China Insider – The Epoch Times

Hong Kong pernah menduduki puncak daftar indeks Kebebasan Ekonomi Heritage Foundation selama 25 tahun hingga tahun 2019. Para ahli keuangan di Hong Kong percaya, bahwa perambahan rezim komunis Tiongkok  terhadap kebebasan Hong Kong, telah mempercepat kemerosotan lingkungan ekonomi Hong Kong.

Akhirnya terbukti, pada 4 Maret 2021, Heritage Foundation merilis indeks Tahun 2021. Singapura menduduki peringkat sebagai ekonomi terbebas di dunia untuk tahun kedua. Sedangkan Hong Kong maupun Makau adalah wilayah-wilayah administratif khusus Tiongkok yang tidak lagi termasuk dalam Indeks Kebebasan Ekonomi. 

Heritage Foundation mengatakan dalam rilis beritanya, bahwa alasan Hong Kong maupun Makau tidak ada menduduki  peringkat karena indeks tersebut, “kini hanya mencakup negara-negara yang melakukan kendali kedaulatan penuh atas kebijakan-kebijakan ekonominya.” Selain itu, “perkembangan-perkembangan” di Hong Kong dan Makau “dalam beberapa tahun terakhir, dengan jelas menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan ekonominya pada akhirnya dikendalikan dari Beijing.”

Setelah rilis Indeks Kebebasan Ekonomi,   pasar saham Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 762 poin dalam setengah hari menjadi 29.118 poin pada 4 Maret 2021.

Indeks Kebebasan Ekonomi adalah laporan tahunan yang dirilis oleh Heritage Foundation, sebuah wadah pemikir Amerika Serikat. Indeks Kebebasan Ekonomi mencakup skor-skor kebebasan ekonomi dan data makroekonomi, yang relevan dengan kebebasan ekonomi di 184 negara di seluruh dunia. Hong Kong menduduki puncak indeks tersebut selama 25 tahun hingga saat ini digantikan oleh Singapura pada tahun 2020.

Seorang juru bicara Menteri Keuangan pemerintah Hong Kong menanggapi dikeluarkannya Hong Kong oleh indeks tersebut, “Keputusan tersebut bukan tidak dijamin ataupun dibenarkan. Indeks tersebut tidak berlaku adil kepada [Hong Kong].”

Namun, para ahli keuangan di Hong Kong berbagi dengan The Epoch Times, bahwa perambahan yang dipercepat oleh rezim komunis Tiongkok di Hong Kong terhadap kebebasan politik dan kemandirian peradilan, terutama dalam setahun terakhir, secara fundamental telah merugikan lingkungan ekonomi Hong Kong.

Presiden Serikat Pekerja Industri Keuangan Hong Kong, Kwok Ka Wing memberitahu The Epoch Times, bahwa tindakan Heritage Foundation mencerminkan persepsi masyarakat internasional mengenai Hong Kong menjadi lebih buruk. Dan, pemerintah pusat dan pemerintah Hong Kong harus mempertimbangkan dengan hati-hati bagaimana memenuhi standar internasional, bukannya melanggar aturan internasional dan menarik kembali kata-kata mereka yang merusak “satu negara, dua sistem”, yang mana dijanjikan dan melukai fondasi ekonomi Hong Kong yang telah dibuat sejak lama.

Manajer hedge fund senior Hong Kong, Edward Chin mengatakan dalam sebuah wawancara dengan The Epoch Times, bahwa Heritage Foundation didirikan pada tahun 1973 dan memiliki sejarah lebih dari 40 tahun. Ini adalah salah satu lembaga pemikir kebijakan publik Amerika Serikat. 

Oleh karena itu, indeks tersebut dipublikasikan oleh Heritage Foundation, akan digunakan sebagai referensi untuk berbisnis di Hong Kong. Dan kali ini “indeks kebebasan ekonomi” meniadakan Hong Kong (dan Makau), dan pesan terpenting yang disampaikan adalah “Wilayah Administratif Khusus Hong Kong telah terintegrasi penuh ke daratan Tiongkok dan tidak ada kebebasan lagi.”

Edward Chin menjelaskan, masyarakat Hong Kong dan investor internasional telah meningkat waspada mengenai lingkungan saat ini di Hong Kong. Dana-dana dipindahkan kantor pusat Asia mereka dari Hong Kong atau sedang mempertimbangkan bergerak. Itu karena, “risiko politik” dan “penganiayaan politik” di Hong Kong, menjadi semakin serius. Pasalnya, pihak berwenang dapat menggunakannya secara sewenang-wenang “Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hong Kong” untuk menghukum bisnis dan profesional sekarang. 

Edward Chin mengungkapkan bahwa, beberapa Hedge fund  yang ia tahu telah pindah dari Hong Kong ke daerah lain seperti Singapura dan Tokyo.

Edward Chin menambahkan bahwa, ketika Hong Kong bukan lagi Hong Kong, lebih banyak keuangan dan lembaga komersial akan memilih untuk pergi secara diam-diam. (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular