Para ahli mengatakan bahwa kenaikan harga minyak saat ini terutama disebabkan oleh pemulihan permintaan yang lebih cepat daripada kekurangan pasokan yang disebabkan oleh badai musim dingin, akan tapi para ahli lain memperingatkan bahwa kebijakan energi Biden yang “bertolak belakang” kemungkinan akan membuat harga minyak naik lebih tinggi dalam jangka panjang

oleh Tom Ozimek

Menurut data Gas Buddy, tercatat hingga Selasa 9 Maret pagi waktu Amerika Serikat, rata-rata harga minyak Amerika Serikat adalah USD. 2,82 per galon, naik 34 sen dari bulan lalu.  1 galon setara 3,78 liter. Para ahli umumnya percaya bahwa konsumen harus bersiap untuk menghadapi harga minyak yang lebih tinggi.

Ahli : Pemulihan permintaan dan pasokan yang ketat mendorong harga minyak naik

Jay R. Young, CEO dari operator minyak dan gas yang berbasis di Kota Dallas ‘King Operating Corporation’ menyatakan dalam email yang ditujukan kepada grup media ‘Epoch Times’ bahwa  harga rata-rata minyak nasional mungkin akan lebih tinggi dan mencapai USD. 3,- dan akan tetap bertahan di sana untuk sebagian besar musim panas tahun ini.

Jay R. Young menjelaskan bahwa alasan kenaikan harga minyak adalah pulihnya permintaan, tetapi pasokannya bermasalah.

“Permintaan bensin pekan lalu mencapai level tertinggi sejak awal epidemi. Karena penurunan jumlah kasus, semakin banyak dan sering orang Amerika keluar rumah untuk mengisi bahan bakar kendaraannya”, kata Young.

Data federal dari Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan bahwa sejak permintaan minyak mencapai titik terendah pada awal bulan Mei 2020, harga minyak naik tetapi cukup stabil. 

Kemudian terjadi kenaikan menyusul melonggarnya social distancing di musim panas. Dan ketika gelombang kedua epidemi meningkatkan jumlah kasus, harga minyak di musim gugur kembali turun meski hanya sedikit. Namun, dengan adanya vaksin dan pembukaan kembali batasan-batasan sosial di banyak tempat baru-baru ini, permintaan bensin meningkat kembali.

Permintaan bensin Amerika Serikat pada Minggu 7 Maret naik 4,3% dibandingkan dengan hari Minggu sebelumnya, yang 18,4% lebih tinggi dari rata-rata yang terjadi dalam 4 minggu pada Minggu  7 Maret, tulis Patrick De Haan, Analis Gas Buddy di Twitter pada 8 Maret.

Pada saat yang sama, tidak dapat diikuti oleh produksinya.

“Di sisi pasokan, jumlah peralatan pengeboran minyak yang aktif di Amerika Serikat berkurang hampir 50% dari periode yang sama tahun lalu”, kata Young. 

Dia juga mengatakan bahwa dampak paling langsung terhadap kenaikan harga saat ini datang dari badai musim dingin bulan Februari, ketika 26 kilang di Amerika Serikat offline.

Masalah yang lebih menyulitkan dalam mengatasi pasokan adalah bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), kecuali Rusia dan Kazakhstan sepakat pada hari Kamis 4 Maret untuk tidak meningkatkan produksi minyak mentah sebelum bulan April. 

Pada April tahun lalu, OPEC setuju untuk memangkas produksi minyak mentah sebesar 10 juta barel per hari untuk mencegah jatuhnya harga minyak ketika epidemi menurunkan jumlah permintaan.

“Sedangkan pemulihan permintaan jauh lebih cepat daripada tingkat produksi minyak, itulah sebabnya harga minyak terus naik dengan cepat”, kata Jay R. Young.

Harga minyak mentah menyentuh lebih dari USD. 65 per barel pada  Selasa 9 Maret, tertinggi dalam setahun.

“Dari perspektif jangka panjang, pada kuartal ketiga tahun ini, kita mungkin akan melihat harga minyak mentah berada di antara USD. 70 ~ 80 per barel”, prediksi Young.

Beberapa ahli, seperti John Hofmeister, mantan presiden Shell Oil Company menyampaikan kekhawatirannya mengenai kebijakan energi Presiden Amerika Serikat,  Biden yang dapat semakin mendorong kenaikan harga minyak. John Hofmeister dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network pada Kamis lalu membenarkan bahwa pasokan yang ketat memiliki dampak paling langsung dan jangka pendek pada harga minyak.

Namun, dia mengatakan bahwa masih terdapat hal lain yang sedang terjadi, dan lebih halus. Produsen industri perminyakan juga telah tertekan oleh pemerintah.

John Hofmeister mengatakan, larangan pemerintah Biden atas sewa guna usaha akan menciptakan psikologi dalam industri. Barang yang dapat dipakai akan menjadi semakin sedikit, psikologi ini juga akan mendorong kenaikan harga.

“Selama kita melihat adanya kebijakan pemerintah yang bertolak belakang seperti ini, kita akan menghadapi masalah perubahan harga”, kata Hofmeister.

Pada 7 Januari lalu, Biden menandatangani perintah eksekutif untuk menangguhkan penerbitan izin sewa minyak dan gas baru di wilayah federal. Perintah eksekutif Biden menetapkan bahwa sedapat mungkin menunda penandatanganan sewa migas baru di lahan publik atau perairan pesisir. Dan memprakarsai tinjauan ketat atas semua sewa dan izin yang ada terkait dengan pengembangan bahan bakar fosil di tanah dan perairan publik.

Patrick De Haan dalam pesannya di Twitter pada Kamis lalu menyebutkan bahwa kebijakan Biden termasuk membatalkan proyek pipa Keystone XL dan menangguhkan sewa tanah dan perairan federal, dalam jangka pendek tidak akan memengaruhi harga, tetapi dalam jangka panjang, itu akan membawa risiko yang lebih besar.

“Berbeda dengan perusahaan minyak milik negara, Biden tidak memiliki suara dalam mengurangi atau meningkatkan produksi. Ini (pengurangan atau peningkatan) murni berorientasi pada pasar”, tulisnya. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular