oleh Wu Xin

Kebijakan satu anak yang diterapkan oleh pemerintah komunis Tiongkok selama lebih dari 30 tahun telah mengakibatkan kematian janin yang tak terhitung banyaknya dan jumlah populasi keluarga yang terus tertekan. Dewasa ini, selain terjadi penuaan masyarakat di daratan Tiongkok yang telah membuat kaum mudanya kewalahan dalam memikul beban yang ada di pundaknya. Di sisi lain angka kelahiran terus menurun dari tahun ke tahun. Pakar Amerika percaya bahwa akibat perubahan struktur demografis ini, pada akhirnya komunis Tiongkok akan kalah dalam persaingannya dengan Amerika Serikat.

Baru-baru ini, media AS ‘Newsmax’ memberitakan, bahwa menurut penelitiannya terhadap berbagai tren statistik, persaingan antara AS dengan Tiongkok akan berakhir karena adanya perubahan struktur demografis kedua negara tersebut. 

Amerika Serikat yang memiliki keunggulan absolut dalam struktur demografis dan penyerapan imigran, pada akhirnya akan membawa Amerika Serikat lebih unggul dalam hal kekuatan ekonomi, kemampuan riil dan keuntungan lainnya dibandingkan dengan Tiongkok yang dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok.

Tiongkok dan AS menghadapi problematik yang sama, siapa yang lebih mampu meraih hidup makmur dan panjang ?

Komunis Tiongkok telah menjadi kekuatan ekonomi dunia dengan pasarnya yang besar, dengan mengandalkan jumlah penduduknya. Kini sedang menghadapi angka kelahiran juga tren imigrasi yang rendah. Jumlah pensiun dan penuaan penduduknya yang bertambah besar, yang tidak akan dalam waktu pendek dapat tergantikan oleh generasi yang lebih muda.

Tim Heath, seorang ahli urusan Tiongkok di ‘RAND Corporation’, dan anggota senior dari tim peneliti pertahanan internasional mengatakan kepada ‘Newsmax’ bahwa ketika populasi Tiongkok menurun dan angkatan kerja yang ada menarik diri dari pasar.  

Pemerintah komunis Tiongkok akan menghadapi dilema keuangan mengenai bagaimana menjaga populasi yang menua. Dia mengatakan : “Masalah di Tiongkok adalah (sebagian besar penduduknya) keburu tua sebelum menjadi kaya”.

Nicholas Eberstadt dari ‘American Enterprise Institute’, telah merilis laporan penelitian pada tahun 2019 yang isinya tentang data demografis Tiongkok pada tahun 2040. 

Menurut laporan tersebut, populasi Tiongkok dengan usia diatas 50 tahun akan bertambah sebanyak 250 juta jiwa antara tahun 2015 hingga 2040. Sementara, penduduk dengan usia di bawah 50 tahun akan berkurang sebanyak angka itu.

Sebuah laporan lainnya menunjukkan bahwa, pada tahun 2017 di daratan Tiongkok, ada 6 orang pekerja berusia 20 hingga 64 tahun yang mendukung kehidupan lansia yang berusia diatas 65 tahun. Namun demikian, pada tahun 2039 nanti, jumlah ini akan menurun menjadi 2 orang, dan menjadi tinggal 1,6 orang pada tahun 2050.

Peneliti lembaga pemikir Amerika, Dean Cheng mengatakan kepada ‘Newsmax’ bahwa karena penerapan kebijakan satu anak, fenomena beban kehidupan dimana seorang pekerja menghidupi kedua orang tuanya dan hingga 4 orang kakek dan neneknya akan segera muncul di daratan Tiongkok. 

Dia mengatakan : “Ini benar-benar akan menjadi masalah yang nyata, dan situasi tersebut hanya akan semakin memburuk seiring dengan pensiunnya orang tua dan kakek nenek mereka”.

Pada saat yang sama, menurut sebuah penelitian yang dirilis oleh ‘Akademi Ilmu Sosial Tiongkok’ pada tahun 2019, disebutkan bahwa pada tahun 2035, dana pensiun nasional utama Tiongkok dan dana pensiun karyawan perkotaan akan habis terkuras. 

Tim Health mengatakan bahwa pemerintah komunis Tiongkok akan menghadapi dilema yang semakin berkembang, yakni tidak memiliki dana lagi untuk merawat populasi tua ini ?

Meskipun populasi Amerika Serikat juga menua, ‘Newsmax’ melaporkan bahwa, dibandingkan dengan negara lain, pada tahun 2030 nanti, AS akan memiliki populasi yang lebih muda. Saat ini, terdapat sekitar 3,5 orang pekerja untuk mendukung kehidupan setiap lansia yang berhak mengikuti jaminan sosial. Pada tahun 2060, angka ini diperkirakan akan menurun menjadi 2,5 orang.

Populasi wanita usia subur di Tiongkok berkurang, populasi menurun dan rakyat miskin

Masalah serupa muncul di sisi lain, yaitu angka kelahiran. “Struktur demografi tahun mendatang telah ditetapkan lewat hari yang telah berlalu”, kata Dean Cheng kepada ‘Newsmax’.

Kebijakan satu anak telah menyebabkan Tiongkok menghadapi penurunan angka kelahiran yang drastis. Di satu sisi, jumlah wanita usia subur telah menurun, dan di sisi lain, tingkat kesuburan dari wanita usia subur juga ikut berkurang.

Menurut sebuah studi yang dilakukan perusahaan database ‘Complete Intelligence’ yang berkecimpung dalam analisis dan demografi global, bahwa jumlah wanita usia subur di daratan Tiongkok (didefinisikan antara usia 15 hingga 49 tahun) akan menurun dari 346 juta orang pada tahun 2018 menjadi 318 juta pada tahun 2023.

Menurut beberapa perkiraan, angka kesuburan di daratan Tiongkok jauh lebih rendah daripada angka kesuburan untuk mempertahankan tingkat populasi, yaitu setiap wanita melahirkan 2,1 orang anak. Menurut perkiraan jumlah anak yang lahir dari setiap wanita di Tiongkok adalah sekitar 1,6 orang, tetapi mungkin juga menurun menjadi 1,18 orang.

‘Newsmax’ yang mengutip laporan prediksi yang diterbitkan jurnal medis ‘The Lancet’, memberitakan bahwa pada tahun 2100, populasi Tiongkok hanya tinggal 732 juta jiwa. Sementara itu, jumlah populasi AS akan meningkat menjadi 336 juta dan menjadi perekonomian terbesar pada tahun 2098. 

“The Grey Rhino” adalah ancaman yang sangat mungkin terjadi dan berdampak besar yang telah diabaikan oleh orang-orang. 

Dr. Susan Yoshihara adalah ketua dari Dewan Amerika Serikat untuk Wanita, Perdamaian, dan Keamanan (American Council on Women, Peace, and Security). Dia menerbitkan sebuah artikel di majalah ‘The Hill’ yang menyebutkan bahwa masalah kepunahan populasi, adalah apa yang disebut sebagai fenomena “The Grey Rhino”. Hal demikian sebagaimana yang dimaksud oleh Michele Wucker dalam bukunya “The Grey Rhino”, sedangkan Beijing tidak tahu bagaimana untuk menghadapinya.

Meskipun pemerintah komunis Tiongkok mencoba untuk mendorong persalinan dengan melonggarkan kebijakan satu anaknya, namun itu tidak menunjukkan hasil. Wang Dan, kepala ekonom ‘Hang Seng China’ mengatakan kepada CNBC : “Secara umum, melonggarkan kebijakan kelahiran tidak akan berdampak banyak pada perekonomian, karena pertumbuhan penduduk yang lambat bukan karena pembatasan kebijakan, setidaknya tidak demikian di masa 20 tahun silam”.

Sekalipun angka kelahiran di Amerika Serikat tidak meningkat secara mencolok, tetapi populasi Amerika Serikat akan bertambah karena penerimaan imigran. 

Data perkiraan sensus menunjukkan bahwa hingga tahun 2030 nanti, populasi kelahiran alami di Amerika Serikat akan meningkat sebesar 1 juta jiwa, dan populasi imigrasi dari berbagai negara akan meningkat sebesar 1,1 juta. Populasi imigrasi ini yang akan menjadikan pendorong utama bagi pertumbuhan populasi Amerika Serikat. Pada tahun 2060, populasi kelahiran alami di Amerika Serikat akan meningkat sebesar 500 ribu jiwa, tetapi masih akan menarik lebih dari 1 juta orang imigran.

Tim Health mengatakan : “Prospek (ekonomi) Amerika Serikat akan lebih baik karena kebijakan imigrasi”.

Ketika berbicara tentang ukuran ekonomi, Tim Health mengatakan bahwa meskipun Tiongkok mungkin memiliki ekonomi terbesar, tetapi itu tidak penting. Dia mengatakan : “Hal yang benar-benar penting bukan hanya seberapa besar ukuran ekonomi suatu negara, tetapi juga seberapa kaya negara itu”.

Amerika Serikat menarik bakat untuk menentukan masa depan

Kebijakan satu anak komunis Tiongkok, juga telah menyebabkan ketidakseimbangan yang serius dalam rasio jumlah pria dan wanita dalam masyarakat. Hal mana menyebabkan beberapa masalah sosial dan mempengaruhi kesehatan masyarakat, militer dan bidang lainnya.

Dean Cheng mengatakan bahwa karena banyaknya pria yang belum menikah dan kurangnya wanita untuk dinikahi, dia percaya bahwa pemerintah komunis Tiongkok memiliki masalah dalam melaporkan jumlah penderita penyakit AIDS. “Tiongkok memiliki ribuan juta anak muda, dan mereka tidak akan pernah menikah”. “Pria yang tidak menganut hubungan monogami dapat pergi mencari para pekerja seks. Ini akan menyebabkan beberapa masalah serius bagi kesehatan masyarakat”, katanya.

Di bidang militer, karena perubahan struktur demografis, warga tidak ingin mengirim putra atau putri tunggal mereka untuk ikut berperang. Hal demikian demi menghindari kematian yang mengakibatkan orang tua dan kakek nenek mereka, terlantar karena tidak ada lagi orang yang merawat.

Selain itu, sejauh ini pihak berwenang komunis Tiongkok belum menghapus sistem pendataan rumah tangga, ini juga menyebabkan pasar bakat Tiongkok tidak bebas dan terbuka.

Adapun Amerika Serikat, para ahli mengatakan bahwa jika Amerika Serikat merumuskan kebijakan imigrasi. Tujuannya, untuk mendorong pekerja paling cerdas di antara pekerja terampil, Amerika Serikat dapat melampaui komunis Tiongkok dalam hal teknologi tinggi dan ekonomi. Namun, mereka memprediksikan bahwa Beijing tidak akan melakukan hal itu. Laporan Nicholas Eberstadt menunjukkan bahwa, migrasi internasional bagi Tiongkok dapat diabaikan dibandingkan dengan populasinya yang besar.

Tim Health mengatakan : “Amerika Serikat memiliki tempat yang menarik untuk bekerja dan tinggal, dan itu menjadi keunggulan bagi AS”. “Amerika Serikat harus mengadopsi metode yang dipikirkan dengan matang dan dirancang dengan baik untuk membawa ke AS ide-ide dunia yang paling luar biasa. Selama bertahun-tahun, ini telah menjadi faktor utama keberhasilan Amerika Serikat”.

Dr. Susan Yoshihara percaya bahwa dilihat dalam jangka panjang, terutama pada tahap persaingan saat ini dengan komunis Tiongkok, Amerika Serikat harus mempertimbangkan untuk mengambil keuntungan dari kelemahan strategis Tiongkok, yaitu penurunan jumlah populasinya yang tidak terkendali.

Akankah di tempat yang rapuh seperti ini gagal mempertahankan bakat akan memperburuk situasinya ?

Brian Sobel, seorang pendukung kebijakan imigrasi legal dan ahli strategi politik yang berbasis di San Francisco memberikan pendapatnya, ia mengatakan bahwa Amerika Serikat akan selalu menjadi lahan subur bagi ide-ide yang brilian, dan imigran memang bisa berhasil di Amerika Serikat. Dia mengatakan kepada ‘Newsmax’ : “Kebijakan imigrasi akan membantu menentukan akan seperti apa suatu negara di abad mendatang”. (Sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular