Erabaru.net. Pada 28 Juli 1976 pukul 03.42 waktu Beijing, saat penduduk Kota Tangshan, Provinsi Hebei, Tiongkok, masih terlelap dalam buaian mimpi indah mereka, tiba-tiba, bumi berguncang dan Tangshan nyaris luluh lantak dalam hitungan detik. Dalam gempa berkekuatan 7,8 skala Richter itu, sebanyak 650.000 rumah hancur, 240.000 orang tewas, 160.000 luka berat, 4.200 anak seketika menjadi yatim piatu, dan kerugian ekonomi langsung mencapai RMB 3 miliar atau sekitar Rp. 6,3 triliun, kurs sekarang. Data-data itu menurut data resmi yang dimiliki Partai Komunis Tiongkok. Akan tetapi, tak ada yang tahu berapa angka pastinya. 

Dalam waktu yang relatif pasca gempa dahsyat itu, orang-orang di seluruh negeri masih trauma dengan bencana itu. Namun, banyak orang yang ditarik kembali dari maut oleh tim medis dan penyelamat dalam bencana itu. 

Lebih dari sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1987, Profesor Feng Zhiying  kepala Rumah Sakit Tianjin Anding, mendapatkan anggaran khusus dari Dewan Negara dan rekannya Profesor Liu Jian  secara acak mewawancarai 100 orang yang selamat dari Gempa Bumi Tangshan untuk melakukan Survei pengalaman menjelang ajal. Sekitar 81 data yang valid diambil dari 100 korban selamat yang diwawancarai.

 Setelah itu, kedua profesor tersebut menerbitkan laporan penelitian pertama tentang pengalaman menjelang ajal. Hari ini, mata ketiga akan membahas tentang dunia setelah kematian yang dialami para korban selamat dari  gempa Tangshan dan apakah ada hantu atau dewa di dunia ini.

 Makalah Profesor Feng Zhiying dan Profesor Liu Jianxun pertama kali diterbitkan di Chinese Journal of Psychiatry pada tahun 1992.

Sebanyak 19 dari 100 orang yang diwawancarai pada awal periode, tidak dapat mengingat masa lalu karena informasi yang tidak lengkap atau trauma yang luar biasa selama wawancara, sehingga tidak mengingat lagi masa lalu, dan 19 kasus ini pun dieliminasi dari penelitian.

Sampai akhirnya diperoleh 81 sampel yang valid, terdiri dari 43 laki-laki dan 38 perempuan dengan usia rata-rata 31 tahun, dan empat kasus anak di bawah umur di bawah usia 18 tahun. 

Di antara mereka, 76 orang mengalami kelumpuhan permanen dalam bencana tersebut, 54 di antaranya lumpuh total, artinya korban selamat yang diwawancarai adalah para korban yang mengalami luka berat akibat gempa.

 Seorang gadis bermarga Liu yang berusia 23 tahun, saat gempa bumi, ruas tulang pinggangnya cacat tertimpa reruntuhan dan lumpuh selamanya. Dia menceritakan pengalaman menjelang ajal sebelum diselamatkan.

 Menurut ingatan sekilasnya saat ditimpa reruntuhan, “dia sama sekali tidak merasakan takut, sebaliknya pikirannya sangat jernih, kemampuan berpikir bertambah cepat, kenangan mengenai masa lalunya terus menari-nari dalam benaknya, pemandangan dan suasana ceria bercanda riang dengan teman-temannya semasa kecil, indahnya kenangan cinta pertama saat berpacaran.

Pada hari pertama kerja, dia mendapatkan penghargaan dari atasan, seakan-akan semua kebahagiaan dalam hidupnya itu menyatu di momen yang singkat itu.

Hingga kini, rasa bahagia yang kental yang belum pernah terjadi sebelumnya itu selalu membuat Liu tersenyum ceria tanpa sadar saat terlintas dalam benaknya, dan justru karena rasa bahagia ini yang membuatnya tegar untuk bertahan hidup.

 Sementara itu, Li, seorang anak petani berusia 12 tahun pada saat gempa bumi, memiliki pengalaman yang sama sekali berbeda dari Liu. Ketika itu, tulang belakangnya tertimpa tiang rumah yang roboh, sehingga tidak bisa bergerak. Tiba-tiba dia merasa seolah-olah berada ke kamar mayat dan dikelilingi oleh sesuatu. Entah manusia atau hantu. Selanjutnya, tubuhnya mulai melayang dan bagian anggota tubuh lainnya mulai tersebar di udara, dan sekelilingnya perlahan-lahan menjadi gelap gulita. Tidak tampak seberkas cahaya pun, dan sayup-sayup terdengar suara asing yang tak bisa digambarkan olehnya.

 Saat itu, pegawai bank berusia 28 tahun, Wang tersentak bangun oleh suara keras dalam tidurnya, selanjutnya atap langit-langit rumahnya jatuh dan menimpa dadanya. Anggota badannya seakan lumpuh tidak bisa bergerak saat ingin bangkit. Bahkan, lidahnya menjadi kelu tidak bisa berteriak bersamaan dengan itu,  pandangan matanya perlahan-lahan menjadi kabur, seperti memasuki dunia lain…selanjutnya dia tidak bisa mengendalikan dirinya sama sekali, mengikuti pria aneh ini ke dalam gua yang gelap dan tak berdasar, dan di ujung gua yang gelap itu tampak sebuah istana bawah tanah yang megah .

Pria itu menyuruhnya menunggu sebentar di istana, dan setelah beberapa saat, terdengar suara yang berwibawa dari dalam, berkata: belum waktunya kamu ke sini, pulanglah ke dunia mu… Ketika dia membuka matanya, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit.

Para dokter dan perawat yang menyelamatkannya berdiri di sekeliling ruangannya, seolah-olah sedang bermimpi. Bertahun-tahun kemudian, gadis itu masih ingat dengan jelas tentang pengalaman seperti mimpi ini, terutama istana megah yang dilihatnya. Dia pikir itu kemungkinan besar adalah istana di alam barzah.

Yang lebih menarik sebagian besar orang menyadari atau merasakan roh memisahkan diri, dan merasakan wujud diri telah lepas dari jasad diibaratkan dengan “roh keluar dari tubuh”.

 Mereka menitikberatkan bahwa perasaan fungsional sendiri berada di ruang di luar tubuh, bukan pada otak besar, dan berpendapat tubuh fisiknya (biologis) tanpa vitalitas hidup dan pikiran. Bahkan, ada yang mengatakan, di luar tubuh fisik terlihat wujud sendiri melayang di langit-langit.

Wujud diri di luar tubuh ini juga mempunyai tanda kehidupan tertentu, seperti, denyut nadi, napas dan sebagainya. Kadang kala masih bisa kembali ke tubuh fisik sendiri, atau saling berhubungan dengan cara tertentu, dibandingkan beratnya lebih ringan, namun tinggi badan dan usia sama.

 Ada juga yang mengatakan bahwa, tubuh fisiknya tidak sehat sempurna, seperti tuli atau cacat anggota badan dan sebagainya, namun tubuh yang bukan sebenarnya itu malah tidak kekurangan ini. Yang dilukiskan sebagai berikut: “Saat itu tubuh terasa terbagi dua, satu terbaring di ranjang hanya berupa jasat yang kosong, sedangkan satunya lagi adalah wujud tubuh sebenarnya, lebih ringan dari udara, melayang-layang, sangat nyaman.”

 Profesor Feng Zhiying dan Liu Jianxun menstatistik gambaran menjelang ajal dari mereka menjadi 40 kategori yaitu kilas balik kehidupan, pemisahan jasad dan alam sadar, kehilangan bobot, perasaan asing pada tubuh, perasaan luar biasa pada tubuh, perasaan dunia berhenti dan hancur, menyatu dengan alam semesta, serasa waktu berhenti dan sebagainya.

Kebanyakan orang yang diwawancarai, dapat mengalami dua pengalaman atau lebih. Yang mengejutkan, kedua profesor tersebut adalah bahwa temuan mereka sangat mirip dengan hasil penelitian sejumlah negara Barat tentang pengalaman menjelang ajal, artinya, pengalaman semacam itu tidak sebatas pada ras, bahasa, dan kepercayaan agama seseorang. Dilihat dari dari satu sisi, mungkinkah hal ini membuktikan bahwa kehidupan setelah kematian itu benar-benar ada?

 Teori pengalaman menjelang ajal pertama kali dicetuskan oleh Profesor Raymond A. Moody dari University of Nevada dalam bukunya “Near-death experience”

 Profesor Moody mendefinisikannya sebagai rangkaian pengalaman unik dalam kondisi mati klinis di mana jantung berhenti berdetak dan hilangnya gelombang otak.

 Sekitar tahun 1970-an, Profesor Moody memilih 50 kasus dari 150 pengalaman menjelang ajal untuk penelitian mendalam. Kemudian pada tahun 1975, Profesor Moody menerbitkan buku Life After Life. Buku ini kemudian menjadi dasar dari studi tentang pengalaman menjelang ajal. 

 Pada tahun 1978, International Association for Near Death Studies, (IANDS)–Explore the Extraordinary secara resmi didirikan  untuk mempelajari makna kehidupan dan fakta kematian. Objek pengalaman menjelang ajal yang sering dipelajari oleh Profesor Moody secara kasar dapat dibagi menjadi dua kategori.

Pertama, mereka yang dinyatakan meninggal dunia secara klinis, tetapi kemudian hidup kembali.

Kedua, adalah mereka yang terluka parah dalam suatu kecelakaan dan sekarat. Profesor Moody melakukan penelitian mendalam terhadap 50 kasus ini dan menyimpulkan beberapa elemen utama dari pengalaman menjelang ajal.

Pertama adalah suara. Saat meninggal dunia, dapat mendengar vonis dokter, juga ada yang mendengar suara yang tak dapat digambarkan.

Selain itu juga mendengar suara musik yang sangat merdu. Kedua adalah mengamati tubuh sendiri. Ini serupa dengan pemisahan kesadaran dan tubuh dalam pengalaman menjelang ajal pada gempa bumi Tangshan. Ketiga adalah terowongan gelap.

 Seringkali, mereka yang mengalami sekarat akan memasuki ruang gelap, mungkin berupa gua, ngarai atau bahkan selokan atau cerobong asap. Di dalam terowongan gelap, terkadang diiringi beberapa suara, semua ini identik dengan laporan pengalaman menjelang ajal korban gempa bumi Tangshan tersebut di atas.

Keempat, bertemu dengan kerabat dan teman-teman yang sudah meninggal.

Kelima, melihat bentuk kehidupan yang bercahaya. Kehidupan bercahaya ini terlihat mendekat dari jauh , dari yang samar-samar menjadi sangat terang.

 Cahaya ini tidak akan membuat orang merasa tidak nyaman bahkan bisa merasakan kehangatan cahaya. Mereka yang berbeda keyakinan (agama) memiliki persepsi yang berbeda tentang jiwa yang bercahaya. Misalnya, orang Kristen mengaggap itu adalah cahaya Yesus Kristus, sedangkan orang Yudaisme menganggapnya sebagai cahaya malaikat.

 Sementara mereka yang tidak memiliki keyakinan agama menganggapnya sebagai sebuah wujud kehidupan yang bercahaya. Setelah itu, korban menjelang ajal akan berkomunikasi dengan wujud kehidupan bercahaya, tetapi komunikasi ini tidak melalui suara melainkan melalui komunikasi pikiran dan kesadaran. 

Keenam, adalah mengingat kembali kehidupan. Ditemukan, baik itu studi tentang pengalaman menjelang ajal di Tiongkok atau negara-negara Barat. Mengingat kembali kehidupan adalah tautan frekuensi yang sangat tinggi, tetapi mengingat kembali kehidupan seperti ini tidak dalam waktu yang lama, sebaliknya sering kali berlangsung  dalam sekejap.

 Ketujuh, mereka yang sekarat (menjelang ajal) akan merasakan pembatasan. Batasan ini berupa gerbang, pagar dan sungai, atau bahkan jembatan dan lain sebagainya.

Seringkali ketika seseorang yang sekarat ingin menyeberang batas ini, akan ditarik kembali oleh kekuatan yang tak terlihat. Bagi sebagian korban yang sekarat bahkan mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak ingin kembali lagi, tetapi pada akhirnya mereka juga tidak tahu kenapa bisa kembali lagi.

 Apakah eksistensi jiwa hanyalah suatu mitos? Apakah jiwa akan tetap ada setelah kematian? Jika ya, apakah mungkin untuk mengalami ‘hidup’ setelah tubuh fisik ini mati?

Para ilmuwan dan peneliti telah berusaha untuk menjawab pertanyaan ini selama bertahun-tahun. Beberapa orang mengatakan bahwa dari sisi ilmiah, kehidupan setelah meninggal adalah tidak mungkin: satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah bertanya kepada mereka yang pernah mengalami kematian.

Beberapa dokter seperti dr Raymond Moody, dr Ken Ring, dan dr Bruce Greyson memiliki pasien yang mengalami: hidup kembali dari kematian. Sesudah mendokumentasikan pengalaman pasien-pasien ini, para dokter sekarang percaya bahwa ada bukti tentang eksistensi jiwa dan kehidupan setelah kematian.

Dr. Moody telah mengadakan penelitian terhadap lebih dari seratus kasus “mati klinis” dan hidup kembali. Studi klasik ini telah menobatkan dirinya sebagai sesepuh dunia di bidang pengalaman menjelang kematian. “Life after Life (Kehidupan setelah Kehidupan)” telah mengubah pandangan kita terhadap hidup dan kematian.

Salah satu ringkasan penjelasannya dari pengalaman menjelang kematian adalah “suatu sensasi melayang dan ketidakterhubungan dengan tubuh fisik kita”.

 Ia melanjutkan bahwa “jiwa melihat tubuh tanpa kehidupan dari sudut langit-langit; dan perasaan tenang dan hening mendominasi pada saat waktu berhenti. Jiwa merasa ditarik ke terowongan gelap dengan cahaya putih berkilauan di ujungnya.

Saat kita memasuki cahaya putih, orang yang kita cintai atau tokoh religius akan menyambut kita, dan kita akan melihat gambaran berwarna dari kilas kehidupan yang telah dilalui.” Menakjubkan, banyak orang dari berbagai belahan dunia telah mengalami hal yang persis sama. Sesudah mengalami pengalaman menjelang kematian, orang itu akan lebih menghargai kehidupan, mementingkan hubungan personal, dan lebih gigih dalam usaha mencapai tujuan.

Dr Moody menjelaskan, ada seorang wanita tunanetra yang dengan tepat mendeskripsikan peralatan yang dipergunakan, saat ia dioperasi karena serangan jantung, “sampai ke warna-warnanya”.

Kenyataan bahwa wanita ini telah buta selama lima puluh tahun, meyakinkan adanya pengalaman menjelang kematian.

Moody juga melaporkan sebagian orang dengan pengalaman menjelang kematian, dimana mereka enggan untuk kembali setelah meninggalkan tubuh fisiknya. Beberapa pasien bahkan marah kepada para dokter yang membawa mereka kembali. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa mereka pasti mengalami pengalaman yang sangat berkesan!

 Dr. Ken Ring adalah seorang profesor psikologi di Universitas Connecticut, ia mengemukakan lima tahapan tentang pengalaman menjelang ajal berdasarkan hasil penelitian Profesor Moody.

Pada tahap pertama, akan ada rasa ketenangan pada saat kematian. 

Tahap kedua, akan merasakan jiwa terpisah dari tubuh 

Tahap ketiga, akan memasuki keadaan gelap

Tahap keempat, melihat cahaya

Tahap kelima, memasuki cahaya.

Namun, tidak semua korban menjelang ajal akan melalui lima tahapan ini, dan rincian yang dapat mereka ingat bervariasi sesuai dengan kedalaman pengalaman mereka saat menjelang ajal.

Dalam 20 tahun terakhir, laporan akademis tentang pengalaman menjelang ajal telah diterbitkan di banyak jurnal terkemuka. Jadi apakah dunia setelah kematian itu benar-benar ada?

 Dr. Ken Ring telah mendokumentasikan 102 -NDE-Near-death experience atau pengalaman menjelang kematian. Dalam risetnya yang terakhir termasuk NDE dari seorang tunanetra, dan penemuannya dapat dibaca pada bukunya “Mindsight (Penglihatan Pikiran)”.

 Buku-bukunya terdahulu termasuk “Life at Death (Hidup saat Kematian)”, “Lessons from the Light (Pelajaran dari Cahaya)”, “Heading toward Omega (Menuju ke Omega)”, dan “The Omega Project (Proyek Omega)”. Dr Ring meriset NDE, termasuk orang yang menyaksikan keluarnya roh dari tubuh fisik, dan ini telah dibuktikan kebenarannya. Ia juga telah meneliti NDE yang mengonfirmasikan adanya reinkarnasi.

 Pada abad ke-17, filsuf Prancis Descartes atau Renatus Cartesius  mengemukakan dualisme yakni pandangan tentang hubungan antara budi/jiwa dan materi (atau tubuh), bahwa dunia terbagi menjadi purusha (budi/jiwa) dan prakriti (substansi materi). Filosofi ini menyatakan bahwa mental dapat berada di luar tubuh, dan tubuh tidak dapat berpikir. Mereka eksis dan berkembang secara independen satu sama lain, tidak ada yang saling mempengaruhi. Materialisme yang diterima secara luas dan dualisme saat ini pada dasarnya berbeda.

Materialisme percaya bahwa materi adalah yang pertama, seperti otak, dan kesadaran adalah yang kedua, seperti fenomena yang muncul dalam sistem saraf otak yang kompleks. Orang-orang yang percaya pada materialisme, percaya bahwa asal mula dunia adalah materi, dan segala sesuatu berasal dari materi. Segala sesuatunya memiliki hukum tetap dan hukum ini objektif dan tidak bergeser oleh kesadaran subjektif seseorang.

Pada tahun 1994, Stuart Hameroff, Profesor Anestesiologi dan Psikologi di Arizona State University  dan fisikawan Inggris Roger Penrose  bersama-sama menerbitkan sebuah buku berjudul Shadow of the Mind / Bayangan pikiran. 

Dalam buku tersebut, keduanya secara bersama-sama menyatakan bahwa kehendak manusia seperti komputer kuantum di otak. Setelah kematian, program ini tidak akan hilang, tetapi akan kembali ke alam semesta.

Ini adalah penjelasan yang memungkinkan terkait pengalaman menjelang ajal dari perspektif fisika. Kedua profesor tersebut percaya bahwa jiwa manusia adalah proses kuantum yang berasal dari neuron dan berada dalam struktur mikrotubulus sel otak. Ini berbeda dari gagasan tradisional bahwa kesadaran adalah produk dari koneksi neuron dalam otak.

Stuart dan Roger percaya bahwa aktivitas kesadaran manusia adalah hasil dari efek gravitasi kuantum di mikrotubulus sel saraf otak.

 Jiwa dan kesadaran adalah komponen dasar alam semesta. Setelah kematian, jantung berhenti berdetak dan darah berhenti mengalir. Meskipun mikrotubulus sel telah kehilangan status kuantumnya, namun informasi kuantum di dalamnya tidak hancur, juga tidak akan musnah.

Informasi kuantum akan meninggalkan fisik, kembali ke alam semesta. Ini adalah keadaan Cogito ergo sum, artinya: “aku berpikir maka aku ada”. Maksud dari kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri.

Kita kembali ke pertanyaan awal, apakah akan ada dunia lain setelah kematian? Apakah dewa itu eksis ?

Bertahun-tahun yang lalu, seorang sarjana ateis berkata dalam pidatonya bahwa tidak ada dewa di dunia ini. ia bahkan dengan nada menantang berseru di podium bahwa jika memang dewa itu eksis, binasakan saja saya sekarang!

Usai berkata, ia dengan sengaja menunggu beberapa menit, dan sudah diduga tidak terjadi apa-apa. Kemudian, dengan bangga, ia berkata kepada hadirin, “benar kan! Yang namanya Dewa itu sama sekali tidak ada !”

 Saat itu, seorang wanita tua di antara hadirin berdiri perlahan dan berkata kepada si sarjana, tuan, Anda sangat logis dan sekilas tampak orang yang terpelajar, tetapi bisakah tuan menjelaskan kepada saya…. wanita tua itu berkata dengan santai, selama ini saya selalu percaya dewa itu ada, dan perlahan-lahan memberi pencerahan pada saya.

Ia memberi rasa ketenangan hati saat saya merasa takut. Membuat saya bahagia, ketika saya sedih, dan saya juga selalu ingat akan ajarannya untuk mengulurkan tangan /memberi bantuan ketika orang lain membutuhkan bantuan, menyebarkan kebaikan, karena saya percaya dewa itu ada, maka hidup saya menjadi lebih bahagia, tetapi jika suatu hari saya mati, dan setelah kematian, saya mendapati ternyata dewa itu tidak ada sama sekali, dan ajarannya itu juga tidak ada, lalu apa yang hilang dalam hidupku, tuan?

Suasana seketika menjadi hening sesaat. Sang sarjana berpikir sejenak dan berkata, Saya rasa Anda tidak kehilangan apa pun. Wanita tua itu kemudian melanjutkan, satu lagi saya yang juga membuat saya bingung. . . Jika saya tidak percaya pada dewa, tetapi setelah saya mati, saya mendapati dewa itu ternyata memang benar-benar ada.

 Karma/ balasan atas perbuatan semasa hidup di dunia, surga, neraka, dan reinkarnasi itu semuanya juga ada. Lalu, apa yang hilang dari ku ? Sarjana itu seketika diam membisu.

Di penghujung program, mata ketiga juga akan menyampaikan, bahwa dalam banyak kasus yang pernah kita saksikan di masa lalu, kaum hawa/wanita selalu berada dalam posisi sebagai korban, namun dalam suatu kasus justeru menjadi pelaku yang bernasib malang. (jon/asr)

 Sumber : Berbagaisumber

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular