan, mengingatkan akan tarif-tarif yang diterapkan Tiongkok terhadap arak-arak Australia. Banyak netizen yang menyerukan sebuah kampanye kebebasan untuk memasangkan nanas-nanas Taiwan dengan arak-arak Australia dalam mendukung dua negara demokrasi di kawasan Asia Pasifik.

Taiwan menghasilkan 420.000 ton nanas setiap tahun, di mana sekitar 90 persen nanas tersebut dikonsumsi di Taiwan dan 10 persen nanas  diekspor. Biasanya 90 persen nanas yang diekspor tersebut dikirim ke Tiongkok.

Pada  24 Februari, Administrasi Umum Bea Cukai Tiongkok mengumumkan pelarangan nanas yang dimulai sejak  1 Maret, dengan mengutip kekhawatiran atas keamanan hayati. Namun, Dewan Agrikultur Taiwan mengklarifikasi bahwa sejak  1 Januari 2020 yang lalu hingga kini, nanas Taiwan yang dijual ke Tiongkok telah melalui sebuah angka kelulusan inspeksi yaitu 99,97 persen, yang jauh lebih tinggi daripada norma-norma internasional. 

Yeau-Tarn Lee, seorang profesor di Penelitian Perkembangan Nasional Institut Nasional Universitas Chengchi di Taiwan yakin bahwa larangan yang dikeluarkan secara tiba-tiba oleh Tiongkok terhadap nanas Taiwan adalah sebuah gerakan politik.

“Taiwan pernah mengekspor nanas ke Jepang, dan Taiwan mampu lulus inspeksi-inspeksi yang paling ketat di Jepang. Saat nanas tersebut dijual ke Tiongkok, angka kelulusan adalah 99,97 persen, hampir 100 persen. Oleh karena itu, sekali lagi Partai Komunis Tiongkok menunjukkan sifat totaliternya yang kejam dan penuh kebohongan. Karena pernyataan resmi Partai Komunis Tiongkok adalah satu-satunya saluran informasi bagi rakyat Tiongkok, rakyat Tiongkok akan percaya nanas Taiwan bermasalah. Itu adalah semacam tindakan bandit,” kata Yeau-Tarn Lee. 

Pada saat yang sama, Kantor Berita Xinhua, media corong partai Komunis Tiongkok, mempromosikan nanas Xuwen yang dihasilkan di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Orang-orang dalam mengungkapkan bahwa nanas Xuwen adalah sama dengan spesies berlian emas nanas Taiwan, sebuah varietas yang populer yang ditanam oleh para ahli agrikultur mereka. Para analis yakin bahwa kini Tiongkok mempromosikan produk-produk dalam negerinya setelah mencuri teknik penanaman Taiwan.

Dalam beberapa dekade yang lalu, sejumlah besar teknologi agrikultur Taiwan telah dicuri oleh Partai Komunis Tiongkok. Setelah mencuri teknologi milik anda, Partai Komunis Tiongkok mulai melecehkan negara mana pun kapan pun, dan Taiwan biasanya adalah yang pertama kali mengalami pukulan terberat.

Wirausahawan Taiwan, Kao Wei-Pang menunjuk bahwa ekonomi Tiongkok selalu digunakan untuk melayani agenda politik Partai Komunis Tiongkok. Kauwe Pong menemukan korban-korban investasi di asosiasi Tiongkok setelah dikorbankan sementara berbisnis di Tiongkok.

“Kita telah dinasihati orang-orang untuk menjauh dari Partai Komunis Tiongkok selama bertahun-tahun. Di bawah peraturan Partai Komunis Tiongkok, Tiongkok adalah sebuah pasar yang tidak dapat dipercaya di mana Tiongkok berseteru dengan Taiwan. Bila setiap pebisnis Taiwan dapat sadar secepat mungkin dan meninggalkan Tiongkok sedini mungkin, maka hal tersebut  menguntungkan bagi Taiwan,” ujar Kao Wei-Pang. 

Menurutnya, Partai Komunis Tiongkok benar-benar ingin menjajah Taiwan. Apa yang disebut “satu negara dua sistem” hanyalah sebuah slogan untuk menipu orang-orang. Partai Komunis Tiongkok tidak akan mengizinkan dua sistem. Bahkan Partai Komunis Tiongkok ingkar janji kepada Hong Kong untuk mempertahankan dua sistem. Bagaimana mungkin Partai Komunis Tiongkok mentoleransi sebuah sistem politik yang berbeda di Taiwan bahkan bila Taiwan pernah menjadi bagian Tiongkok?”

Surat kabar  Partai Komunis Tiongkok, Global Times, menerbitkan sebuah tajuk rencana pada  28 Februari, yang mengatakan bahwa Taiwan yang memiliki ekonomi yang kecil dapat memiliki surplus lebih dari 100 milyar dolar dibandingkan dengan Tiongkok Daratan. Tiongkok menginginkan reunifikasi yang damai. Tajuk rencana tersebut juga menyatakan bahwa bila Taiwan berani  mengganggu Beijing, melarang nanas dari Taiwan bukanlah sebuah kartu yang bermutu untuk dimainkan. Pernyataan ini mengartikan bahwa larangan nanas adalah sebuah gerakan politik.

“Partai Komunis Tiongkok secara terus-menerus berupaya memaksa Partai  Progresif Demokratik yang sedang berkuasa di Taiwan untuk menerima Konsensus tahun 1992 uakni Konsensus Satu Tiongkok. Bila tidak, Progresif Demokratik akan mengancam untuk menindas Taiwan. 

Tetapi Pemimpin Tiongkok,  Xi Jinping telah memberi aba-aba untuk Konsensus tahun 1992, yaitu “satu negara dua sistem.” Taiwan tidak akan menerima hal tersebut. Nasib Hong Kong di bawah “satu negara dua sistem” diketahui oleh seluruh dunia. Warga Hong Kong memiliki sedikit kebebasan dan hak asasi manusia. Hak-hak asasi warga Hong Kong telah diinjak-injak. Bagaimana anda dapat menjamin hak asasi manusia tanpa otonomi dari Partai Komunis Tiongkok?”

Walaupun sesungguhnya Partai Komunis Tiongkok memiliki kemampuan untuk memengaruhi Taiwan secara ekonomi, hasil akhirnya adalah para petani nanas Taiwan akan semakin menentang Partai Komunis Tiongkok. Para petani nanas Taiwan adalah salah satu penderita kerugian, dan para petani nanas Taiwan tidak akan menyalahkan pemerintah Taiwan atas kerugiannya, para petani nanas Taiwan akan menyalahkan Partai Komunis Tiongkok. Efek ini akan membuat Taiwan semakin bersatu untuk menentang Partai Komunis Tiongkok. Jadi larangan nanas adalah sebuah keputusan yang bodoh.

Ini bukanlah pertama kalinya Komunis Tiongkok menggunakan sanksi-sanksi dagang untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakannya. Tahun lalu, pemerintah Australia menyerukan untuk diadakannya sebuah penyelidikan independen mengenai asal-usul virus  Komunis Tiongkok atau COVID-19. Dengan segera Partai Komunis Tiongkok mengenakan tarif-tarif yang tinggi terhadap arak-arak Australia dan berikutnya memblokir impor batubara, sapi dan lobster dari Australia. 

Sebagai tanggapan terhadap larangan nanas, Presiden Republik Tiongkok, Tsai Ing-wen, menulis di Twitter, “Setelah arak-arak Australia,  praktik-praktik perdagangan Tiongkok yang tidak adil kini menargetkan nanas Taiwan. Tetapi hal tersebut tidak akan menghentikan Taiwan. Apakah itu berupa smoothie, sebuah kue, atau potongan nanas yang segar, nanas Taiwan selalu memuaskan. Dukung petani Taiwan dan nikmati kelezatan buah-buah Taiwan!”

Riley Walters, seorang ahli ekonomi di Pusat Penelitian Asia di Heritage Foundation, memberikan dukungannya kepada Taiwan di Twitter, “Tidak ada yang lebih menyenangkan dengan menyandingkan segelas arak Australia dengan sebuah kue nanas Taiwan. Sungguh lezat.”

Kimi Onoda, seorang senator Jepang, juga membagikan pandangannya di Twitter, “Bila anda berani untuk tidak mengambil sebuah pendirian yang keras karena ketakutan kerugian ekonomi atau sikap mereka yang agresif, anda akan jatuh ke dalam perangkap mereka. Saya menghargai hak asasi Taiwan dan sikap kepahlawanan Taiwan, dan daya akan makan nanas Taiwan sebagai cara untuk mendukung Taiwan.” (vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular