Luo Tingting

Baru-baru ini, Judicial Watch dan the Daily Caller News Foundation (DCNF)  memperoleh email setebal 301 halaman, termasuk catatan komunikasi pakar epidemi AS, Anthony Fauci dan koleganya, Clifford Lane.

Pada April tahun lalu, DCNF meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS )atau untuk memberikan email yang relevan dari Fauci, Clifford Lane, dan pejabat WHO terkait epidemi virus Komunis Tiongkok. Permintaan itu, termasuk email serta korespondensi antara mereka dan Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, tetapi Departemen Kesehatan AS tidak menanggapinya.

Untuk itu, DCNF mengajukan gugatan ke pengadilan District of Columbia di Amerika Serikat sesuai dengan Freedom of Information Act -FOIA- dan memperoleh email 301 halaman dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat. Sementara itu, DCNF – the Daily Caller News Foundation telah memublikasikan email ini di Internet.

Beberapa dari email terkait mengungkapkan bahwa Komunis Tiongkok dan WHO bersama-sama menyembunyikan wabah virus komunis Tiongkok. 

Pada saat itu, Anthony Fauci serta pejabat Departemen Kesehatan AS juga mengetahui hal itu. Dalam email pada 20 Januari 2020, seorang pejabat WHO membahas tentang analisis epidemiologi mereka terhadap virus COVID-19 awal bulan itu. Pejabat WHO menyatakan bahwa itu “sangat rahasia”, “tidak boleh disebarluaskan lebih lanjut.”

Sebuah email dari 14 hingga 15 Februari 2020 mengungkapkan, bahwa pejabat dari National Institutes of Health (NIH) telah membuat formulir rahasia sesuai dengan permintaan Komunis Tiongkok. 

Isi email tersebut adalah percakapan antara Clifford Lane dan petugas teknis WHO Mansuk Daniel Han tentang formulir rahasia tersebut. Han menulis, “Formulir tersebut dibuat khusus sesuai dengan persyaratan (komunis) Tiongkok, jadi kita tidak bisa menggunakan formulir sebelumnya.”

Selain itu, pada 13 Februari 2020, email WHO yang dikirim kepada pejabat NIH menyebutkan informasi tentang epidemi virus komunis Tiongkok. WHO mewajibkan pejabat NIH untuk menunggu informasi sebelum mencapai kesepakatan dengan  Komunis Tiongkok. 

WHO menambahkan keterangan “Instruksi Penting: Harap menjadikan itu sebagai informasi sensitif, dan tidak akan digunakan untuk komunikasi publik sampai kita mencapai kesepakatan dengan komunis Tiongkok.” 

Sebuah email pada 4 Maret 2020 berasal dari seorang jurnalis Tiongkok, ia menuturkan kepada Clifford Lane, bahwa jumlah kasus yang dilaporkan oleh tim WHO bersama Tiongkok, tidak sesuai dengan jumlah kasus yang dilaporkan oleh Komisi Kesehatan Publik Kota Wuhan.

Jurnalis Tiongkok itu mengatakan, bahwa pada halaman 6 laporan WHO, setidaknya ada satu kasus virus corona yang didiagnosis secara klinis pada 2 Desember 2019 di Wuhan. Kemudian, dari  11 hingga 17 Januari, ada kasus yang dikonfrmasi dan diagnosis klinis baru setiap hari di Wuhan.

Redaktur pelaksana “the Daily Caller News Foundation”, Ethan Barton menuturkan, bahwa email-email tersebut telah ditetapkan pada tahap awal wabah virus korona. Jelas, bahwa WHO mengizinkan Tiongkok untuk mengendalikan arus informasi terkait sejak awal.

Presiden Judicial Watch, Tom Fitton menuturkan, “Email-email baru itu menunjukkan bahwa WHO dan NIH Anthony Fauci telah memberikan kemudahan istimewa pada upaya Komunis Tiongkok untuk mengendalikan informasi COVID-19.”

Pada awal tahun 2020, epidemi virus corona meletus di Wuhan. Komunis Tiongkok menyembunyikan informasi tentang epidemi, menekan Whistleblower Dr. Li Wenliang dan 8 pelapor lainnya. Parahnya, Komunis Tiongkok tidak melakukan apa pun untuk mencegah dan mengendalikan epidemi. Sehingga menyebabkan epidemi lepas kendali. Akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Setelah wabah epidemi meletus, Organisasi Kesehatan Dunia terus membela Komunis Tiongkok. Bahkan, memengaruhi komunitas internasional untuk mencegah dan mengendalikan epidemi pada waktu yang tepat. 

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus,bahkan disindir netizen sebagai “Sekretaris Tan,” sebuah sindiran yang merujuk pada sekretaris Partai Komunis Tiongkok. Sehubungan dengan ini, jutaan orang membubuhkan tandatangan, menuntut Dirjen WHO, Tedros untuk mundur. 

Presiden AS ke-45 Donald Trump pernah mengecam WHO karena melindungi Komunis tiongkok, tidak memenuhi tanggung jawabnya untuk menjaga keamanan dan keselamatan publik internasional. Oleh karena itu, ia mengumumkan pengunduran dirinya dari WHO dan berjanji untuk meminta pertanggungjawaban Komunis Tiongkok atas wabah global.

Namun, setelah Presiden Biden berkuasa, tidak hanya mengumumkan akan menarik diri dari WHO, tetapi justeru membayar sebesar 200 juta dolar AS sebagai iuran keanggotaan WHO. (jon)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular