Dorothy Li

Para pemohon petisi dan pembangkang di Tiongkok telah ditangkap atau ditekan untuk menjauhkan mereka dari mata publik agar tidak mengganggu salah satu acara politik terbesar tahun ini, yang kini sedang berlangsung. Kegiatan itu dikenal sebagai Liang Hui atau “Dwi Konferensi” dari lembaga legislatif stempel Partai Komunis Tiongkok. 

Pertemuan-pertemuan anggota legislatif stempel karet Tiongkok, Kongres Rakyat Nasional, dan badan penasihat politik di atasnya, Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok, biasanya diawali dengan sebuah tindakan keras.

Partai Komunis Tiongkok meluncurkan proses permohonannya sendiri untuk partai yang berkuasa pada tahun 1951, disebut sebagai “sistem petisi.” 

Namun, sistem petisi seringkali gagal untuk melindungi orang-orang Tionghoa serta rakyat Tiongkok. Dikarenakan kantor-kantor dari daerah di luar pusat, tidak memiliki kewenangan untuk menyelesaikan banyak masalah yang diajukan oleh para pemohon. 

Bahkan lebih buruk lagi, banyak masalah yang dibawa oleh para pemohon petisi melibatkan korupsi oleh para pejabat Partai Komunis Tiongkok yang memiliki kekuasaan.

Setiap tahun pada saat ini, ketika ribuan delegasi datang ke Beijing, para pemohon petisi dari provinsi di seluruh Tiongkok berdatangan ke Beijing untuk mencari keadilan dengan berbagai keluhan. Mereka berharap mendapat kesempatan untuk menyampaikan keluhannya agar didengar dan dikoreksi oleh seseorang yang berwenang.

Namun, mereka dianggap sebagai sesuatu yang memalukan bagi kinerja politik koreografer tertinggi dari “Liang Hui,” dan dianggap sebagai sebuah ancaman bagi Partai Komunis Tiongkok.

Aparat keamanan Partai Komunis Tiongkok dikirim sebelum periode-periode yang sensitif ini, untuk mengamankan ibukota dan menempatkan para pemohon petisi dan pembangkang di bawah pengawasan.

Para Pemohon Petisi Dikirim ke Kota Asalnya Tempat Mereka Terdaftar

Tahun ini dengan adanya pandemi yang sedang berlangsung, langkah-langkah keamanan telah meningkat secara signifikan. Dikarenakan menandai peringatan 100 tahun dibentuknya Partai Komunis Tiongkok di Tiongkok dan awal  rencana lima tahun yang baru.

Penduduk di Beijing telah mencatat peningkatan langkah-langkah keamanan di seluruh penjuru Beijing, di mana lebih banyak polisi dan pos-pos pemeriksaan dalam sistem transportasi.

Li Yanxiang, seorang wanita dari kota Pingdu di Provinsi Shandong, melakukan perjalanan ke Beijing pada tahun 2015, karena pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok setempat menghancurkan sebuah pusat daur ulang yang dimilikinya dan dioperasikannya. Ia menjadi cacat saat dipenjara selama 2½ tahun.

Pada 25 Februari, Li Yanxiang dihentikan oleh polisi kereta api di Stasiun Metro Pinganli di Beijing, ketika ia membutuhkan bantuan karena kecacatannya.

Pemohon petisi mengatakan kepada The Epoch Times berbahasa Mandarin, bahwa kini Li Yanxiang berada di bawah pengawasan, di mana dua mobil di luar rumahnya, setelah ia dibawa kembali ke kota Pingdu oleh polisi dari Beijing dan Provinsi Shandong pada  1 Maret.

Orang-orang di Beijing yang memiliki sebuah catatan petisi, terkait  suatu masalah yang melibatkan kesalahan oleh para pejabat Partai Komunis Tiongkok, dikawal kembali ke kampung halamannya tempat mereka terdaftar, kata seorang warga Beijing dengan nama marga Liu kepada Radio Free Asia.

“Para pejabat dari kantor perwakilan pemerintah provinsi di Beijing telah bekerja sama dengan polisi di Beijing untuk pergi ke berbagai desa dan komunitas perumahan untuk memeriksa KTP dan foto [orang-orang yang sudah berada di sini],” kata Liu.

Pihak berwenang secara rutin mengumpulkan para pemohon petisi. Kemudian mengirim mereka kembali kepada kampung halamannya, di mana mereka dipukuli, ditahan, dan menderita perlakuan ketidakadilan lainnya oleh pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok setempat.

Sebelumnya, seorang wanita pemohon petisi lain dari Provinsi Heilongjiang, utara Tiongkok, Ma Bo, dikembalikan ke kampung halamannya oleh otoritas pihak berwenang setempat pada  27 Februari 2021. 

Ma Bo mengajukan petisi untuk putranya, yang tewas dalam sebuah peristiwa kekerasan di sebuah kampus perguruan tinggi pada 14 tahun yang lalu. Ma Bo mengatakan kepada The Epoch Times berbahasa Mandarin, bahwa menjelang periode-periode yang sensitif seperti “Dwi Konferensi” tahunan, “kebebasan pribadinya” akan dibatasi.”

Mengekang Para Pembangkang

Zhang Yihe, putri Zhang Bojun yang dicap sebagai musuh publik dan disingkirkan pada tahun 1957, ditempatkan di bawah pengawasan polisi untuk pertama kalinya tahun ini.

Penulis berusia 79 tahun itu mengungkapkannya, dalam sebuah postingan di situs media sosial Tiongkok WeChat, yang di-tweet oleh Guo Yuhua, seorang profesor Universitas Tsinghua pada Tweet  3 Maret.

“Kemarin [tanggal 2 Maret], polisi datang untuk ‘mengunjungi’ saya, yang merupakan sebuah tindakan pencegahan umum sebelum ‘Liang Hui.’ Polisi tidak pernah datang kepada saya sebelumnya, tetapi kini menempatkan saya, seorang wanita yang lebih tua, dalam daftar tersebut. Saya memberitahu mereka — saya adalah seorang pembangkang — jadi apa yang anda takutkan?”

Bao Tong, mantan penasihat Perdana Menteri Tiongkok Zhao Ziyang, yang dulu digulingkan segera sebelum penumpasan kekerasan terhadap pengunjuk rasa mahasiswa di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989, diperingatkan untuk tidak menerima wawancara atau komentar online, menurut Radio Free Asia.

“Departemen terkait menghubungi Bao Tong beberapa hari yang lalu dan mengatakan kepada Bao Tong untuk tidak menulis apa pun dan tidak berbicara dengan media,” kata seorang yang tidak dikenal kepada Radio Free Asia. Ia menambahkan “tidak ada artikel atau tweet”. (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular