Zhang Qiling  –  NTD Asia Pasifik

Baru-baru ini militer Myanmar melakukan penindasan secara besar-besaran dan berdarah terhadap pengunjuk rasa. Sedikitnya 50 orang tewas. Pada 5 Maret, orang-orang masih turun ke jalan dan terus berjuang.

Pada akhir bulan lalu, di platform audio-visual Tiongkok, TikTok, ada video tentara Myanmar yang sedang memegang senapan membidik ke kamera. 

Dalam film tersebut, tentara ini mengancam para pengunjuk rasa dengan mengatakan, “Saya akan menembak wajah Anda. Saya menggunakan peluru tajam. “

Pria itu juga mengancam dengan mengatakan : ” Saya akan berpatroli di seluruh kota malam ini. Saya akan menembak dan membunuh siapapun yang terlihat oleh saya. “

Organisasi hak digital, Organisasi Pengembangan Teknologi Informasi Myanmar (MIDO) mengatakan bahwa mereka menemukan lebih dari 800 video pro-militer. Video tersebut mengancam pengunjuk rasa ketika pertumpahan darah meningkat.

Namun, ada juga beberapa polisi militer yang tidak bisa menerima perintah untuk menindas masyarakat. Mereka malah mendukung pengunjuk rasa. 

Media Myanmar “The Irrawaddy” melaporkan, ada lebih dari 100 petugas polisi Myanmar telah bergabung dengan “Gerakan Pembangkangan Sipil” yang dikenal dengan Civil Disobedience Movement, CDM.

Pada 5 Maret, Dewan Keamanan PBB  mengadakan pertemuan tertutup untuk membahas situasi di Myanmar. 

Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di Myanmar, Thomas Andrews, menyatakan bahwa Dewan Keamanan PBB harus segera “memberlakukan embargo senjata global.” Selain itu, “menjatuhkan sanksi ekonomi dan sumber pendapatannya yang ditargetkan pada militer Myanmar.”  (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular