• Sejumlah besar imigran ilegal membanjiri perbatasan selatan Amerika Serikat. Jumlah anak tanpa pendamping di pusat-pusat penahanan perbatasan telah mencapai “rekor”. Media menyebutkan dengan krisis perbatasan. Sementara Biden menyebutnya sebagai tantangan besar.
  • Beberapa media Amerika mengatakan bahwa anak-anak ini menghadapi kelaparan, kepadatan penduduk dan ketakutan. Kondisi kehidupan mereka mengkhawatirkan.
  • Pemerintah Biden mengumumkan pada Sabtu 13 Maret bahwa mereka telah mengirim pejabat Badan Penanggulangan Bencana Federal (FEMA) ke perbatasan untuk merespon

 oleh He Yating

Pemerintahan Biden pada Sabtu (13/3/2021) mengumumkan bahwa mereka telah menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Federal (FEMA) untuk mengirim personel ke perbatasan barat daya. Langkah itu sebagai tanggapan atas kedatangan “rekor” jumlah imigran gelap dan anak-anak tanpa pendamping.

Pada hari yang sama, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengeluarkan pernyataan. Isinya meminta FEMA untuk membantu menerima dan mentransfer imigran ilegall serta anak-anak tanpa pendamping di perbatasan AS-Meksiko.

Pernyataan tersebut menyatakan bahwa Departemen Keamanan Dalam Negeri AS bekerja sama dengan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS), berharap dapat memindahkan anak-anak tanpa pendamping di daerah perbatasan ke HHS secepatnya. 

Namun demikian, pernyataan tersebut menjelaskan bahwa tugas ini menjadi “sangat sulit”. Dikarenakan kesepakatan dan pembatasan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan masyarakat dan kesehatan anak-anak itu sendiri.

Menurut berita yang dirilis oleh Badan Urusan Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai AS (CBP), pada Februari tahun ini, lebih dari 100.000 imigran ilegal telah ditahan di perbatasan barat daya Amerika Serikat. Jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah penegakan hukum CBP pada Februari tahun lalu. 

Keterangan Foto : Pada 1 Maret 2021, Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Alejandro Mayorkas menyampaikan pidato di jumpa pers Gedung Putih. (Drew Angerer / Getty Images)

Pada Februari tahun ini, terdapat 19.246 keluarga yang melintasi perbatasan secara ilegal. Sedangkan jumlah anak tanpa pendamping mencapai 9.457 orang, Jumlahnya meningkat signifikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, memenuhi fasilitas yang digunakan untuk menampung para imigran gelap di perbatasan.

Lingkaran opini publik AS mulai menyebut gelombang imigrasi ilegal saat ini di perbatasan AS-Meksiko sebagai “krisis”. Pemerintahan Biden menyebut ini sebagai “tantangan besar”.

Menteri Keamanan Dalam Negeri Alejandro Mayorkas, juga mengeluarkan pernyataan baru-baru ini, mendesak para imigran untuk tidak mengambil risiko memasuki Amerika Serikat secara ilegal. 

Dia mengklaim bahwa untuk secara efektif melindungi kesehatan dan keselamatan para imigran dan warga dari COVID-19, individu yang tertangkap di perbatasan akan terus ditolak masuk dan dideportasi.

Sejak Biden menjabat, ia telah menangguhkan larangan perjalanan yang dikeluarkan oleh mantan Presiden Trump terhadap negara-negara dengan kecenderungan teroris. Biden juga menangguhkan pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko. 

Aturan Biden lainnya mengeluarkan rencana imigrasi baru untuk merilis kembali sinyal pelonggaran, termasuk sekitar 11 juta imigran ilegal di Amerika Serikat untuk dinaturalisasi. Hal ini, telah mendorong membanjirnya imigran ilegal yang terus menerus ke perbatasan AS-Meksiko. Hingga menyebabkan kapasitas pusat penahanan perbatasan mengalami  kelebihan beban. Sedangkan jumlah anak tanpa pendamping terus meningkat.

Menurut informasi publik, per 8 Maret, masih ada sekitar 2.600 anak di Pusat Penahanan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS. Mereka menunggu untuk ditempatkan di tempat penampungan yang sesuai untuk anak di bawah umur. Namun, karena tindakan pembatasan epidemi virus Komunis Tiongkok, saat ini hanya ada lebih dari 500 tempat tidur yang tersedia. Pendapat publik prihatin bahwa kebijakan imigrasi dari pemerintahan Biden, dapat menyebabkan krisis baru kemanusiaan dan kesehatan masyarakat. 

CBS melaporkan pada 12 Maret, bahwa sejumlah besar anak-anak yang terdampar di pusat penahanan perbatasan menghadapi kelaparan, berdesak-desakan dan ketakutan. Kondisi kehidupan mereka mengkhawatirkan.

Menurut laporan itu, pengacara seorang pemuda imigran yang ditahan oleh pemerintah AS, baru-baru ini mewawancarai beberapa anak di sebuah pusat penahanan di Texas selatan. Anak-anak yang tidak didampingi wali ini mengatakan bahwa, mereka tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup dan hidup di lingkungan yang penuh sesak. Mereka tidak bisa keluar pada waktu-waktu biasa. Hanya ketika mandi, mereka bisa melihat sedikit sinar matahari melalui kaca kamar mandi, yang bisa memakan waktu hingga seminggu. 

Anak-anak ini ditahan setelah mereka memasuki Amerika Serikat. Sedangkan saudara-saudari mereka ditahan secara terpisah, karena perbedaan jenis kelamin. Anak-anak kecil merasakan ketakutan.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa pusat penahanan, yang baru dibuka bulan lalu, telah kelebihan beban. Terkadang terdapat sebanyak 700 atau 800 anak dikirim ke tempat itu setiap hari. Karena kurangnya kapasitas penerimaan lembaga pemukiman  pengungsi, anak-anak ini telah ditahan di pusat penahanan lebih lama dari jangka waktu resmi selama 72 jam. 

Mereka juga tidak dapat dipindahkan ke lembaga pemukiman pengungsi tepat waktu. Hingga  sama sekali tidak dapat memenuhi social distancing. Diperlukan sejumlah langkah untuk mencegah dan mengendalikan epidemi. Bahkan, beberapa anak telah berada di pusat penahanan selama lebih dari 10 hari.  (hui)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular