oleh Lin Yan

Mantan Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara dengan Maria Bartiromom pembawa acara Fox News pada Selasa (16/3) mengatakan bahwa kebijakan Biden telah menyebabkan harga minyak di AS melonjak hampir $ 1,- yang bahkan lebih menakutkan daripada kenaikan pajak.

“Ketika saya melihat apa yang terjadi, (perlu diketahui) kita tidak bergantung pada energi. (tetapi sekarang) harga bensin kita naik jauh lebih cepat daripada yang kita lihat dalam waktu yang cukup lama di masa lalu”,  kata Trump.

“(di masa lalu) kita menjaga agar harga minyak berada pada tingkat yang sangat rendah, dan pada saat yang sama, kita menciptakan lebih banyak lapangan kerja di industri energi daripada waktu-waktu sebelumnya,” imbuhnya. 

Trump percaya bahwa naiknya harga minyak setara dengan menambahkan beban “pajak” yang lebih memberatkan rakyat, yang akan lebih serius daripada konsekuensi dari Biden dan partai Demokrat yang mengupayakan kenaikan pajak besar-besaran.

“Harga minyak akan naik $ 1,- $ 2,- $ 3,- dan ketika Anda melihat hal ini, (Anda akan paham) itu akan berdampak lebih besar pada konsumen daripada kenaikan pajak”, kata Trump.

“Kenaikan $ 1,- harga bensin berdampak lebih besar daripada kenaikan pajak yang substansial. Jadi (melonjaknya harga gas) ini adalah hal mengerikan yang sedang terjadi,” ujarnya. 

Trump juga memperkirakan bahwa orang-orang Partai Demokrat akan menaikkan pajak ke “jumlah tertinggi yang pernah ada di Amerika Serikat”, itu akan “merusak” perekonomian.

Pertumbuhan permintaan melebihi pasokan, harga minyak akan tetap tinggi di masa mendatang

Jay R. Young, CEO dari operator minyak dan gas ‘King Operating Corporation’ yang berbasis di Dallas menyebutkan dalam email yang dikirimkan ke media ‘Epoch Times’ : Harga rata-rata minyak nasional mungkin akan mencapai $ 3,- per galon sebelum Memorial Day dan tetap berada di sekitar harga tersebut pada sebagian besar musim panas tahun ini.

Young menjelaskan bahwa alasan kenaikan harga minyak adalah pulihnya permintaan, tetapi pasokannya bermasalah. Di sisi pasokan minyak, jumlah peralatan pengeboran minyak di AS yang masih aktif beroperasi berkurang sebanyak hampir 50% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Dalam jangka panjang, karena pertumbuhan permintaan jauh melebihi pertumbuhan pasokan, maka harga minyak akan tetap tinggi di masa mendatang. Sementara itu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kecuali Rusia dan Kazakhstan, pada 4 Maret telah menyetujui untuk tidak meningkatkan produksi minyak sebelum bulan April. Di bulan April tahun lalu, OPEC setuju untuk memangkas produksi minyak sebesar 10 juta barel per hari untuk mencegah jatuhnya harga minyak karena COVID-19 dan penurunan permintaan .

Kebijakan Biden mencekik industri energi tradisional AS

Pada hari pertama Biden menjabat, ia langsung menghentikan proyek pipa minyak kerjasama AS – Kanada ‘Keystone XL’ , padahal komitmen dari proyek tersebut adalah sepenuhnya menggunakan energi terbarukan sebelum tahun 2030, dan mencapai emisi nol bersih selama proyek beroperasi.

Pada 7 Januari, Biden kembali menandatangani perintah eksekutif untuk menangguhkan penerbitan izin sewa minyak dan gas baru di Amerika Serikat. Perintah eksekutif Biden menetapkan bahwa “sedapat mungkin, penandatanganan kontrak minyak dan gas baru di tanah publik atau perairan pesisir harus ditangguhkan”, dan mulai memberlakukan pengetatan terhadap semua sewa dan izin yang ada kaitannya dengan pengembangan bahan bakar fosil di tanah dan perairan milik publik.

Partai Republik mengkritik kebijakan terkait energi Biden karena menghambat industri energi tradisional, dan pada saat yang sama memperburuk ketergantungan AS pada impor energi dan merugikan perekonomian.

Mike Kelly, anggota DPR dari Partai Republik Pennsylvania mengatakan dalam Konferensi Liga Konservatif Amerika Serikat (CPAC) pada 28 Februari bahwa energi yang melimpah tidak hanya dapat membuat energi Amerika Serikat menjadi mandiri, tetapi juga menjadikan Amerika Serikat sebagai pengekspor energi terbesar di dunia dan membantu Amerika Serikat membangun hubungan global yang lebih kuat.

Terhadap praktik Biden yang menangguhkan pengembangan energi Trump dan mengeksplorasi apa yang disebut industri energi baru, Mike Kelly mengatakan bahwa masyarakat berpenghasilan rendahlah yang paling rentan terhadap masalah seperti kenaikan harga BBM, listrik dan lainnya.

“Gagasan bahwa (kebijakan) ini akan memberi mereka keuntungan adalah tidak masuk akal”, katanya. “Jika Anda tinggal di daerah pedesaan, Anda akan tahu (kebijakan) ini benar-benar gila”. (sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular