oleh Ye Yunru  – NTD

Situs web ‘Sina’ pada (6/3/2021) menerbitkan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Yu Qingming, anggota perwakilan pada Kongres Rakyat Nasional Partai Komunis Tiongkok yang juga sebagai Chairman/ Executive Director Sinopharm mengatakan, para CEO Sinopharm Group pada bulan Maret 2020, yakni sekitar setahun yang lalu, telah mendapat suntikan vaksin untuk mencegah terinfeksi virus COVID-19 atau virus Komunis Tiongkok.

Selain itu ia juga mengklaim bahwa level antibodi tetap pada level tinggi setelah 1 tahun berlalu. Berita tersebut menimbulkan kegemparan di publik karena komunis Tiongkok mengklaim bahwa wabah baru menyebar pada  Januari 2020. 

Namun, jika menurut apa yang diucapkan Yu Qingming itu, berarti vaksin Sinopharm yang baru dikembangkan dalam waktu yang sangat singkat itu sudah dianggap mapan untuk diedarkan, bahkan disuntikkan kepada para manajemen senior grupnya. Hal mana menyebabkan keraguan dari dunia luar.

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Michael Pompeo pada 21 Februari lalu mengatakan : “Saya harap mereka dapat mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi? Di luar pengawasan Partai Komunis Tiongkok, sudah ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa (pneumonia komunis Tiongkok) kemungkinan besar berasal dari ruang laboratorium itu”.

Pada saat masih aktif sebagai Menlu, Pompeo pernah menerbitkan pernyataan mengenai verifikasi fakta tentang Institut Virologi Wuhan. Pernyataan menyebutkan bahwa pada awal musim gugur tahun 2019 silam, beberapa orang peneliti di Institut Virologi Wuhan sudah terinfeksi oleh virus komunis Tiongkok. 

Bahkan pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Joe  Biden pun mengkonfirmasi sebagian dari pernyataan itu sebagian kebenaran. Untuk itu, Pompeo dalam pesannya di Twitter pada 9 Maret menyebutkan : “Yang mengatakan saya adalah pembuat berita hoax adalah orang-orang propaganda asing. Anda pasti tahu siapa mereka itu.”

 Pompeo pada 13 Januari 2021 mengatakan : “Kita melihat (virus) selain  berasal dari daratan Tiongkok,  bersumber dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei”.

Pada 11 Januari, sehari setelah seorang ahli penelitian dari laboratorium di Shanghai menerbitkan urutan genom virus baru Wuhan pertama di dunia, laboratorium itu tiba-tiba ditutup oleh pihak berwenang.

Pada Maret 2020, vaksin mRNA Moderna baru menjalani uji klinis untuk manusia tahap pertama. Dan data awal uji klinis tahap ketiga baru diumumkan pada bulan November 2020. Bahkan di bawah instruksi mantan Presiden Amerika Serikat, Donald  Trump mempercepat produksi vaksin. Juga diperlukan waktu 9 bulan untuk merilis hasil uji klinis vaksin terhadap manusia dari tahap pertama hingga ketiga.

Padahal Yu Qingming pada bulan Maret tahun lalu sudah mengatakan bahwa para eksekutif senior di grupnya telah disuntik dengan vaksin “virus yang dilemahkan” buatan Sinopharm. Timbullah pertanyaan : “Kapan sebenarnya komunis Tiongkok memperoleh strain virus yang diisolasi dan vaksin penelitian? Itu tetap perlu untuk diberitahukan kepada dunia. “ (Sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular